Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan mengingatkan warga agar tidak menunggu air masuk rumah baru bersiap. Kepala Pelaksana BPBD Kota Medan, Yunita Sari, menyebut puncak musim hujan diprakirakan berlangsung pada November hingga Desember, berdasarkan informasi BMKG. Artinya, akhir Oktober adalah waktu yang tepat untuk menyiapkan tas siaga bencana — bukan nanti, saat hujan deras sudah turun dan listrik padam.

Prinsipnya sederhana: satu ransel, tinggal bawa, cukup untuk 72 jam pertama. Periode tiga hari itu krusial karena bantuan belum tentu langsung menjangkau semua titik. BPBD Kota Medan sendiri menyiagakan 53 anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) menghadapi cuaca ekstrem pada 23–25 Oktober 2026 lalu, tapi kesiapan petugas tetap harus dibarengi kesiapan tiap keluarga di rumah.

Banjir merendam permukiman warga di Indonesia saat musim hujan

Berikut daftar isi tas siaga bencana yang bisa langsung dipraktikkan, mengacu pada buku saku Tanggap Tangkas Bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang memuat 11 jenis barang wajib.

1. Dokumen penting dalam wadah kedap air

Masukkan fotokopi KTP, Kartu Keluarga, akta kelahiran, ijazah, surat tanah, dan surat kendaraan ke dalam map plastik atau kantong kedap air. Tambahkan daftar kontak darurat dan salinan resep obat bila ada anggota keluarga yang rutin minum obat. Dokumen asli sebaiknya tetap aman di rumah; yang dibawa saat evakuasi cukup salinannya, ditambah versi digital di ponsel bila memungkinkan.

2. Pakaian untuk tiga hari

Siapkan pakaian dalam, celana panjang, jaket, selimut tipis, handuk, dan jas hujan. Untuk keluarga dengan bayi, BPBD Kota Medan secara khusus mengingatkan perlengkapan susu, popok, dan pakaian ganti — tiga barang yang paling sering tertinggal saat evakuasi terburu-buru.

3. Makanan tahan lama dan air minum

Isi dengan biskuit, abon, cokelat, dan mi instan — makanan yang tidak butuh kulkas dan bisa dimakan tanpa banyak persiapan. Sediakan air minum untuk tiga hari; panduan kesiapsiagaan BNPB yang dirujuk sejumlah media menetapkan patokan sekitar dua liter per orang per hari.

Perlengkapan darurat dalam tas siaga bencana, termasuk senter dan kotak P3K

4. Obat-obatan dan kotak P3K

Kotak P3K standar berisi plester, perban, dan antiseptik wajib ada, ditambah obat pribadi yang rutin dikonsumsi dan obat dasar seperti obat demam, diare, dan sakit kepala. Periksa tanggal kedaluwarsanya sekarang, bukan saat darurat. Masker dan hand sanitizer juga masuk daftar, untuk melindungi pernapasan dari udara kotor selama dan sesudah bencana.

5. Senter, power bank, dan radio

Listrik padam adalah skenario paling umum saat banjir dan angin kencang. Senter atau lampu kepala beserta baterai cadangan, korek api, dan lilin membantu keluarga bergerak dalam gelap. Ponsel dan power bank yang sudah terisi penuh menjaga komunikasi tetap jalan, sementara radio portabel bertenaga baterai menjadi cadangan informasi bila sinyal seluler terganggu.

6. Uang tunai, peluit, dan perlengkapan mandi

Simpan uang tunai secukupnya untuk kebutuhan tiga hari, termasuk pecahan kecil, karena mesin ATM dan pembayaran digital bisa lumpuh saat listrik padam. Peluit kecil — barang yang paling murah tapi paling sering dilupakan — berguna untuk meminta pertolongan bila suara sudah tidak terdengar. Lengkapi dengan sabun, sikat gigi, dan pasta gigi agar kebersihan tetap terjaga di pengungsian.

7. Jangan cuma isi tas, siapkan juga rumahnya

Tas siaga hanya separuh persiapan. Yunita Sari mengimbau warga mengenali jalur evakuasi dan titik kumpul aman di lingkungannya masing-masing, serta segera evakuasi mandiri ke tempat lebih tinggi sebelum air semakin meningkat bila tinggal di kawasan rawan banjir. Di rumah, bersihkan saluran air dan talang agar tidak tersumbat, tinggikan barang elektronik dan dokumen dari lantai, dan jangan berteduh di bawah pohon atau baliho saat angin kencang.

Warga membersihkan talang air rumah sebagai persiapan menghadapi musim hujan

8. Jadwalkan pengecekan berkala

Tas yang didiamkan setahun pasti mengecewakan: air kedaluwarsa, baterai habis, obat melewati masa pakai. Tetapkan satu tanggal tetap setiap bulan — misalnya tiap awal bulan — untuk memeriksa isi tas, mengisi ulang power bank, dan mengganti makanan yang mendekati kedaluwarsa. Letakkan tas di tempat yang mudah dijangkau semua anggota keluarga, bukan di gudang paling dalam. Satu hal lagi yang sering luput: setelah melewati genangan atau banjir, perhatikan gejala demam, nyeri otot, atau mata merah, dan segera periksa ke fasilitas kesehatan. Penjelasan lengkap soal penyakit yang mengintai setelah banjir bisa dibaca di artikel waspada leptospirosis musim hujan ini.

FAQ

Berapa lama isi tas siaga bencana harus bertahan?

Patokannya 72 jam atau tiga hari pertama, yaitu periode sebelum bantuan sepenuhnya menjangkau lokasi. Stok rumah yang lebih besar — air dan makanan cadangan — dipisahkan dari ransel evakuasi.

Apakah satu tas cukup untuk sekeluarga?

Lebih aman satu ransel per orang dewasa, dengan perlengkapan bayi dan lansia dibagi ke tas orang tuanya. Tas yang terlalu berat justru menghambat evakuasi.

Dokumen asli atau fotokopi yang dibawa?

Fotokopi dalam wadah kedap air sudah cukup untuk evakuasi, ditambah salinan digital. Dokumen asli simpan di tempat aman yang tidak mudah terendam.

Kapan harus evakuasi, menunggu aba-aba atau berangkat sendiri?

Untuk warga di kawasan rawan banjir, imbauan BPBD jelas: evakuasi mandiri ke tempat lebih tinggi sebelum air semakin meningkat, jangan menunggu air masuk rumah. Pantau terus peringatan dini dari kanal resmi BMKG dan BPBD setempat.

Persiapan terbaik adalah persiapan yang tidak pernah terpakai — dan itu kabar baik. Satu sore menyiapkan tas siaga bencana jauh lebih murah daripada satu malam panik mencari dokumen, obat, dan susu bayi di tengah genangan.

Sumber:

Edisi Medan, Hadapi Cuaca Ekstrem, BPBD Imbau Warga Medan Waspada Banjir, 53 Personel TRC Disiagakan (23 Oktober 2026); Suara Garut, Siapkan Tas Siaga Bencana dengan 11 Barang Penting Sesuai BNPB (7 September 2026); ReadMore, Panduan Kesiapsiagaan Bencana Keluarga: Tas Siaga dan Rencana Komunikasi.