Inflasi pangan 2026 kembali jadi sorotan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi keseluruhan September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan — masih di dalam sasaran Bank Indonesia 1,5 sampai 3,5 persen. Tapi angka itu menutupi satu fakta yang terasa langsung di dapur: inflasi pangan bergejolak (volatile food) melesat ke 5,03 persen.

Cabai di pasar

Artinya, di saat inflasi nasional diklaim “terkendali”, harga kebutuhan pokok justru naik jauh lebih cepat daripada rata-rata. Dan kenaikan itu bukan merata — ia menghantam barang yang paling sering dibeli rumah tangga.

Siapa biang keroknya?

BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 4,37 persen secara tahunan dengan andil 1,28 poin persentase terhadap inflasi nasional, menurut Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono. Komoditas yang paling menekan: ikan segar, daging ayam ras, cabai rawit, beras, minyak goreng, hingga daging sapi.

Untuk kelompok volatile food sendiri, tekanan datang dari cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras. Angkanya naik dari 4,06 persen pada Agustus menjadi 5,03 persen pada September — lompatan hampir satu poin dalam sebulan. Secara bulanan, volatile food naik 1,46 persen, menurut data Bank Indonesia.

Sebagai gambaran skala: inflasi September 2026 sebesar 3,28 persen itu naik dari 3,19 persen pada Agustus dan 2,88 persen pada Juli. Indeks Harga Konsumen berada di level 112,31, naik dari 111,97 sebulan sebelumnya. Trennya jelas menanjak, dan makanan adalah mesin utamanya.

Alarm dari Bank Indonesia

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti tidak menutup-nutupi kekhawatirannya. Menurutnya, inflasi pangan yang sudah mencapai 5 persen secara tahunan perlu mendapat perhatian karena berpotensi menggerus daya beli masyarakat. Persoalan itu telah ia laporkan kepada Presiden dalam rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Senin, 19 Oktober 2026, seperti dikutip dari CNBC Indonesia oleh Berita Prioritas.

Beras di pasar

BI juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menjaga laju inflasi kelompok harga bergejolak tersebut. Di sisi lain, Destry menegaskan perekonomian secara umum masih terkendali — inflasi inti September masih 2,8 persen, yang menurutnya menggambarkan tekanan harga di luar pangan dan energi belum meluas.

Ancaman berikutnya sudah terlihat: fenomena cuaca El Niño. Deputi Gubernur BI Ricky Perdana Gozali menyebut komoditas paling rentan adalah beras, lalu cabai dan bawang merah. Di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua, inflasi volatile food bahkan sudah mencapai 8,63 persen — dengan pemicu cabai rawit, cabai merah, tomat, bawang merah, beras, serta ikan cakalang dan tongkol. Di Kalimantan, angkanya 7,62 persen, terutama dipicu beras. Untuk meredamnya, BI mendorong operasi pasar, kerja sama antardaerah, dan pasar murah lewat Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah, seperti dilaporkan RCTI+ pada 21 Oktober 2026.

Suku bunga diprediksi bertahan tinggi

Ada kabar yang kurang menggembirakan dari sisi pembiayaan. PT Kredit Rating Indonesia (KRI) memperkirakan inflasi rata-rata mencapai 3,1 persen pada 2027, sementara BI-Rate diproyeksikan bertahan di level 6,00 persen hingga semester I-2027 sebelum berpeluang turun ke 5,75 persen pada semester II.

“Biaya pinjaman tidak akan turun sebelum semester kedua 2027,” kata Analis Senior KRI Gromy Purba pada 21 Oktober 2026, dikutip IDXChannel. KRI bahkan menilai BI masih punya ruang menaikkan suku bunga acuan dari 5,75 persen ke 6,00 persen pada kuartal IV-2026, terutama jika bank sentral AS kembali menaikkan suku bunga dan rupiah bertahan di atas Rp18.000 per dolar AS. Sebagai konteks, The Fed menaikkan suku bunga acuannya menjadi 3,75–4,00 persen pada 16 September 2026, dan rupiah ditutup di Rp17.978 per dolar AS pada 28 September 2026.

Bagi rumah tangga, artinya cicilan dan bunga pinjaman kemungkinan tidak turun dalam waktu dekat. Bagi yang punya rencana kredit besar, KRI menyarankan menyusun pendanaan dengan asumsi suku bunga tetap tinggi hampir sepanjang 2027. Terkait dampak suku bunga ke tabungan dan deposito, baca juga analisis dampak BI-Rate ditahan di 5,75 persen.

Yang bisa dilakukan konsumen

Harga pangan memang di luar kendali pembeli. Tapi ada beberapa langkah praktis untuk menekan dampaknya di dapur sendiri:

Pedagang sayur di pasar tradisional

Pertama, manfaatkan operasi pasar dan pasar murah yang digelar pemerintah daerah bersama TPID — biasanya harga di sana di bawah pasar. Kedua, sesuaikan menu dengan komoditas yang sedang turun: data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) BI per 15 Oktober 2026 mencatat 12 komoditas turun harga, dengan cabai rawit hijau turun paling dalam 14,15 persen ke Rp65.850 per kilogram. Ketiga, beli bahan yang tahan lama saat harganya murah — cabai misalnya bisa dibekukan agar awet berminggu-minggu. Keempat, kurangi food waste; makanan yang terbuang adalah uang yang ikut terbuang, dan di tengah harga naik, setiap porsi yang diselamatkan berarti.

Inflasi 3,28 persen memang masih “terkendali” di atas kertas. Tapi bagi ibu rumah tangga yang belanja tiap hari, yang terasa bukan angka BPS — melainkan harga cabai, ayam, dan beras di pasar. Dan angka-angka itulah yang kini naik paling cepat.

FAQ

Apakah inflasi 3,28 persen itu berbahaya?

Belum. Angka itu masih berada dalam sasaran inflasi Bank Indonesia, yakni 2,5 persen dengan deviasi ±1 persen (rentang 1,5–3,5 persen). Yang perlu diwaspadai adalah komponen pangan bergejolaknya yang mencapai 5,03 persen.

Komoditas apa yang paling menekan inflasi pangan?

Menurut BPS dan BI: cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, ikan segar, minyak goreng, dan daging sapi.

Sampai kapan harga pangan tinggi?

Belum ada yang bisa memastikan. BI mewaspadai El Niño yang mengancam pasokan beras, cabai, dan bawang merah, sementara KRI memproyeksikan inflasi rata-rata 3,1 persen pada 2027 — masih dalam sasaran, tapi dengan risiko kenaikan harga energi.

Apakah suku bunga akan turun tahun depan?

Menurut proyeksi KRI, BI-Rate bertahan di 6,00 persen hingga semester I-2027 dan baru berpeluang turun ke 5,75 persen pada semester II. Bahkan ada ruang kenaikan pada kuartal IV-2026 jika rupiah melemah dan The Fed menaikkan suku bunga lagi.

Sumber: BPS (data inflasi September 2026, dirilis 1 Oktober 2026), Berita Prioritas (20 Oktober 2026), RCTI+/IDXChannel (21 Oktober 2026), PajakOnline, MoveToday. Artikel ini terbit 22 Oktober 2026.