Hujan deras yang mengguyur Aceh dalam sepekan terakhir memicu banjir dan longsor di sejumlah titik. Di Desa Pedekok, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, air meluap ke rumah-rumah warga pada Kamis, 22 Oktober 2026, merendam perabot hingga setinggi mata kaki orang dewasa. Sementara itu, longsor di Kecamatan Seulimeum, Kabupaten Aceh Besar, pada Senin, 19 Oktober 2026, menimbun sebagian badan Jalan Nasional Banda Aceh-Medan.

Dua peristiwa ini menjadi pengingat bahwa musim hujan di ujung tahun selalu membawa risiko hidrometeorologi yang sama: banjir di dataran rendah, longsor di lereng dan tebing jalan.

Genangan banjir di permukiman

Apa yang terjadi di Aceh Tengah dan Aceh Besar

Di Pedekok, air masuk ke rumah-rumah warga dan merendam perabot. Laporan dari lokasi menyebut genangan mencapai mata kaki orang dewasa — cukup untuk merusak perabot bawah, dokumen, dan peralatan elektronik yang tidak sempat diangkat. Warga diimbau mengamankan barang berharga ke tempat lebih tinggi begitu hujan deras berkepanjangan mulai menggenangi halaman.

Di Seulimeum, tanah dan bebatuan menutupi sebagian ruas jalan nasional yang menghubungkan Banda Aceh dan Medan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Besar turun menangani situasi, mengatur lalu lintas, dan membersihkan material longsor. Jalan nasional yang tertutup sebagian selalu berisiko menjadi titik kemacetan panjang dan kecelakaan susulan, terutama pada malam hari.

BMKG: waspada hujan lebat dan potensi bencana susulan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah menempatkan Aceh dan Sumatera Utara dalam peringatan dini hujan lebat hingga sangat lebat disertai potensi banjir dan longsor. Peringatan berlaku untuk beberapa hari dan mencakup banyak provinsi lain dalam kategori waspada hujan sedang hingga lebat.

Pola ini sejalan dengan laporan nasional BNPB pada 11 Oktober 2026, yang mencatat banjir dan longsor di sejumlah daerah sekaligus: banjir di Padang yang mengungsikan ratusan warga, longsor yang menutup jalan Blangkejeren-Takengon di Gayo Lues, dan kebakaran hutan di Merauke. Bencana di Indonesia pada musim peralihan jarang datang sendirian.

Banjir merendam rumah warga

Apa yang harus dilakukan warga di daerah rawan

Pertama, kenali tanda bahaya: hujan deras lebih dari satu jam tanpa henti, air sungai yang berubah keruh dan naik cepat, serta retakan tanah atau suara gemuruh dari lereng. Kedua, siapkan tas siaga berisi dokumen penting dalam plastik kedap air, obat-obatan, air minum, dan pakaian ganti — agar evakuasi tidak terhambat barang yang tertinggal.

Ketiga, jangan memaksakan diri melintasi genangan yang arusnya deras atau jalan yang tertimbun longsor sebagian. Air setinggi lutut dengan arus deras sudah cukup menyeret orang dewasa, dan tebing yang baru longsor bisa longsor susulan. Keempat, laporkan kejadian ke BPBD setempat atau aparat desa agar penanganan dan pendataan bantuan bisa segera dilakukan.

BMKG juga menyediakan kanal pelaporan bencana melalui bot lapor bencana di bit.ly/laporbencanabot bagi warga yang melihat atau terdampak bencana di wilayahnya.

Dampak banjir dari udara

FAQ: Banjir dan longsor di Aceh

Daerah mana saja yang terdampak?

Desa Pedekok, Kecamatan Pegasing, Aceh Tengah (banjir, 22 Oktober 2026) dan Kecamatan Seulimeum, Aceh Besar (longsor, 19 Oktober 2026).

Apakah jalan Banda Aceh-Medan masih bisa dilalui?

BPBD Aceh Besar menangani pembersihan material longsor dan pengaturan lalu lintas di lokasi; pengendara diimbau mengikuti arahan petugas di lapangan dan menunda perjalanan bila tidak mendesak.

Bagaimana cara melaporkan bencana?

Melalui BPBD setempat, aparat desa, atau kanal lapor bencana BMKG.

Sumber: laporan lapangan yang dikutip berbagai kanal berita (22 dan 19 Oktober 2026); peringatan dini BMKG 10-12 Oktober 2026; laporan BNPB 11 Oktober 2026. Angka kerusakan masih dalam pendataan petugas di lapangan.