Harga minyak dunia melonjak tajam pekan ini. Minyak mentah Brent ditutup naik 4 persen ke US$113,17 per barel pada Kamis (22/10/2026), level tertinggi sejak 4 Mei 2026. Minyak acuan AS, WTI, ikut menguat 2,4 persen ke US$99,47 per barel.

Pemicunya bukan permintaan yang meledak, melainkan kekhawatiran pasokan. Serangan kelompok Houthi (Ansarullah) terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi membuat pasar gelisah, dan gejolak di Timur Tengah itu kini merambat sampai ke APBN Indonesia. Begini rantai sebab-akibatnya, lengkap dengan angkanya.

Pompa minyak di tengah ketegangan Timur Tengah

Kenapa Minyak Tiba-Tiba Mahal?

Ada tiga pemicu yang bekerja bersamaan. Pertama, serangan pesawat nirawak (drone) terhadap ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco. Serangan yang menewaskan dua orang itu terjadi setelah Houthi mengumumkan rencana menyerang infrastruktur minyak Arab Saudi di Yanbu dan Bandara Dammam. Dalam 48 jam, Ansarullah disebut melancarkan empat serangan rudal dan drone ke Arab Saudi.

Kedua, responsnya ikut memperbesar kekhawatiran. Amerika Serikat memerintahkan sebagian personel dan keluarganya meninggalkan misi diplomatik di Arab Saudi, sementara Saudi Aramco mengevakuasi kantor pusatnya di Dhahran. Sinyalnya jelas: pasar menilai risiko gangguan pasokan bukan lagi sekadar wacana.

Ketiga, bayang-bayang konflik yang lebih besar. Analis Ritterbusch and Associates yang dikutip Reuters menyebut pasar menambah "premi risiko yang signifikan" di tengah pembicaraan mengenai kemungkinan serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Selama risiko itu belum reda, harga minyak sulit turun jauh.

Empat Jalur Minyak Mahal Sampai ke Dompet Kita

1. Beban subsidi dan kompensasi energi membengkak. Indonesia adalah pengimpor bersih minyak. Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan, ketika harga minyak mentah internasional melesat di atas asumsi makro APBN, kebutuhan belanja negara untuk subsidi BBM dan LPG serta kompensasi energi otomatis berlipat. Setiap kenaikan Indonesian Crude Price (ICP) disebut memperlebar defisit APBN. Artinya, ruang fiskal untuk belanja lain, dari bansos sampai infrastruktur, ikut tertekan.

SPBU Pertamina di Indonesia

2. Rupiah ikut tertekan. Impor energi yang lebih mahal berarti kebutuhan dolar AS meningkat, dan itu menekan rupiah. Pada Jumat (23/10), rupiah ditutup melemah 20 poin (0,11%) ke Rp18.080 per dolar AS dari Rp18.060. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan itu dipengaruhi langsung oleh lonjakan harga minyak global. Ibrahim memperkirakan rupiah masih fluktuatif dan cenderung melemah pada Senin (26/10) di rentang Rp18.080-Rp18.130.

3. Inflasi bisa ikut naik. Minyak mahal menaikkan biaya transportasi dan logistik, yang ujungnya merembes ke harga barang. Data BPS mencatat inflasi September 2026 sebesar 3,28% secara tahunan. Jika harga energi bertahan tinggi, tekanan ke harga kebutuhan pokok, termasuk inflasi pangan, bisa makin berat.

4. Neraca dagang ikut terbebani. Kenaikan impor minyak menambah kebutuhan valuta asing dan berpotensi menggerus surplus perdagangan. Sebagai gambaran, neraca perdagangan Agustus 2026 masih surplus US$3,55 miliar, tetapi lonjakan tagihan impor energi jelas bukan kabar baik untuk angka itu.

Angka-Angka Penting yang Perlu Diketahui

Brent: US$113,17/barel (+4%, +US$4,35 dalam sehari) — tertinggi sejak 4 Mei 2026. WTI: US$99,47/barel (+2,4%, +US$2,32). Rupiah: Rp18.080/USD (tutup Jumat 23/10), melemah 0,61% sepanjang Oktober menurut Bank Indonesia. Cadangan devisa: US$146,3 miliar per akhir September 2026, setara 5,3 bulan impor. Arus modal asing: net inflows US$660 juta hingga 19 Oktober 2026, ditopang SRBI dan SBN.

Barel minyak mentah

Angka terakhir ini penting sebagai penyeimbang: BI menilai ketahanan eksternal Indonesia masih kuat. Cadangan devisa jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor, dan aliran modal asing masih masuk bersih. Tekanannya nyata, tetapi fondasinya belum jebol.

Apa yang Perlu Diwaspadai ke Depan?

Arah harga minyak akan sangat bergantung pada empat hal: perkembangan konflik AS-Iran, intensitas serangan terhadap fasilitas energi Arab Saudi, keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, dan kemampuan produsen utama menjaga pasokan global. Selama keempatnya belum mereda, risiko harga bertahan tinggi tetap ada.

Bagi masyarakat, pesan praktisnya: belum ada sinyal kenaikan harga BBM subsidi dalam waktu dekat, tetapi APBN yang menanggung selisihnya. Kalau konflik berkepanjangan, tekanannya akan terasa lewat rupiah yang lebih lemah dan biaya logistik yang merangkak naik.

Tanya Jawab

Apakah harga BBM di SPBU akan naik?

Sampai saat ini belum ada pengumuman penyesuaian harga BBM subsidi. Namun, kenaikan harga minyak dunia di atas asumsi APBN otomatis menambah beban subsidi BBM dan LPG serta kompensasi energi yang ditanggung negara, menurut analis Ibrahim Assuaibi.

Kenapa Indonesia ikut terkena padahal konfliknya jauh?

Karena Indonesia adalah pengimpor bersih minyak. Ketika harga internasional naik, tagihan impor energi naik, kebutuhan dolar AS bertambah, rupiah tertekan, dan biaya logistik domestik ikut naik.

Seberapa tinggi sebenarnya kenaikan kali ini?

Brent naik US$4,35 atau 4% dalam sehari ke US$113,17 per barel pada 22 Oktober 2026, level tertinggi sejak 4 Mei 2026. WTI naik US$2,32 atau 2,4% ke US$99,47 per barel.

Apa kata Bank Indonesia?

BI mencatat rupiah melemah 0,61% sepanjang Oktober 2026, tetapi menilai ketahanan eksternal tetap kuat dengan cadangan devisa US$146,3 miliar per akhir September 2026 dan arus modal asing yang masih masuk bersih.

Apa yang menentukan harga minyak selanjutnya?

Perkembangan konflik AS-Iran, intensitas serangan ke fasilitas energi Arab Saudi, keamanan Selat Hormuz, dan kemampuan produsen utama menjaga pasokan global.

Sumber: ValidNews, Investor.id, BsiNews.id, Gamkonomi, Bloomberg Technoz, AI Invest Desk, Sinergi Update.