Musim hujan belum benar-benar tiba, tapi Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman sudah lebih dulu memasang kewaspadaan. Penyakit yang mereka sorot bukan flu atau demam berdarah, melainkan leptospirosis — infeksi bakteri yang di masyarakat lebih dikenal sebagai penyakit kencing tikus.

Kewaspadaan itu beralasan. Menurut pendataan terbaru Dinkes Sleman, tercatat enam kasus leptospirosis di wilayahnya. Yang membuat Kepala Dinkes Sleman, dr Mafilindati Nuraini, Mkes, gelisah: penyakit ini mulai merambah kawasan perkotaan seperti Depok, Ngaglik, dan Mlati, tidak lagi bertahan di kantong pertanian seperti Minggir, Moyudan, Seyegan, dan Kalasan.

Warga menerjang genangan banjir, media penularan bakteri leptospira

Leptospirosis kerap dianggap penyakit pinggiran. Padahal ia bisa menyerang siapa saja yang bersentuhan dengan air tercemar — termasuk warga kota yang sekadar menerjang genangan sepulang kerja. Berikut penjelasan lengkapnya, merujuk pada pedoman Kementerian Kesehatan.

Bakteri mungil dari urine tikus

Leptospirosis adalah penyakit zoonosa — menular dari hewan ke manusia — yang disebabkan bakteri berbentuk spiral dari genus Leptospira. Kemenkes mencatatnya sebagai zoonosis yang diduga paling luas penyebarannya di dunia: perkiraannya mencapai 1,03 juta kasus dengan 58.900 kematian setiap tahun secara global.

Di Indonesia, tikus adalah sumber utama penularan. Urine tikus yang mengandung bakteri mencemari air, tanah lembap, sawah, hingga selokan. Bakterinya masuk ke tubuh lewat luka yang tidak utuh atau selaput lendir — misalnya kaki yang lecet menginjak genangan tanpa alas kaki, atau membasuh luka dengan air yang sudah tercemar. Satu kabar baiknya: sejauh ini belum ada laporan penularan dari manusia ke manusia.

Yang membuatnya licin: masa inkubasi leptospirosis berkisar 2 sampai 30 hari, rata-rata 7–10 hari. Gejala bisa muncul berminggu-minggu setelah Anda bermain air banjir — saat kejadian itu sudah lama dilupakan.

Gejala yang sering dikira penyakit biasa

Inilah masalah terbesarnya. Gejala awal leptospirosis mirip penyakit biasa — demam, sakit kepala, badan lemas — sehingga sering dianggap remeh. Padahal ada tanda yang cukup khas menurut Kemenkes: nyeri betis yang hebat hingga penderita kesulitan berjalan, demam di atas 38 derajat Celsius, dan mata memerah (conjungtival suffusion). Tanda bahaya lanjutannya: kulit dan mata menguning, pembesaran hati dan limpa, hingga kerusakan ginjal.

Kemiripannya dengan demam berdarah dan malaria membuat diagnosis klinis tidak mudah. Kalau dibiarkan, infeksi berkembang menjadi gagal ginjal akut yang berujung kematian. Sebagian besar kematian terjadi bukan karena obatnya tidak ada, melainkan karena pasien datang terlambat — saat organ sudah terlanjur rusak.

Tikus di sekitar selokan, hewan pembawa utama bakteri leptospira

Kenapa musim hujan jadi momennya

Bakteri Leptospira tumbuh subur di daerah tropis yang lembap, apalagi saat banjir. Genangan air menjadi media penyebaran yang sempurna: urine tikus yang tadinya tersebar di got dan selokan ikut terbawa arus, lalu menggenang di jalan, halaman, bahkan masuk ke rumah.

Di Sleman, dr Mafilindati — yang akrab disapa Linda — menyebut populasi tikus di kawasan padat penduduk sebagai biang penyebaran ke wilayah urban. Tumpukan sampah mengundang tikus, tikus membawa bakteri, hujan menyebarkan genangan. Rantainya sederhana, tapi mematikan.

Kemenkes sendiri mencatat belasan provinsi sebagai daerah endemis leptospirosis, antara lain DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Maluku, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Kepulauan Riau, dan Bali.

Siapa yang paling berisiko

Petani, peternak, petugas kebersihan, dan siapa pun yang rutin beraktivitas di air kotor berada di garis depan. Tapi saat banjir, batas itu kabur — warga kota pun bisa terpapar, apalagi jika di kaki ada luka kecil yang tidak disadari.

Genangan banjir di permukiman saat musim hujan

Yang bisa Anda lakukan mulai hari ini

Pengobatan leptospirosis sebenarnya relatif sederhana pada stadium awal: antibiotik yang tersedia di puskesmas dan rumah sakit masih ampuh membasminya. Kuncinya satu — datang lebih cepat. Jangan menunggu sampai kulit menguning.

Untuk pencegahan, anjuran Kemenkes lugas: terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, jaga kebersihan lingkungan, dan berantas sarang tikus. Praktisnya di musim hujan: hindari menerjang genangan tanpa alas kaki tertutup, tutup luka dengan plester kedap air sebelum beraktivitas di air kotor, dan cuci tangan serta kaki dengan sabun setelah kontak dengan air banjir.

Jika dalam dua minggu setelah kontak dengan air banjir Anda mengalami demam disertai nyeri betis dan mata memerah, jangan menebak sendiri. Segera ke puskesmas atau rumah sakit terdekat dan ceritakan riwayat kontak Anda dengan air banjir — informasi itu membantu dokter menegakkan diagnosis lebih cepat.

FAQ

Apakah leptospirosis menular dari manusia ke manusia?

Sejauh ini belum ada laporan penularan antarmanusia. Menurut Kemenkes, manusia adalah host terminal — rantai infeksi berhenti di manusia.

Berapa lama gejala muncul setelah terpapar?

Masa inkubasi 2–30 hari, rata-rata 7–10 hari. Gejala bisa muncul berminggu-minggu setelah kontak dengan air tercemar.

Kenapa disebut penyakit kencing tikus?

Karena penularan utamanya lewat urine tikus yang mencemari air dan tanah. Selain tikus, hewan seperti anjing, babi, sapi, dan kambing juga bisa menjadi pembawa.

Apakah leptospirosis bisa sembuh total?

Bisa, bila ditangani sejak dini — antibiotik yang tersedia di fasilitas kesehatan dasar masih efektif. Keterlambatan penangananlah yang membuat kasus berujung fatal.

Sumber: Media Center Pemerintah Kabupaten Sleman, “Musim Hujan waspadai Leptospirosis” (mediacenter.slemankab.go.id, diakses 22 Oktober 2026); Kementerian Kesehatan RI – Ayo Sehat, “Waspadai Musim Hujan dan Banjir!!! Leptospirosis Diam-diam Mematikan” (ayosehat.kemkes.go.id, diakses 22 Oktober 2026).