Aksi 28 Oktober 2026 di Jakarta tidak datang tiba-tiba. Sejak beberapa hari sebelumnya, sebuah poster berlambang tiga warna sudah lebih dulu viral di media sosial, lalu pagi harinya aparat menyiapkan rekayasa lalu lintas, dan siangnya massa mahasiswa berkumpul di Bundaran Hotel Indonesia (HI). Berikut kronologi hari itu, dari poster misterius hingga seruan lima tuntutan.

Massa mahasiswa menggelar aksi di Jakarta

Sebelum aksi: poster hijau-biru-merah bikin penasaran

Jelang 28 Oktober, linimasa media sosial diramaikan poster berlambang tiga warna: hijau, biru, dan merah. Poster itu dikait-kaitkan dengan rencana aksi pada 28 Oktober 2026, tapi sampai hari-H tidak ada pihak yang terkonfirmasi sebagai pembuatnya, dan tidak ada penjelasan resmi soal maksud desain tersebut.

Warganet pun menafsirkannya sendiri-sendiri. Sebagian membaca tiga warna itu secara simbolik: hijau sebagai gertakan, biru sebagai dobrakan, merah sebagai ledakan. Sebagian lain mengaitkannya dengan tiga basis suporter di Yogyakarta: hijau untuk PSS Sleman, biru untuk PSIM Yogyakarta, dan merah untuk Persiba Bantul, yang ditafsirkan akan bersatu turun ke jalan. Dua tafsir itu sama-sama belum terverifikasi, tapi cukup untuk membuat poster tersebut jadi bahan perbincangan viral sebelum aksi dimulai.

Pagi: polisi dan Dishub siaga di empat titik

Pada Rabu pagi, TMC Polda Metro Jaya mengimbau masyarakat mengantisipasi kepadatan di empat kawasan: Gedung DPR/MPR RI, Bundaran HI, Monas, dan Tugu Tani, Jakarta Pusat. Aksi penyampaian pendapat diperkirakan berlangsung mulai pukul 10.00 WIB hingga selesai, dengan rekayasa lalu lintas yang diterapkan secara situasional, bergantung pada kondisi di lapangan.

Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyiagakan 510 personel pengatur lalu lintas. Layanan Transjakarta, MRT, dan LRT dinyatakan berjalan normal, menyesuaikan pengalihan arus bila ada. Pengguna jalan dan penumpang kereta jarak jauh yang naik-turun di Stasiun Gambir diimbau menghindari kawasan aksi dan mengatur ulang waktu serta rute perjalanan.

Mahasiswa berunjuk rasa di jalanan Jakarta

Siang 14.00 WIB: massa berkumpul di Bundaran HI

Sesuai seruan penyelenggara, aksi berpusat di Bundaran HI mulai pukul 14.00 WIB. Penggeraknya adalah Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama gerakan Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR), yang menyebut aksi ini sebagai kelanjutan dari aksi di Tugu Tani pada 20 Oktober 2026.

Aksi ini tidak hanya digerakkan satu kampus. Di luar Jakarta, sejumlah organisasi mahasiswa ikut turun, antara lain BEM Keluarga Mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta, Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang, BEM Universitas Diponegoro Semarang, Serikat Mahasiswa UGM, Keluarga Mahasiswa ITB, dan BEM KM Universitas Negeri Semarang. Perkiraan jumlah massa di Jakarta yang beredar di pemberitaan menyebut sekitar 2.500 mahasiswa.

Simbol tiga jari dan tema "Tepati atau Pergi"

Satu simbol mencolok dalam aksi ini: tiga jari yang diacungkan ke udara. Simbol yang dipopulerkan novel The Hunger Games itu dijadikan jargon pemersatu gerakan. BEM UI menyebutnya telah bertransformasi menjadi instrumen perlawanan yang lugas, melampaui fiksi, dan menjadi bahasa universal gerakan sosial prodemokrasi di berbagai belahan dunia, dari penolakan kudeta di Thailand dan Myanmar hingga perlawanan terhadap represi di Hong Kong.

Tema aksinya sendiri lugas: "Tepati atau Pergi". Pesannya, pemerintah diminta menepati janji politik dalam Asta Cita, atau bersiap menghadapi desakan mundur. Menurut BEM UI, setiap jari melambangkan satu nilai Revolusi Prancis: liberté (kebebasan), égalité (kesetaraan), dan fraternité (persaudaraan).

Aksi mahasiswa membawa spanduk protes

Lima Perintah Rakyat: isi tuntutannya

Tuntutan massa dirangkum dalam sebutan "Lima Perintah Rakyat", yang mencakup lima bidang:

1. Lingkungan. Mendesak penetapan status bencana nasional atas bencana ekologis, termasuk kebakaran hutan dan lahan, pertanggungjawaban korporasi terkait, serta pembenahan tata kelola lahan dan pemulihan lingkungan.

2. Ekonomi. Meminta kebijakan anggaran negara berpihak pada kebutuhan masyarakat dan mengatasi ketimpangan. Mahasiswa menyoroti prioritas anggaran untuk program pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).

3. Pendidikan dan kesejahteraan. Menuntut biaya pendidikan lebih terjangkau, pemerataan akses layanan dasar, serta ketersediaan lapangan kerja yang berkualitas.

4. Hukum dan pemerintahan. Mendesak penghentian penyalahgunaan proses hukum untuk kepentingan kekuasaan, serta pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme.

5. HAM dan demokrasi. Menuntut perlindungan kebebasan berpendapat, penanganan pelanggaran hak asasi manusia, serta penghentian militerisasi ruang sipil.

Perlu dicatat: seluruh poin di atas adalah tuntutan penyelenggara aksi, bukan keputusan atau kebijakan yang sudah disetujui pemerintah.

Imbauan damai dari Polri, buruh, dan pemerintah

Di tengah aksi, imbauan damai datang dari banyak arah. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Johnny Eddizon Isir meminta peserta menyampaikan aspirasi secara tertib dan tidak mudah terprovokasi informasi yang belum terverifikasi. Polri menegaskan demonstrasi adalah hak warga, tapi keselamatan, ketertiban umum, dan kepentingan pengguna ruang publik tetap harus dijaga.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal juga mengimbau buruh dan mahasiswa berdemo secara damai tanpa kekerasan dan kerusuhan, sesuai konstitusi. Imbauan serupa disampaikan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) dan Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN). Sementara Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI menyatakan pemerintah menghormati demokrasi dan mengimbau aksi berlangsung tertib.

Apa yang belum terjawab

Sampai artikel ini ditulis, respons substantif pemerintah atas lima tuntutan tersebut belum terlihat. Yang tersedia di ruang publik baru sebatas imbauan agar aksi berjalan tertib dan pengawalan aparat di lapangan. Poster hijau-biru-merah yang memanaskan suasana sebelum aksi pun masih tanpa pembuat yang terkonfirmasi.

Bagi warga Jakarta, pelajaran praktis dari hari ini cukup jelas: setiap ada aksi besar di pusat kota, pantau pengumuman resmi penyelenggara dan informasi lalu lintas sebelum berangkat, karena rekayasa arus bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti situasi di lapangan.

Baca juga: BEM UI Serukan Aksi 28 Oktober, Gandeng 3 Kampus dan Kronologi Demo Malang: dari DPRD ke Rencana Aksi 28 Oktober.

FAQ: Aksi 28 Oktober 2026

Di mana dan pukul berapa aksi 28 Oktober digelar?

Berpusat di Bundaran HI, Jakarta Pusat, dengan seruan mulai pukul 14.00 WIB. Polisi juga mengantisipasi kepadatan di DPR/MPR RI, Monas, dan Tugu Tani sejak pukul 10.00 WIB.

Siapa penyelenggara aksi 28 Oktober?

BEM UI bersama gerakan Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR) dan elemen masyarakat sipil, dengan dukungan organisasi mahasiswa dari berbagai kampus di luar Jakarta.

Apa isi Lima Perintah Rakyat?

Lingkungan, ekonomi, pendidikan dan kesejahteraan, hukum dan pemerintahan, serta HAM dan demokrasi. Detailnya ada di bagian tuntutan di atas.

Apakah aksi 28 Oktober berlangsung damai?

Polri, KSPI, KSPSI, KSPN, dan Bakom RI sama-sama mengimbau aksi damai dan tertib. Laporan soal jalannya aksi hingga selesai masih perlu dipantau dari pemberitaan lanjutan.

Sumber: risalahnu.com, viv.co.id, investortrust.id, journalarta.com, topik.id, asianpost.id, rmtvnews.com, afu.id, otorider.com, diakses 28 Oktober 2026.