Kampung Bahari kembali digerebek. Minggu pagi, 1 November 2026, sekitar 1.800 personel gabungan menyisir kawasan di Tanjung Priok, Jakarta Utara, itu dalam operasi pemberantasan narkotika. Puluhan orang diamankan, dan polisi menyita sabu, ganja, ribuan butir ekstasi, hingga satu mesin pencetak ekstasi.
Yang membuat operasi ini ramai dibicarakan bukan cuma skalanya, melainkan caranya: sebagian personel masuk kawasan lewat KRL Commuter Line dari Stasiun Tanjung Priok, lalu turun di sekitar sasaran dan menyisir gang serta lapak di bantaran rel.

Kronologi: dari pukul 05.30 WIB, dari banyak arah
Menurut Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Pol Adhe Hariadi, penyisiran Kampung Bahari dan Kampung Muara Bahari dimulai sekitar pukul 05.30 WIB. Operasi dipimpin Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, berkolaborasi dengan Bareskrim Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Brimob.
Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol Bismo Teguh Prakoso menjelaskan alasan pola serentak itu: penyergapan dari berbagai arah sekaligus dimaksudkan agar pelaku tidak sempat melarikan diri. Dalam operasi tersebut petugas menghadapi perlawanan berupa lemparan batu dan petasan, yang menurut Bismo dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian dari zona target. Operasi tetap berjalan pada sasaran yang sudah ditentukan.

Angka yang diamankan: dari 26 menjadi 29
Angka orang yang diamankan berubah sepanjang hari, dan itu wajar pada operasi yang pendataannya masih berjalan. Pada keterangan awal di lokasi, Bismo menyebut 26 orang diamankan, dengan peran yang berbeda-beda: bandar atau pemilik narkotika, pengedar, hingga pengguna. Sejumlah media lain, termasuk kumparan, melaporkan angka 27 orang.
Perkembangan terakhir yang dikutip dari Detikcom menyebutkan 29 orang diamankan. Para pihak yang diamankan masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut untuk menentukan peran dan jerat hukum masing-masing, jadi belum semua bisa disebut tersangka. Artikel ini memakai kata "puluhan" karena angkanya masih bergerak saat operasi dan pendataan berlanjut.
Barang bukti: dari sabu sampai mesin cetak ekstasi
Daftar sitaan menunjukkan operasi ini menyasar lebih dari sekadar pemakai. Selain sabu seberat ratusan gram dan ganja, petugas menemukan ribuan butir ekstasi, alat isap (bong), senjata tajam, senjata api, dan uang tunai yang diduga berkaitan dengan transaksi narkotika.
Temuan paling penting adalah mesin pencetak ekstasi. Kehadiran mesin itu mengindikasikan adanya aktivitas produksi, bukan hanya peredaran, di kawasan tersebut. Bismo menegaskan pengejaran terhadap bandar yang melarikan diri masih berlanjut. Kapolda Metro Jaya Komjen Dadang Hartanto menyatakan aparat sudah mengantongi data para target yang masuk daftar pengejaran.

Kenapa Kampung Bahari jadi target berulang?
Kampung Bahari bukan kali pertama digerebek. Pada 26 September 2023, Polres Metro Jakarta Utara mengerahkan sekitar 204 personel gabungan ke kawasan ini. Penggerebekan kembali dilakukan pada 10 Maret 2024 dengan sekitar 200 personel dan 26 orang diamankan. Polanya berulang: lapak-lapak di sepanjang rel kereta menjadi titik transaksi dan penyalahgunaan.
Kondisi geografisnya menjelaskan sebagian persoalan. Permukiman padat di bantaran rel sulit dijangkau kendaraan besar, punya banyak jalur keluar-masuk, dan lapak bisa berpindah dengan cepat. Karena itulah polisi kali ini memakai KRL: kereta memberi akses langsung ke jantung kawasan, dari arah yang tidak mudah diantisipasi.
Tapi penindakan saja terbukti tidak menuntaskan masalah. Dadang Hartanto sendiri menyinggung perlunya penataan lingkungan sosial, termasuk kesadaran warga sekitar, sebagian di antaranya memperoleh pemasukan dari aktivitas ekonomi di lokasi seperti parkir dan berjualan makanan. Kepolisian juga berencana membongkar lapak-lapak di sepanjang rel yang diduga dipakai untuk transaksi narkoba.
Operasi lanjutan dan pengejaran bandar masih berjalan. Bagi warga, pesan yang paling relevan dari operasi ini sederhana: kawasan yang sama bisa digerebek berkali-kali, dan selama lapak serta jaringan bandarnya belum dibongkar sampai ke akarnya, penggerebekan berikutnya hanya soal waktu. Baca juga operasi penindakan narkoba lainnya di Jakarta dalam artikel razia tempat hiburan malam di PIK.
FAQ
Kapan penggerebekan Kampung Bahari terjadi?
Minggu, 1 November 2026, dengan penyisiran dimulai sekitar pukul 05.30 WIB di Kampung Bahari dan Kampung Muara Bahari, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Berapa orang yang diamankan?
Angka awal dari Dirnarkoba Polda Metro Jaya adalah 26 orang, sejumlah media melaporkan 27 orang, dan perkembangan terakhir yang dikutip dari Detikcom menyebut 29 orang. Selisih ini terjadi karena pendataan masih berjalan selama operasi.
Apa saja barang bukti yang disita?
Sabu ratusan gram, ganja, ribuan butir ekstasi, mesin pencetak ekstasi, senjata tajam, senjata api, alat isap, dan uang tunai yang diduga hasil transaksi narkotika.
Kenapa polisi masuk lewat KRL?
Kawasan sasaran berada di sepanjang jalur rel dan permukiman padat. KRL dari Stasiun Tanjung Priok memberi akses langsung ke kawasan yang sulit dijangkau kendaraan dari jalan darat.
Sumber: keterangan Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya dan Kapolres Metro Jakarta Utara, dikutip dari Cirebon Times dan Paragraf News (mengutip ANTARA), serta perkembangan terakhir jumlah diamankan dari LensaHukum (mengutip Detikcom), diakses 1 November 2026. Artikel ini diterbitkan 1 November 2026.




