Kementerian Kesehatan bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengubah cara melawan tuberkulosis (TBC): mulai sekarang, yang jadi sasaran bukan hanya pasiennya, melainkan juga orang-orang sehat yang tinggal serumah dengannya. Pesan itu ditegaskan Wakil Menteri Kesehatan Benjamin P. Octavianus pada Rabu, 29 Oktober 2026, dalam upaya percepatan eliminasi TBC Jakarta 2030.

Alasannya sederhana tapi selama ini kurang diperhatikan. Mengobati pasien TBC aktif saja tidak cukup, karena penularan di dalam rumah bisa terus berulang dari orang yang terinfeksi namun belum sakit. Karena itu, kata Benjamin, setiap rumah sakit dan puskesmas wajib memastikan kontak serumah pasien diperiksa, lalu diberi terapi pencegahan TBC (TPT) bila memenuhi syarat.

Petugas kesehatan memeriksa pasien dalam program penanggulangan tuberkulosis

Mitos yang harus diluruskan: yang sehat serumah pun perlu diperiksa

Anggapan yang masih banyak beredar adalah: kalau satu anggota keluarga sudah berobat, urusan selesai. Padahal, menurut penjelasan Kementerian Kesehatan, TPT justru diberikan kepada orang yang berkontak erat dengan pasien dan belum berkembang menjadi TBC aktif, supaya infeksi laten tidak berubah menjadi penyakit.

Di sinilah letak celah Jakarta. Tingkat pasien yang mulai berobat di ibu kota sebenarnya sudah tinggi, di atas 90 persen. Namun cakupan TPT untuk kontak serumah baru sekitar 40 persen. Artinya, lebih dari separuh kontak serumah belum terjangkau terapi pencegahan, sehingga rantai penularan di lingkungan padat tetap berisiko tersambung kembali.

Angka nasionalnya memberi konteks yang lebih besar. Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam beban TBC, dengan kontribusi sekitar 10 persen kasus global, estimasi 1,08 juta kasus baru, dan 126.000 kematian setiap tahun. Jakarta, dengan mobilitas penduduknya yang tinggi, tidak bisa mengandalkan pengobatan pasien saja.

Apa yang berubah di lapangan

Perubahan paradigma ini didukung peralatan dan obat. Seluruh puskesmas di Jakarta kini dilengkapi mesin tes molekuler cepat (TCM) untuk diagnosis, dan 32 unit rontgen portabel disiapkan untuk pelacakan kontak di kawasan permukiman padat. Kementerian Kesehatan juga menjamin pasokan obat TPT gratis di rumah sakit pemerintah maupun swasta.

Di lapangan, tim kesehatan dan kader TBC mendatangi rumah pasien untuk memeriksa kontaknya. Rontgen dada di lokasi dan pendampingan selama menjalani TPT dilakukan agar keluarga tidak cemas berlebihan soal risiko penularan di rumah sendiri.

Pasien tuberkulosis menjalani pemeriksaan kesehatan

Jakarta punya keunikan: kasus banyak ditemukan di rumah sakit

Berbeda dengan banyak daerah lain yang kasusnya dominan ditemukan di fasilitas layanan primer, 62 hingga 64 persen kasus TBC di Jakarta justru pertama kali terdeteksi di rumah sakit. Karena itu rumah sakit, baik pemerintah, swasta, maupun TNI/Polri, memegang peran kunci dalam penanggulangan terpadu.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, dalam arahan pada acara kepemimpinan rumah sakit untuk eliminasi TBC di Balai Kota pada 28 Oktober 2026, menyatakan dukungan penuh agar eliminasi TBC di Jakarta terwujud pada 2030, dan menekankan kebijakan ini harus konsisten lintas pergantian kepemimpinan. Ia juga menegaskan akses layanan tidak boleh terhambat status domisili, mengingat mobilitas warga metropolitan yang tinggi. Jakarta sendiri memiliki 197 rumah sakit dan ratusan puskesmas yang dioptimalkan jaringannya.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ani Ruspitawati menambahkan, integrasi pelacakan kontak antara rumah sakit, puskesmas, dan kader komunitas adalah kunci agar setiap pasien terdampingi sampai sembuh dan rantai penularan benar-benar putus. Sebelumnya, pada 14 Oktober 2026, Ani menyebut penemuan kasus TBC di Jakarta sudah mencapai sekitar 40.000 kasus dari target 68.000, dengan penemuan kasus yang diintegrasikan ke program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Apa yang bisa dilakukan keluarga

Bagi keluarga yang anggotanya sedang berobat TBC, langkah paling praktis adalah bersikap terbuka kepada petugas kesehatan soal siapa saja yang tinggal serumah, lalu mengikuti skrining yang ditawarkan. Kementerian Kesehatan mengingatkan gejala yang perlu diwaspadai antara lain batuk terus-menerus, berkeringat di malam hari, demam hilang-timbul, dan nafsu makan menurun.

Artikel ini berisi informasi umum, bukan diagnosis. Keputusan soal perlu tidaknya TPT, jenis obat, dan lama terapi tetap ditentukan petugas kesehatan setelah pemeriksaan, karena tidak semua kontak otomatis mendapat obat yang sama. Bila ada gejala di atas, segera periksa ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat, dan jangan menghentikan obat pasien TBC sebelum dinyatakan selesai oleh petugas.

Ilustrasi penanggulangan tuberkulosis

FAQ

Apa itu terapi pencegahan TBC (TPT)?

TPT adalah pemberian obat pencegahan kepada orang berisiko tinggi atau kontak erat pasien TBC yang belum menderita TBC aktif, agar infeksi laten tidak berkembang menjadi penyakit. Pemberiannya berdasarkan hasil pemeriksaan petugas kesehatan.

Siapa yang perlu diperiksa setelah ada pasien TBC di rumah?

Kontak serumah dan kontak erat pasien. Mereka diskrining terlebih dahulu, dan bila memenuhi syarat, ditawari TPT. Cakupan TPT di Jakarta yang baru sekitar 40 persen inilah yang kini dikejar peningkatannya.

Apakah obat TPT berbayar?

Menurut Kementerian Kesehatan, pasokan obat TPT dijamin gratis di seluruh rumah sakit pemerintah dan swasta. Tanyakan ke puskesmas atau rumah sakit tempat pasien berobat untuk alurnya.

Apakah TBC bisa disembuhkan?

Ya, TBC bisa disembuhkan bila pengobatannya dijalani sampai tuntas sesuai arahan petugas kesehatan. Menghentikan obat di tengah jalan berisiko membuat penyakit kambuh dan lebih sulit diobati.

Baca juga: skrining TBC di puskesmas dan program Cek Kesehatan Gratis yang kini terintegrasi dengan penemuan kasus TBC di Jakarta.

Sumber

ObserverID, "Kemenkes, Pemprov DKI Strengthen TB Interventions, Targeting 2030 Elimination", 29 Oktober 2026, observerid.com. ANTARA via Jawawa, "Jakarta steps up tuberculosis prevention", 14 Oktober 2026, jawawa.id. Kementerian Kesehatan RI, "MariBerSATU: Tuntaskan Tuberkulosis", ayosehat.kemkes.go.id.