Forum WCCE 2026 di Jakarta resmi ditutup Jumat (23/10/2026), dan satu kalimat dari Menteri Kebudayaan Fadli Zon layak digarisbawahi: budaya bukan pos biaya dalam belanja pemerintah, melainkan modal produktif bagi ekonomi kreatif. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan tertulis pada Sabtu (24/10/2026), sehari setelah penutupan.
Kalimat itu membalik anggapan lama. Selama ini, anggaran kebudayaan kerap dibaca sebagai pengeluaran seremonial: festival, pameran, pertunjukan. Fadli justru menempatkannya di hulu rantai nilai, tempat film, musik, kriya, dan konten digital bermula.
Mitos yang dibantah: budaya cuma menghabiskan anggaran
Argumen Fadli sederhana dan bisa diuji. Di balik setiap produk kreatif ada ekosistem yang lebih luas: pengetahuan tradisional, narasi sejarah, dan ekspresi seni yang diwariskan antargenerasi. Tanpa ekosistem itu, produknya tidak punya bahan baku.
Angkanya pun bukan kecil. Indonesia disebut memiliki lebih dari 1.340 suku bangsa, 718 bahasa daerah, dan ribuan objek pemajuan kebudayaan. Itu bukan sekadar data sensus budaya, melainkan stok gagasan yang bisa diolah menjadi karya, merek, dan lapangan kerja.
Fadli menyebut gagasan ini sebagai ekonomi budaya sirkular: budaya menginspirasi inovasi, inovasi menghasilkan nilai ekonomi, dan nilai itu kembali menopang komunitas budaya serta melahirkan kreator berikutnya. Lingkaran itu hanya jalan bila hulunya dirawat, bukan sekadar dipanen hasilnya.
Tiga lapis kerja: dari hulu sampai pasar
Kementerian Kebudayaan membagi pekerjaannya ke tiga lapis. Di hulu, prioritasnya melindungi warisan budaya, mendukung komunitas, serta mempercepat pendokumentasian dan pewarisan pengetahuan tradisional kepada generasi muda.
Di tengah, dukungan diarahkan ke pengembangan talenta dan penciptaan karya lewat Program Manajemen Talenta Nasional (MTN) bidang seni budaya dan Dana Indonesiana, dana abadi kebudayaan. Di hilir, karya didorong masuk distribusi yang lebih luas, festival internasional, dan kolaborasi lintas negara.
Pembagian tugas dengan Kementerian Ekonomi Kreatif juga ditegaskan. Kementerian Kebudayaan menjaga pengetahuan dan merawat ekosistem hulu, sementara Kementerian Ekonomi Kreatif berperan mengomersialkan kekayaan intelektual, mengembangkan industri, dan memperluas akses pasar. Dua peran itu tidak saling menggantikan.
Tiga inisiatif yang lahir dari penutupan WCCE
Penutupan forum itu sendiri tidak hanya menghasilkan dokumen. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengumumkan tiga inisiatif: Creative Economy Data Model (CEDM) yang dikembangkan bersama World Intellectual Property Organization (WIPO), Indonesia Creative Economy Outlook 2026–2027 yang disusun bersama Katadata, dan Ekraf Academy untuk meningkatkan keterampilan pelaku kreatif.
CEDM dirancang memetakan ekosistem lewat tiga dimensi: lingkungan untuk kreativitas, sumber daya pendukung kreativitas, dan nilai kreatif. Dimensi itu mencakup kekayaan intelektual, tata kelola, kondisi sosial budaya, infrastruktur, pembiayaan, pasar, dan kontribusi sosial ekonomi.
Ekraf Academy dikembangkan bersama Jaringan Kota Kreatif Indonesia (ICCN), asosiasi, dan lembaga sertifikasi profesi, dengan kolaborasi 30 perguruan tinggi. Sasarannya praktis: pelatihan yang sesuai kebutuhan industri, bukan sekadar sertifikat.
Angka yang menguatkan, dan yang masih jadi pekerjaan rumah
Di sela forum, Riefky mengumumkan investasi ekonomi kreatif 2026 mencapai Rp183 triliun, atau 134 persen dari target Rp136 triliun yang disampaikan dalam presentasi kementerian. Ekonomi kreatif juga disebut menyumbang 9,5 persen total investasi yang masuk ke Indonesia pada 2025 dan 12 persen ekspor nonmigas nasional.
Namun forum yang sama juga mencatat pekerjaan rumah yang belum selesai. Kreator di sejumlah negara, terutama negara berkembang, mengeluhkan perhitungan penghasilan di platform digital yang dinilai kurang transparan: jumlah tayangan tidak selalu terasa sebanding dengan bayaran yang diterima. Akses pembiayaan berbasis kekayaan intelektual juga masih sulit, karena gagasan dan karya belum mudah dijadikan agunan.
Di sisi lain, skala forumnya besar. Penutupan WCCE 2026 mencatat perwakilan lebih dari 82 negara dan tujuh organisasi internasional, 38 kepala delegasi, 183 pembicara dan moderator, serta 7.639 peserta. Creative Village di kawasan SCBD diklaim dikunjungi lebih dari 20.000 orang.
Catatan penting: forum inti WCCE berlangsung 21–23 Oktober 2026, sementara rangkaian Creative Village disebut berjalan 21–25 Oktober 2026. Perbedaan tanggal itu wajar karena keduanya adalah rangkaian yang berbeda, bukan satu acara yang sama. Artikel ini membedakan keduanya agar tidak tertukar.
Yang bisa dipegang pembaca dari semua ini
Bagi pelaku kreatif, pesan paling konkretnya ada tiga: data ekosistem akan dipetakan lewat CEDM, panduan arah sektor akan tersedia lewat Outlook 2026–2027, dan pelatihan lewat Ekraf Academy. Bagi publik, ujiannya lebih sederhana: apakah lingkaran itu benar-benar kembali ke komunitas, atau berhenti di panggung konferensi.
Baca juga liputan pembukaan forum ini: Indonesia Tuan Rumah WCCE 2026, Resmi Dibuka Hari Ini. Dokumen Jakarta Vision sendiri ditargetkan diperjuangkan Indonesia, bersama Kementerian Luar Negeri, menjadi resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dibahas di Majelis Umum PBB menjelang akhir 2026.
FAQ
Apa itu WCCE 2026?
World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 adalah forum internasional ekonomi kreatif edisi kelima, digelar di Jakarta dengan tema “Inclusively Creative: Collective Continuity”. Forum intinya berlangsung 21–23 Oktober 2026.
Apa maksud “budaya sebagai modal”, bukan biaya?
Menurut Menteri Kebudayaan Fadli Zon, budaya adalah modal produktif karena pengetahuan, narasi, dan ekspresi seni menjadi bahan baku film, musik, kriya, dan konten digital. Merawat hulunya berarti menjaga pasokan gagasan bagi ekonomi kreatif.
Apa saja tiga inisiatif penutupan WCCE 2026?
Creative Economy Data Model (CEDM) bersama WIPO, Indonesia Creative Economy Outlook 2026–2027 bersama Katadata, dan Ekraf Academy untuk keterampilan pelaku kreatif.
Berapa investasi ekonomi kreatif 2026 yang diumumkan?
Rp183 triliun, atau 134 persen dari target Rp136 triliun yang disampaikan dalam presentasi Kementerian Ekonomi Kreatif di sela WCCE 2026.
Sumber
Jawawa / ANTARA — Culture Minister Urges Stronger Cultural Ecosystem from Source to Market at WCCE 2026 (24 Oktober 2026)
Jawawa / ANTARA — WCCE 2026 Concludes with Three Initiatives (23 Oktober 2026)
Jawawa / ANTARA — Creative Economy Investment Exceeds Rp183 Trillion in 2026 (23 Oktober 2026)
Traveltext — WCCE Strengthens Jakarta’s Position as Global Hub for Creative Economy (24 Oktober 2026)
Catatan redaksi: angka investasi dan target dikutip dari presentasi Kementerian Ekonomi Kreatif sebagaimana dilaporkan ANTARA. Satu sumber yang sama juga mencantumkan angka target lain dalam dokumen presentasi; artikel ini memakai angka Rp136 triliun yang konsisten dengan hitungan 134 persen.




