Belakangan ini linimasa TikTok dan X ramai membahas istilah "anak orang have". Bukan soal harta warisan, melainkan soal cara berpakaian: kaus polos tanpa logo, celana kain berpotongan rapi, sepatu santai yang tidak mencolok. Gaya yang tenang — tapi justru bikin heboh.
Fenomena ini menarik karena membalik logika lama soal tampil kaya. Kalau dulu status sosial dipamerkan lewat logo sebesar mungkin, sekarang justru disembunyikan. Dari mana asalnya, kenapa bisa viral, dan apakah tren ini sebagus kelihatannya?
Dari mana istilah ini berasal?
Ramainya bermula dari sejumlah video kreator konten gaya hidup di TikTok yang merekam outfit pengunjung kafe-kafe premium di Jakarta Selatan secara acak. Alih-alih kaus dengan sablon merek desainer raksasa, anak-anak muda yang diidentifikasi sebagai "anak orang have" justru tampil dengan kaus polos berbahan katun berkualitas, celana kain berpotongan rapi, serta sandal atau sepatu santai tanpa logo mencolok. Video-video itu mendulang jutaan penayangan dan memancing ribuan komentar warganet.
Istilah "anak orang have" sendiri adalah sebutan warganet untuk anak dari keluarga mapan — yang kepemilikan asetnya dianggap sudah tuntas sejak lahir, sehingga tidak merasa perlu membuktikan status finansial kepada orang asing di ruang publik. Diskusi kemudian meluas ke platform X, di mana kurator mode dan pengamat sosial menilai fenomena ini sebagai versi lokal dari konsep global quiet luxury atau stealth wealth.
Apa itu quiet luxury?
Quiet luxury, atau "kemewahan yang senyap", adalah konsep yang mengutamakan kualitas bahan dan potongan di atas pamer merek. Istilah yang sering dipakai para penggemarnya: "if you know, you know" — hanya mereka yang punya selera setara yang bisa mengenali nilai sebuah pakaian, tanpa bantuan logo raksasa di dada.
Ciri-cirinya cukup jelas: siluet minimalis, material berkualitas tinggi, palet warna netral seperti putih, hitam, beige, krem, dan abu-abu, serta detail halus seperti jahitan rapi. Filosofinya: kesederhanaan, kualitas di atas kuantitas, dan desain yang awet dipakai bertahun-tahun — yang juga berarti mengurangi limbah tekstil.
Kenapa bisa viral sekarang?
Ada beberapa alasan yang masuk akal. Pertama, kejenuhan. Setelah bertahun-tahun linimasa dipenuhi budaya flexing dan logomania, banyak orang menemukan kesegaran dalam cara berbusana yang tenang. Kedua, kontrasnya kuat: di tengah maraknya pamer barang bermerek hasil sewa atau cicilan konsumtif, sosok yang tampil sederhana justru terlihat seperti "kaya beneran". Ketiga, tren ini terasa achievable — kaus polos bisa dibeli siapa saja, tidak seperti tas desainer puluhan juta rupiah.
Menariknya, semangat anti-konsumerisme ini sejalan dengan tren lain yang sedang naik, seperti downgrade lifestyle — sama-sama soal menurunkan gengsi demi kewarasan finansial.
Sisi pro: yang patut diapresiasi
Tidak bisa dimungkiri, ada nilai positifnya. Gaya ini mendorong orang membeli lebih sedikit barang tapi berkualitas — yang berarti mengurangi konsumsi berlebihan. Ia juga menggeser tolok ukur gaya dari "merek apa yang dipakai" menjadi "seberapa pas dan rapi pakaian itu di badan". Buat yang suka eksperimen padu-padan, prinsip warna netral dan potongan simpel ini juga nyambung dengan panduan mix and match fashion retro yang pernah kami bahas.
Sisi kontra: yang perlu dikritisi dengan jujur
Tapi jangan telan mentah-mentah. Opini redaksi: pertama, ada gatekeeping kelas yang terselubung. Definisi "anak orang have" — kaya sejak lahir — bukan sesuatu yang bisa dipilih semua orang. Menjadikannya standar gaya berpotensi melahirkan hierarki baru: yang "asli" versus yang "ikut-ikutan".
Kedua, kesederhanaan yang mahal tetaplah kemewahan. Kaus polos dari katun premium, celana dengan jahitan sempurna, sepatu kulit berkualitas — semuanya bisa jauh lebih mahal daripada kaus berlogo. Quiet luxury versi "asli" bisa jadi sekadar flexing yang lebih halus dan lebih sulit dibaca, bukan penghapus kesenjangan.
Ketiga, ada risiko tekanan sosial baru. Ketika "tampil sederhana" menjadi standar keren, mereka yang memang hanya mampu membeli pakaian murah justru bisa merasa tertekan — padahal gaya hidup hemat mereka sudah lebih dulu "quiet" tanpa perlu label apa pun.
Kalau mau mencoba, mulai dari yang masuk akal
Terlepas dari pro-kontranya, prinsip dasarnya bisa dipakai siapa saja: pilih pakaian yang pas di badan, utamakan warna netral yang mudah dipadukan, investasikan pada potongan yang timeless seperti kemeja putih atau celana bahan, dan kurangi logo besar yang membatasi eksplorasi gaya. Kemewahan yang sesungguhnya — kalau memang ada — letaknya di kerapian, bukan di label.
FAQ
Apa arti istilah anak orang have?
Sebutan warganet untuk anak dari keluarga mapan yang dianggap tidak perlu memamerkan kekayaan. Istilah ini viral di TikTok pada Oktober 2026 lewat video-video outfit pengunjung kafe premium Jakarta Selatan yang tampil simpel tanpa logo mencolok.
Apa itu quiet luxury?
Konsep fashion yang mengutamakan kualitas bahan dan potongan di atas pamer merek. Cirinya: siluet minimalis, warna netral, material berkualitas, dan tanpa logo besar yang mencolok.
Apakah gaya anak orang have harus mahal?
Tidak harus. Prinsip dasarnya — pakaian pas badan, warna netral, minim logo — bisa diterapkan dengan bujet berapa pun. Namun versi "aslinya" yang memakai material premium dan jahitan sempurna memang bisa sangat mahal.
Dari mana tren ini berasal?
Dari video TikTok kreator gaya hidup yang merekam outfit acak pengunjung kafe di Jakarta Selatan, yang kemudian dibahas luas di platform X sebagai versi lokal dari tren global quiet luxury atau stealth wealth.
Sumber: LambeCurah — "Bukan Baju Penuh Logo, Terungkap Ciri Asli Pakaian Anak Orang Have" (2026); Parapuan.co — "Mengenal Quiet Luxury, Tren Fashion Mewah Tanpa Terlihat Mencolok yang Viral di TikTok"; SiniDulu.com — "Tren Quiet Luxury 2026: Akhir Era Logomania di Indonesia"; Style-Island.com — "Quiet Luxury: Gaya Fashion Minimalis". Artikel dipublikasikan 23 Oktober 2026. Bagian "Opini redaksi" merupakan analisis Klik Fakta, bukan fakta dari sumber.




