Masa penawaran Savings Bond Ritel seri SBR015 resmi ditutup kemarin, 22 Oktober 2026. Bagi yang sempat ikut, selamat: kupon 6,75 persen (tenor 2 tahun) dan 6,85 persen (tenor 4 tahun) yang ditawarkan pemerintah adalah yang tertinggi sejak 2020. Bagi yang ketinggalan, jangan buru-buru kecewa. Seri berikutnya, Sukuk Tabungan ST017, dijadwalkan menyusul pada 6 November hingga 2 Desember 2026.

Pertanyaannya klasik dan selalu relevan: dengan kupon setinggi itu, masih masuk akal menyimpan uang di deposito bank? Artikel ini membandingkan SBR015 vs deposito secara head-to-head: imbal hasil bersih setelah pajak, likuiditas, risiko, dan profil investor yang cocok untuk masing-masing. Semua angka di bawah memakai data resmi, bukan perkiraan.

Ilustrasi perbandingan investasi SBR015 dan deposito bank

Angka intinya: SBR015 unggul sekitar dua kali lipat

Mari langsung ke simulasi. Dengan dana Rp10 juta, begini perbandingannya dalam setahun:

SBR015 tenor 2 tahun (SBR015T2): kupon bruto 6,75 persen per tahun. Setelah dipotong PPh final 10 persen, imbal hasil bersihnya 6,075 persen. Artinya Rp10 juta menghasilkan sekitar Rp607.500 per tahun, atau sekitar Rp50.600 per bulan.

SBR015 tenor 4 tahun (SBR015T4): kupon bruto 6,85 persen, bersih 6,165 persen setelah pajak 10 persen. Rp10 juta menghasilkan sekitar Rp616.500 per tahun.

Deposito bank: sebagai pembanding, bunga deposito bank-bank besar per September 2026 berada di kisaran 2,75-3 persen per tahun (BCA 3 persen untuk tenor 3-12 bulan, BRI 2,75 persen, BNI 3 persen untuk tenor 6 bulan). Bunga deposito kena PPh final 20 persen, jadi bunga 3 persen bruto hanya menghasilkan bersih 2,4 persen. Rp10 juta di deposito 3 persen menghasilkan sekitar Rp240.000 per tahun, atau Rp20.000 per bulan.

Selisihnya jelas: kupon bersih SBR015 sekitar 2,5 kali lipat bunga bersih deposito bank besar. Bahkan jika bank menaikkan bunga deposito menyusul keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga deposit facility menjadi 5 persen pada RDG 20-21 Oktober 2026, mengejar 6 persen bersih dari deposito bukan perkara mudah. Kenaikan deposit facility belum tentu diteruskan bank ke bunga simpanan nasabah, karena keputusan itu bergantung pada kebutuhan likuiditas masing-masing bank. (Baca juga: BI Rate Ditahan 5,75%, Bunga Deposito Naik? Ini Dampaknya)

Perbandingan imbal hasil SBR015 dan deposito bank

Pajak: 10 persen vs 20 persen, bedanya terasa

Ini faktor yang sering luput. Kupon SBN ritel dikenai PPh final 10 persen, sedangkan bunga deposito dikenai PPh final 20 persen. Artinya, untuk imbal hasil bruto yang sama pun, SBN ritel selalu menang bersih. Dalam simulasi Rp100 juta versi Bareksa: SBR015T2 menghasilkan kupon bersih Rp506.250 per bulan, sementara deposito Rp100 juta berbunga bruto 3,75 persen hanya menghasilkan sekitar Rp250.000 per bulan secara ekuivalen.

Likuiditas: di sinilah deposito membalas

Keunggulan SBR015 di imbal hasil dibayar dengan fleksibilitas. SBR015 bersifat non-tradable: tidak bisa diperdagangkan di pasar sekunder seperti ORI atau Sukuk Ritel. Memang ada fasilitas early redemption untuk mencairkan sebagian sebelum jatuh tempo dengan ketentuan tertentu, tapi tetap tidak seleluasa deposito.

Deposito bisa dicairkan sebelum jatuh tempo kapan saja (dengan penalti bunga, tergantung kebijakan bank). Untuk dana darurat atau uang yang mungkin dibutuhkan sewaktu-waktu, deposito tetap juaranya. SBR015 lebih cocok untuk dana dingin yang memang tidak akan disentuh 2-4 tahun.

Risiko: dua-duanya aman, beda penjaminnya

Dari sisi keamanan, keduanya berada di kelas paling aman. SBR015 dijamin penuh oleh negara berdasarkan undang-undang. Deposito dijamin LPS sampai Rp2 miliar per nasabah per bank. Selama nominalnya di bawah batas penjaminan, risiko gagal bayar praktis nol untuk keduanya. Jadi perbandingan ini murni soal imbal hasil dan fleksibilitas, bukan soal aman tidaknya.

Investor ritel memantau penawaran SBN

Catatan soal kupon mengambang SBR015

Satu hal yang perlu dipahami: SBR015 memakai skema floating with floor. Kuponnya bisa naik mengikuti suku bunga acuan, tapi tidak akan turun di bawah batas minimal (6,75 persen untuk T2, 6,85 persen untuk T4). Ini berbeda dengan ORI030 yang kuponnya tetap (fixed rate) 6,90-7,00 persen. Dalam tren suku bunga yang belum jelas arahnya, skema ini memberi perlindungan ke bawah sekaligus peluang ke atas.

Jadi, pilih yang mana?

Pilih SBR015 (atau tunggu ST017) jika: dananya dana dingin, targetnya imbal hasil maksimal dengan risiko minimal, dan tidak masalah uang terkunci 2-4 tahun. Minimum pembelian hanya Rp1 juta per unit, jadi tidak perlu modal besar.

Pilih deposito jika: butuh fleksibilitas pencairan, dananya dana darurat, atau belum siap mengunci uang bertahun-tahun. Deposito juga tetap berguna sebagai tempat parkir sementara sambil menunggu seri SBN ritel berikutnya dibuka.

Strategi yang dipakai banyak investor ritel: bagi dua. Dana darurat 3-6 bulan pengeluaran di deposito atau tabungan, sisanya yang memang dingin masuk SBN ritel tiap ada penawaran. Tidak harus memilih satu.

Ketinggalan SBR015? Catat jadwal ST017

Rangkaian SBN ritel 2026 ditutup dengan Sukuk Tabungan seri ST017 pada 6 November hingga 2 Desember 2026, tersedia dalam tenor 2 tahun (maksimal pembelian Rp5 miliar) dan 4 tahun (maksimal Rp10 miliar). Besaran kuponnya diumumkan mendekati masa penawaran. Mengingat kupon SBR015 yang memecahkan rekor sejak 2020, ekspektasi pasar terhadap ST017 cukup tinggi. Pantau pengumumannya, dan siapkan dana dari sekarang.

FAQ

Apa itu SBR015?

SBR015 adalah Savings Bond Ritel seri ke-15 yang diterbitkan pemerintah Indonesia, ditawarkan 28 September hingga 22 Oktober 2026. Ini surat utang negara untuk investor individu WNI dengan kupon 6,75 persen (tenor 2 tahun) dan 6,85 persen (tenor 4 tahun), tertinggi sejak 2020.

Apa beda SBR dengan ORI?

Keduanya SBN ritel. Bedanya: ORI bisa diperdagangkan di pasar sekunder (tradable) setelah masa kepemilikan minimum, sedangkan SBR tidak bisa (non-tradable) tapi punya fasilitas early redemption. ORI030 memakai kupon tetap, SBR015 memakai kupon floating with floor.

Kapan penawaran SBN ritel berikutnya?

ST017 (Sukuk Tabungan) pada 6 November hingga 2 Desember 2026, dengan pilihan tenor 2 dan 4 tahun. Ini seri terakhir SBN ritel tahun 2026.

Mana lebih aman, SBR015 atau deposito?

Keduanya sangat aman. SBR015 dijamin negara, deposito dijamin LPS hingga Rp2 miliar per nasabah per bank. Perbedaannya ada di imbal hasil (SBR015 lebih tinggi) dan likuiditas (deposito lebih fleksibel).

Berapa minimum pembelian SBR015?

Rp1 juta dan kelipatannya. Untuk ST017 yang akan datang, ketentuannya sama: mulai Rp1 juta per unit.

Artikel ini bersifat informasi dan edukasi, bukan rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap tanggung jawab pembaca sesuai profil risiko masing-masing.

Sumber: Bareksa (data DJPPR Kementerian Keuangan, diakses 23 Oktober 2026: Kupon SBN SBR015 Resmi 6,75-6,85%, Tertinggi Sejak 2020); Binaartha Sekuritas (jadwal & ketentuan ST017); OCBC (jadwal SBN ritel 2026); Industry.co.id (perbandingan bunga deposito bank September 2026); Bareksa Insight 22 Oktober 2026 (data pasar: IHSG 5.328,36, rupiah Rp17.998/USD).

Dipublikasikan: 23 Oktober 2026. Data pasar per 21-22 Oktober 2026.