Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPD Harapan Kita) memasang target yang tidak kecil: mengurangi 10 persen pasien jantung yang berobat ke luar negeri. Target itu disampaikan Direktur Utama RSJPD Harapan Kita, Iwan Dakota, dalam kegiatan Diplomatic Hospital Visit di Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.

Alasannya menyangkut uang yang keluar dari Indonesia. Iwan menyebut kebocoran devisa akibat warga Indonesia berobat ke luar negeri diperkirakan mencapai 10 miliar dolar AS per tahun, atau sekitar Rp150 triliun hingga Rp162 triliun bila memakai kurs Rp16.000 per dolar AS. Angka itu adalah perkiraan, bukan hasil audit resmi, dan mencakup seluruh jenis pengobatan di luar negeri, bukan hanya jantung.

Tim medis di ruang operasi rumah sakit

Mengapa pasien jantung memilih berobat ke luar negeri?

Keputusan berobat ke luar negeri jarang hanya soal gengsi. Bagi pasien jantung, pertimbangannya biasanya konkret: keyakinan pada teknologi tertentu, pengalaman dokter pada kasus yang jarang, waktu tunggu, sampai rekomendasi dari pasien lain yang sudah lebih dulu berobat. Di sisi lain, biaya, bahasa, dan jarak justru menjadi beban tambahan yang rela ditanggung demi rasa aman.

Di titik inilah Harapan Kita ingin mengubah kalkulasi tersebut. Alih-alih sekadar mengimbau pasien bertahan di dalam negeri, rumah sakit rujukan jantung nasional ini menawarkan jawaban teknis: layanan yang selama ini dicari ke luar negeri, tersedia di Jakarta.

Senjata utamanya: operasi robotik dan tindakan minimal invasif

Dua layanan yang ditekankan Iwan adalah operasi jantung dengan bantuan robot dan tindakan minimal invasif, yakni prosedur yang dilakukan lewat sayatan lebih kecil dibanding bedah terbuka konvensional. Harapan Kita sendiri sudah mencatat sejarah sebagai rumah sakit pertama di Indonesia yang melakukan operasi jantung robotik, dengan sistem SSi Mantra dan tim yang dipimpin dokter Dudy Hanafy serta proktor dari India.

Prosedur yang pernah dilakukan mencakup bypass koroner (CABG), perbaikan lubang jantung (ASD), hingga bypass koroner endoskopi total (TECAB). Klaim yang beredar menyebut TECAB tersebut sebagai yang pertama di Asia Tenggara, meski redaksi belum menemukan dokumen pembanding independen untuk klaim regional itu, jadi pembaca sebaiknya memperlakukannya sebagai klaim pihak rumah sakit.

Dokter memeriksa pasien di ruang perawatan jantung

Diplomasi kesehatan: mengundang 43 negara

Target 10 persen itu tidak diumumkan di ruang kosong. Kegiatan Diplomatic Hospital Visit bertema "Transforming Cardiovascular Care: From National Network to Global Impact" pada 28 Oktober 2026 mengundang perwakilan dari 43 negara. Pemaparan layanan bedah dan nonbedah disampaikan dokter spesialis jantung rumah sakit tersebut, dr. Dicky Aligheri dan dr. Siska Suridanda.

Strateginya dua arah. Ke dalam, Harapan Kita ingin merebut kembali pasien Indonesia. Ke luar, rumah sakit ini membidik pasar wisata medis, termasuk Timur Tengah, setelah sebelumnya menjajaki kerja sama lewat pameran kesehatan Oman Health Exhibition 2026. Namun perlu dicatat: penjajakan pameran belum sama dengan kontrak pasien, dan manfaat jangka panjangnya masih bergantung pada tindak lanjut kerja sama.

Selain itu, rumah sakit ini menjalin kerja sama dengan institusi medis dari Jepang, Eropa, China, dan Korea untuk pengembangan layanan dan kompetensi tenaga medis.

Apa artinya buat pasien biasa?

Target 10 persen terdengar abstrak, tetapi implikasinya nyata bila tercapai: lebih sedikit keluarga yang harus menanggung biaya perjalanan dan akomodasi di luar negeri, dan lebih banyak kasus kompleks yang ditangani dengan standar yang teruji di dalam negeri. Sebaliknya, target ini juga menjadi ujian kepercayaan. Pasien tidak akan pindah hanya karena ada robot di ruang operasi; yang menentukan tetap hasil klinis, transparansi biaya, dan pengalaman perawatan dari hari pertama.

Bagi pembaca yang sedang mempertimbangkan pengobatan jantung, langkah paling aman tetap sama: minta pendapat kedua (second opinion) dari dokter spesialis jantung, bandingkan rencana tindakan dan risikonya, dan jangan mengambil keputusan hanya dari iklan layanan. Deteksi dini juga tetap jauh lebih murah daripada tindakan apa pun, serumit apa pun teknologinya. Soal menjaga jantung lewat kebiasaan sehari-hari, pembaca bisa membaca pula artikel mitos 10.000 langkah sehari yang mengulas apa kata studi soal target jalan kaki.

Pemeriksaan jantung pasien oleh tenaga medis

FAQ

Berapa target Harapan Kita soal pasien jantung luar negeri?

Mengurangi 10 persen pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri, lewat penguatan layanan jantung di dalam negeri.

Berapa perkiraan devisa yang keluar untuk berobat ke luar negeri?

Sekitar 10 miliar dolar AS per tahun, atau Rp150 triliun hingga Rp162 triliun dengan kurs Rp16.000, menurut pernyataan Direktur Utama RSJPD Harapan Kita.

Apa itu operasi jantung robotik?

Operasi yang dibantu sistem robotik sehingga sayatan bisa lebih kecil dan gerakan instrumen lebih presisi. Di Harapan Kita, sistem yang dipakai adalah SSi Mantra.

Apakah layanan ini otomatis lebih baik untuk semua pasien jantung?

Tidak. Kelayakan tindakan bergantung pada kondisi tiap pasien dan indikasi medis, jadi keputusan tetap harus lewat dokter spesialis yang menangani.

Sumber: OWRITE, "RS Harapan Kita Targetkan Gaet 10 Persen Pasien Jantung yang Berobat ke Luar Negeri" (owrite.id); Presisi.co, "RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Gelar Diplomatic Hospital Visit" (presisi.co); Hypeabis.id, "Keunggulan Operasi Jantung Robotik Pertama di Indonesia" (hypeabis.id).