IHSG naik 4,9 persen dalam sepekan perdagangan 19 hingga 23 Oktober 2026, dari 5.185,105 menjadi 5.439,258. Kenaikan itu menempatkan Indeks Harga Saham Gabungan sebagai indeks dengan kinerja terbaik di dunia pada periode tersebut, menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dikutip sejumlah media pada Sabtu, 25 Oktober 2026.
Yang membuat angka ini menarik bukan cuma besarnya. IHSG melesat justru di tengah dua kabar yang biasanya menekan pasar: investor asing masih mencatat jual bersih, dan bayang-bayang penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI belum hilang. Bagi investor ritel, kombinasi itu memunculkan satu pertanyaan praktis: apakah ini awal pemulihan, atau sekadar pantulan di tengah tekanan yang belum selesai?
Seberapa kuat kenaikan ini dibanding bursa lain
Dalam perbandingan BEI, IHSG mengungguli bursa-bursa Asia Tenggara: VN-Index Vietnam naik 2,2 persen, FTSE Bursa Malaysia KLCI menguat 0,2 persen, dan Straits Times Index Singapura bertambah 0,1 persen. Sebaliknya, SET Index Thailand turun 0,6 persen dan PSEi Filipina melemah 0,9 persen.
Di Asia Pasifik yang lebih luas, sebagian besar indeks justru melemah pada pekan yang sama: Nikkei 225 Jepang turun 4 persen, Hang Seng Hong Kong anjlok 4,5 persen, KOSPI Korea Selatan terkoreksi 2 persen, dan SSE Composite China melemah 0,69 persen. Di Amerika, Dow Jones Industrial Average naik 1,6 persen, masih jauh di bawah IHSG.
Pada penutupan Jumat, 23 Oktober 2026, IHSG naik 0,95 persen atau 51,35 poin ke 5.439,26, bergerak dalam rentang 5.366 hingga 5.455 sepanjang sesi. Sekretaris Perusahaan BEI Elsierra Putri Yosita mengonfirmasi angka penutupan itu dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
"IHSG ditutup pada level 5.439,258, naik 4,90 persen dibandingkan penutupan pekan sebelumnya pada level 5.185,105," ujar Elsierra.
Transaksi naik, tapi asing tetap jual: apa maknanya
Data BEI menunjukkan rata-rata nilai transaksi harian naik 25,42 persen menjadi Rp 20,34 triliun, dari Rp 16,22 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata frekuensi perdagangan harian bertambah 13,80 persen menjadi 1,95 juta kali transaksi, dari 1,72 juta kali. Kapitalisasi pasar naik 4,66 persen menjadi Rp 9.583 triliun, dari Rp 9.157 triliun.
Namun ada dua catatan yang meredam euforia. Pertama, rata-rata volume transaksi harian justru turun 9,39 persen menjadi 39,96 miliar saham, dari 44,10 miliar saham. Kenaikan nilai transaksi dengan volume yang turun menandakan perputaran uang lebih terkonsentrasi, bukan merata ke seluruh saham.
Kedua, investor asing masih membukukan jual bersih Rp 1,28 triliun pada Jumat, 23 Oktober 2026. Secara kumulatif sepanjang 2026 hingga periode pelaporan, nilai jual bersih asing mencapai Rp 94,87 triliun. Dengan kata lain, penguatan sepekan ini lebih banyak ditopang pembeli domestik daripada kembalinya dana asing.
Bayang-bayang MSCI belum pergi
Latar kenaikan ini adalah kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, dari emerging market menjadi standalone market. Konsultasi reklasifikasi itu dibuka MSCI pada 15 Oktober 2026, dan keputusan akhirnya dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027.
Risiko itu nyata dalam angka. Dalam kajian berjudul Equity Strategy: MSCI Downgrade Risk, BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan perubahan status tersebut berpotensi mendorong arus keluar dana investor asing sebesar US$ 4,3 miliar hingga US$ 13,1 miliar, atau setara Rp 77 triliun hingga Rp 235 triliun. Dalam skenario dasar, nilainya diperkirakan US$ 7,5 miliar atau sekitar Rp 135 triliun.
Kajian yang sama memangkas target IHSG untuk Desember 2026 menjadi 6.000, dari sebelumnya 7.200, dengan rasio harga terhadap laba 8,5 kali berdasarkan proyeksi laba tahun buku 2027. Meski begitu, BRI Danareksa Sekuritas masih memperkirakan IHSG berpotensi pulih menuju 7.600 pada akhir 2027.
Jadi, apa yang sebaiknya dilakukan investor ritel
Pertama, jangan membaca kenaikan sepekan sebagai sinyal bahwa tekanan sudah berakhir. Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai IHSG masih berpeluang bertahan di atas level psikologis 5.400, dengan support terdekat di 5.400 hingga 5.366 dan resistance di 5.500 hingga 5.540. Indikator MACD masih berada di zona negatif, meski tekanan pada histogram mulai mereda, yang berarti pemulihan ini belum terkonfirmasi secara teknikal.
"Support terdekat berada di 5.400–5.366, sedangkan resistance di 5.500–5.540," ujar Reza, Minggu, 25 Oktober 2026.
Kedua, perhatikan level-level itu sebagai rambu, bukan ramalan. Pengamat pasar modal sekaligus pendiri WH-Project William Hartanto memperkirakan IHSG berpeluang melanjutkan penguatan secara terbatas pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, dengan kisaran 5.400 hingga 5.500, namun mengingatkan risiko aksi ambil untung setelah indeks menguat beberapa hari berturut-turut.
Ketiga, pisahkan kabar baik sepekan dari agenda yang masih menggantung: perkembangan konsultasi MSCI, laporan keuangan emiten kuartal III-2026, dan keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang dijadwalkan pada 29 Oktober 2026. Ketiganya bisa mengubah arah pasar lebih cepat daripada satu pekan kenaikan.
Artikel ini bukan rekomendasi beli atau jual saham tertentu. Keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko dan dana masing-masing, dan dana darurat sebaiknya tidak dipakai untuk berspekulasi di pasar saham.
Baca juga: IHSG Anjlok 8 Persen, Trading Halt Imbas MSCI dan PMA vs PMDN: Investasi Kuartal III 2026
FAQ: IHSG naik 4,9 persen
Berapa level penutupan IHSG pada Jumat, 23 Oktober 2026?
5.439,258, naik 4,90 persen dari 5.185,105 pada penutupan pekan sebelumnya, menurut data BEI.
Kenapa kenaikan ini disebut tertinggi di dunia?
Karena dalam perbandingan kinerja indeks global selama 19 hingga 23 Oktober 2026, kenaikan IHSG melampaui indeks-indeks Asia, Amerika, serta Eropa, Timur Tengah, dan Afrika yang masuk perbandingan BEI.
Apakah investor asing sudah kembali membeli saham Indonesia?
Belum. Investor asing masih mencatat jual bersih Rp 1,28 triliun pada Jumat, 23 Oktober 2026, dan Rp 94,87 triliun secara kumulatif sepanjang 2026 hingga periode pelaporan.
Level teknikal apa yang perlu diperhatikan?
Support terdekat di 5.400 hingga 5.366 dan resistance di 5.500 hingga 5.540, menurut analis teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda.
Apa risiko terbesar bagi IHSG saat ini?
Potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI dari emerging market menjadi standalone market, yang menurut kajian BRI Danareksa Sekuritas berpotensi memicu arus keluar dana asing hingga puluhan miliar dolar AS.
Sumber: Demokratis (25/10/2026), Lensa Hukum (25/10/2026), Suara Garut (25/10/2026), BSI News (25/10/2026), dan data Bursa Efek Indonesia melalui keterangan Sekretaris Perusahaan BEI Elsierra Putri Yosita (24/10/2026). Angka-angka pasar dikutip dari sumber-sumber tersebut; bagian rekomendasi umum bersifat edukasi, bukan ajakan membeli atau menjual saham tertentu.




