Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merilis rapor investasi kuartal III-2026: total realisasi investasi Rp528,7 triliun, tumbuh 7,6 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan P. Roeslani memaparkan angka itu di Istana Negara pada 20 Oktober 2026.
Yang menarik: PMA vs PMDN berakhir ketat. Investasi asing (PMA) tercatat Rp270,2 triliun, investasi dalam negeri (PMDN) Rp258,5 triliun — selisihnya tipis, tetapi peta sebarannya sangat berbeda. Berikut perbandingan lengkapnya berbasis data resmi BKPM.
Skor Head-to-Head
Total: Rp528,7 triliun, tumbuh 7,6 persen year-on-year. PMA: Rp270,2 triliun (51,1 persen). PMDN: Rp258,5 triliun (48,9 persen).
Modal asing memberi kontribusi sedikit lebih besar pada kuartal ini. Namun kemenangan agregat tidak bercerita banyak — sebaran wilayahnyalah yang menarik.
PMA: Uang Asing Mengalir ke Mana?
Lima provinsi tujuan utama PMA kuartal III-2026:
- Jawa Barat — Rp54,3 triliun (20,1 persen)
- Sulawesi Tengah — Rp45,2 triliun (16,7 persen)
- Maluku Utara — Rp30,1 triliun (11,1 persen)
- Kalimantan Barat — Rp25,2 triliun (9,3 persen)
- DKI Jakarta — Rp22,1 triliun (8,2 persen)
Polanya jelas: modal asing tidak hanya menumpuk di Jawa. Sulawesi Tengah dan Maluku Utara — kawasan yang selama ini identik dengan proyek hilirisasi mineral — menyerap gabungan lebih dari Rp75 triliun dalam satu kuartal.
PMDN: Modal Dalam Negeri Bertahan di Mana?
Lima provinsi tujuan utama PMDN:
- DKI Jakarta — Rp53,6 triliun (20,7 persen)
- Jawa Barat — Rp36,7 triliun (14,2 persen)
- Jawa Timur — Rp24,5 triliun (9,5 persen)
- Banten — Rp18,9 triliun (7,3 persen)
- Kalimantan Timur — Rp17,4 triliun (6,7 persen)
Berbeda dengan PMA, modal domestik terkonsentrasi di pusat-pusat ekonomi tradisional: Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur menguasai hampir separuh total PMDN kuartal ini.
Total Gabungan: Jawa Barat Juara Umum
Digabung, Jawa Barat menjadi provinsi penerima investasi terbesar: Rp91 triliun (17,2 persen), disusul DKI Jakarta Rp75,7 triliun (14,3 persen), Sulawesi Tengah Rp47,3 triliun (8,9 persen), Jawa Timur Rp37,8 triliun (7,2 persen), dan Maluku Utara Rp30,6 triliun (5,8 persen).
Membaca Angka: Apa Artinya?
Catatan redaksi: bagian ini adalah analisis atas data BKPM, bukan rekomendasi investasi.
Pertama, keunggulan tipis PMA menunjukkan Indonesia masih sangat mengandalkan modal asing untuk menggerakkan investasinya — kabar baik untuk arus modal, tetapi juga pengingat bahwa daya tahan investasi domestik perlu terus didorong.
Kedua, peta PMA mengonfirmasi pergeseran: investor asing kini banyak masuk ke luar Jawa, terutama kawasan timur yang terkait hilirisasi. Sementara PMDN masih "setia" di koridor ekonomi lama. Kesenjangan ini adalah pekerjaan rumah pemerataan.
Ketiga, dengan pertumbuhan 7,6 persen secara tahunan di tengah ketidakpastian global, kuartal III memberi fondasi optimistis untuk menutup 2026 — dengan catatan arus kuartal IV konsisten.
FAQ
Apa beda PMA dan PMDN?
PMA (Penanaman Modal Asing) adalah investasi dengan kepemilikan modal dari luar negeri; PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) berasal dari investor domestik. Keduanya dicatat BKPM sebagai realisasi investasi.
Berapa total investasi kuartal III-2026?
Rp528,7 triliun, tumbuh 7,6 persen year-on-year, menurut data BKPM yang dipaparkan 20 Oktober 2026.
Provinsi mana penerima investasi terbesar?
Jawa Barat (Rp91 triliun gabungan PMA dan PMDN), disusul DKI Jakarta (Rp75,7 triliun).
Apakah PMA selalu lebih besar dari PMDN?
Tidak selalu. Pada kuartal III-2026 PMA unggul tipis (Rp270,2 triliun vs Rp258,5 triliun), tetapi komposisinya bisa berubah tiap kuartal tergantung proyek yang terealisasi.
Sumber:
InfoBEI — realisasi investasi BKPM kuartal III-2026 (21/10/2026)
StockWatch — tiga indikator ekonomi awal triwulan IV-2026
Dipublikasikan: 22 Oktober 2026. Diakses: 22 Oktober 2026.




