Fogging DBD sering dianggap jurus pamungkas begitu ada tetangga yang dirawat karena demam berdarah. Asap putih mengepul di gang, warga menutup pintu, lalu semua merasa aman. Padahal, rasa aman itu bisa menipu: fogging hanya membunuh nyamuk dewasa yang sedang beterbangan, sementara jentik di bak mandi, vas bunga, dan talang yang tersumbat tetap hidup dan akan menetas beberapa hari kemudian.

Data terbaru dari Jakarta Barat memperjelas kenapa kewaspadaan tidak boleh berhenti di asap fogging. Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat mencatat 1.808 kasus demam berdarah dengue (DBD) sepanjang 1 Januari hingga 15 Oktober 2026. Angkanya memang turun sekitar 29 persen dibanding periode yang sama pada 2025 yang mencapai 2.548 kasus, tapi penularan belum berhenti. Kecamatan Cengkareng mencatat kasus terbanyak, 655 kasus, disusul Kalideres 400 kasus dan Kebon Jeruk 191 kasus.

Jentik nyamuk Aedes aegypti di genangan air yang menjadi sarang DBD

Salah Kaprah: Fogging Dianggap Solusi Utama

Di Bulungan, Kalimantan Utara, Dinas Kesehatan setempat justru menegaskan posisi fogging yang sebenarnya. Setelah sembilan warga di Tanjung Palas dirawat di rumah sakit sepanjang Oktober 2026, fogging dilakukan karena kenaikan kasusnya cepat. Namun Kepala Dinkes Bulungan, Imam Sujono, mengingatkan bahwa fogging bukan pilihan utama pengendalian DBD, sebab bahan kimia yang dipakai berisiko bila tidak diterapkan tepat, dan fogging tidak cukup tanpa pemberantasan sarang nyamuk.

Logikanya sederhana. Nyamuk Aedes aegypti bertelur di air bersih yang menggenang, bukan di selokan kotor. Telur dan jentik itu tidak mati oleh asap fogging. Begitu jentik berubah menjadi nyamuk dewasa, siklus gigitan dimulai lagi. Karena itu, daerah yang hanya mengandalkan fogging kerap melihat kasus muncul lagi beberapa pekan setelah pengasapan.

Yang Benar-Benar Memutus Siklus: PSN 3M Plus

Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat menekankan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus: menguras tempat penampungan air, menutup wadah penyimpanan air, dan mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang bisa menampung air hujan. "Plus"-nya adalah langkah tambahan seperti menabur larvasida pada wadah yang sulit dikuras, memelihara ikan pemakan jentik, dan memakai kelambu atau obat nyamuk.

Di Jakarta Barat, seluruh puskesmas memantau perkembangan kasus, melakukan penyelidikan epidemiologi pada tiap kasus baru, dan memantau jentik. Warga diajak menjadi Juru Pemantau Jentik (Jumantik) di rumah masing-masing. Di Cengkareng, pencegahan diperkuat lewat kerja bakti, pemeriksaan jentik, dan koordinasi dengan petugas prasarana, termasuk program pengendalian nyamuk ber-Wolbachia di kawasan padat seperti Kelurahan Kapuk.

Larva nyamuk Aedes di air genangan yang harus dibersihkan

Kenapa Musim Pancaroba Paling Rawan?

Peralihan dari musim kemarau ke musim hujan menciptakan genangan baru di mana-mana: pot tanaman, ban bekas, botol kosong, hingga talang yang tersumbat daun. Dinas Kesehatan Pekanbaru mencatat 745 kasus DBD sejak Januari hingga awal Oktober 2026, dengan tiga warga meninggal dunia, dan menyebut masa pancaroba sebagai periode rawan karena genangan itu mempercepat perkembangbiakan Aedes aegypti.

Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga mencatat tren yang perlu dibaca dengan hati-hati. Kasus DBD Jakarta pada Oktober 2026 tercatat 58 kasus hingga pertengahan bulan, lebih rendah dari September, dan puncaknya pada 2026 terjadi pada Maret. Turun bukan berarti hilang. Di tingkat nasional, Ketua DPR RI Puan Maharani pada 20 Oktober 2026 mendorong penguatan puskesmas dan kader Jumantik, dengan catatan kasus di Bekasi mencapai 2.250 kasus selama Januari-September 2026 dan Jakarta Selatan 1.314 kasus hingga September 2026.

Gejala yang Jangan Dianggap Demam Biasa

Sekretaris Dinas Kesehatan Pekanbaru, Dedy Sambudi, mengingatkan agar demam tinggi yang tidak kunjung turun tidak dianggap remeh. Demam yang semula disangka demam biasa bisa berkembang menjadi kondisi berat, ditandai trombosit yang menurun dan tubuh yang sangat lemah saat pasien tiba di rumah sakit.

Sebagai panduan umum, bukan diagnosis: demam tinggi mendadak disertai nyeri kepala, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, atau bintik merah di kulit sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan, terutama bila pasien tinggal di wilayah dengan kasus DBD tinggi. Jangan menunda dengan alasan "nanti juga turun", dan jangan mengobati sendiri dengan obat yang belum jelas keamanannya untuk kondisi tersebut. Tenaga medis yang dapat memastikan diagnosis dan penanganannya.

Petugas fogging menyemprotkan asap anti nyamuk

FAQ: Fogging dan Pencegahan DBD

Apakah fogging bisa membasmi DBD sepenuhnya?

Tidak. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Jentik di genangan air tetap hidup, sehingga pemberantasan sarang nyamuk tetap wajib dilakukan.

Apa itu PSN 3M Plus?

Menguras tempat penampungan air, menutup wadah penyimpanan air, mendaur ulang barang bekas penampung air, plus langkah tambahan seperti larvasida, ikan pemakan jentik, dan kelambu.

Kapan fogging memang diperlukan?

Bila terjadi peningkatan kasus yang cepat di suatu wilayah, seperti yang terjadi di Bulungan, fogging bisa menjadi tindakan darurat. Namun tetap harus dibarengi PSN.

Di mana saja jentik bersembunyi di rumah?

Bak mandi, vas bunga, dispenser, talang air, ban bekas, botol kosong, dan wadah apa pun yang menampung air bersih yang menggenang.

Fogging tetap punya tempatnya sebagai tindakan darurat. Tapi kalau jentiknya tidak pernah dibereskan, asap itu hanya jeda, bukan penyelesaian. Satu putaran keliling rumah seminggu sekali, menguras dan menutup wadah air, sering kali lebih menentukan daripada satu kali fogging besar-besaran.

Baca juga: waspada leptospirosis di musim hujan dan peringatan Hari Cuci Tangan Sedunia.

Sumber: Radar Jakarta (data Sudinkes Jakarta Barat, 23 Oktober 2026), radarjakarta.id; IBM News (Dinkes Bulungan, 20 Oktober 2026), ibmnews.co.id; RiauNews (Diskes Pekanbaru, 5 Oktober 2026), riaunews.com. Artikel ini berisi informasi umum, bukan pengganti saran medis profesional.