"Awas, nanti dipanggilkan polisi!" Gertakan klasik orang tua itu kini naik kelas. Di TikTok, jasa polisi anak viral karena menawarkan cara baru menasihati anak: panggilan video dengan kreator berseragam polisi yang berbicara tegas bak aparat sungguhan.

Adalah akun TikTok @polisianak84 yang berada di pusat fenomena polisi anak TikTok ini. Videonya ditonton jutaan kali dalam hitungan jam, dan jasanya sudah dipakai sejumlah figur publik, dari Nathalie Holscher hingga influencer Nanda Arsyinta.

Ilustrasi aparat kepolisian berseragam dinas

Nathalie Holscher menghubungi jasa tersebut agar putranya, Adzam, mau menghabiskan makanan. Dalam video yang diunggah akun itu, Adzam tampak duduk di meja makan dengan mata berkaca-kaca usai ditegur sang kreator. "Kalau nangis kami akan tambah hukuman buat anaknya ya, Bu, ya," ujar kreator tersebut, seperti dikutip pada Rabu (21/10/2026).

Ancaman yang dilontarkan tak main-main. "Satu butir nasi tidak dihabiskan, kami penjarakan satu bulan anaknya. Jadi, Adzam ini jangan main-main. Segera dihabiskan, makan sendiri!" kata kreator itu. Usai Adzam menurut, Nathalie mengucapkan terima kasih: "Terima kasih ya, Pak, nanti akan kami telepon lagi kalau anaknya tidak mau makan lagi ya, Pak." Nathalie bahkan mengunggah ulang momen tersebut ke kanal YouTube pribadinya.

Putri Nanda Arsyinta, Nadlyne, mengalami hal serupa. Sambil terisak dan mengusap air mata, jemari kecilnya terangkat membentuk hormat ke arah layar ponsel. "Iya, siap," bisiknya saat diperintah menghabiskan makanan agar "tidak ditangkap pak polisi."

Bukan Polisi Sungguhan, Berawal dari Telepon Biasa

Lantas siapa sosok di balik seragam itu? Menurut penelusuran bukamata.id, kreator tersebut berasal dari sebuah kota kecil di Sulawesi dan bukan anggota kepolisian, melainkan kreator konten yang jeli membaca keputusasaan orang tua.

Ia memulai kiprahnya pada 2024 dengan konsep sederhana: merekam panggilan telepon bersama orang tua yang kewalahan menghadapi anak, dari yang menolak tidur siang, gemar berbohong, hingga tantrum. Menjelang akhir 2024 ia beralih ke siaran langsung TikTok, dan format visual itulah yang meledak. Kini akunnya mengumpulkan lebih dari 398 ribu pengikut.

Kasus yang ditangani pun meluas: anak susah makan, kecanduan gawai hingga larut malam, sampai berani membentak orang tua. Ancamannya disesuaikan: gawai disita "polsek", anak dimasukkan "sel tahanan khusus anak", atau dipenjara berminggu-minggu karena tak menghabiskan nasi.

Ilustrasi panggilan video antara orang tua dan anak

Kenapa Laris? Jawabannya: Orang Tua yang Lelah

Fenomena ini laris bukan tanpa sebab. Banyak orang tua hari ini menghadapi tekanan ganda: tuntutan pekerjaan, banjir teori parenting yang saling bertentangan, dan rentang perhatian anak yang makin pendek akibat gawai. Ketika nasihat halus gagal dan memarahi membuat merasa bersalah, sosok "pihak ketiga yang berwenang" terasa seperti jalan pintas yang menggiurkan.

Kolom komentar akun tersebut penuh testimoni puas. "Anakku ngaruh banget jadi serba nurut dan teratur," tulis seorang warganet. Dalam panggilan dua-tiga menit, anak yang tantrum bisa mendadak penurut. Solusi instan yang sulit ditolak orang tua yang kelelahan.

Pro-Kontra: Kepatuhan Instan vs Harga Psikologis

Tapi tak semua warganet tepuk tangan. Sejumlah komentar justru menyindir: "Mantap saya suka ini, jadi dari kecil kita sudah didik takut polisi. Aku sampai sekarang takut hehe, kalau ada hilang barang dibiarin aja daripada hilang ayam kejual sapi." Sindiran itu menyentuh persoalan serius: citra polisi sebagai sosok menakutkan yang ditanamkan sejak dini.

Menurut analisis yang dihimpun bukamata.id dari pandangan pakar perkembangan anak, kepatuhan yang lahir dari gertakan semacam ini bersifat semu, bukan kesadaran moral, melainkan respons panik. Anak di bawah tujuh tahun umumnya mencerna ucapan orang dewasa secara harfiah; bagi mereka, ancaman "dipenjara" adalah teror yang nyata.

Dalam jangka panjang, tumpukan pengalaman menakutkan semacam ini berisiko mengendap menjadi kecemasan berlebih, trauma pada figur otoritas, hingga terkikisnya kepercayaan anak kepada orang tuanya sendiri. Panduan UNICEF Asia Pasifik dan American Academy of Pediatrics yang dirujuk dalam analisis tersebut konsisten menganjurkan disiplin positif: komunikasi tenang, batas yang konsisten, dan konsekuensi logis sesuai usia, bukan ancaman imajiner.

Ilustrasi ibu dan anak makan bersama di meja makan

Tangis Anak yang Jadi Tontonan

Soal lain yang tak kalah krusial: privasi. Tangis ketakutan Adzam dan Nadlyne direkam, diunggah ke akun beratus ribu pengikut, lalu disebar ulang akun-akun gosip tanpa batas. Anak-anak itu belum bisa memberi persetujuan, dan jejak digitalnya permanen, kelak berpotensi jadi bahan olok-olok saat mereka remaja.

Fenomena berbagi kehidupan anak secara berlebihan (sharenting) ini berbanding terbalik dengan prinsip perlindungan anak: kondisi emosional anak yang rentan seharusnya dijaga di ruang privat keluarga, bukan dipamerkan ke publik. Soal kehati-hatian pada anak, baca juga: Hasil Kajian KIPI Bayi Kampar: Fakta Keamanan Imunisasi.

Jasa Polisi Anak laris karena ia menjawab keputusasaan, bukan karena ia benar. Kepatuhan instan memang memuaskan, tetapi harga yang dibayar adalah rasa takut. Dan rasa takut, tidak seperti nasi di piring, tidak pernah benar-benar habis ditelan.

Pertanyaan Umum

Apa itu jasa Polisi Anak yang viral di TikTok?

Layanan dari akun TikTok @polisianak84: kreator berseragam polisi menasihati anak-anak lewat panggilan video atau siaran langsung, dari yang susah makan hingga kecanduan gawai.

Siapa saja publik figur yang memakai jasa ini?

Di antaranya Nathalie Holscher untuk putranya Adzam, dan influencer Nanda Arsyinta untuk putrinya Nadlyne.

Apakah kreator Polisi Anak polisi sungguhan?

Bukan. Menurut penelusuran bukamata.id, ia adalah kreator konten asal Sulawesi, bukan anggota kepolisian.

Apa kata pakar soal metode menakut-nakuti anak ini?

Kepatuhan yang dihasilkan dinilai semu dan berisiko menimbulkan kecemasan hingga trauma pada figur otoritas. Pakar menganjurkan disiplin positif: komunikasi tenang dan konsekuensi logis sesuai usia.

Berapa pengikut akun @polisianak84?

Lebih dari 398 ribu pengikut per Oktober 2026.

Sumber