Buka TikTok atau Instagram akhir-akhir ini, dan pemandangannya agak berbeda dari biasanya. Bukan lagi unboxing bertumpuk atau haul belanja mingguan, melainkan video orang memamerkan botol minum yang sudah lecet, lipstik yang dasar kemasannya sudah terlihat, dan lemari yang isinya itu-itu saja. Itulah underconsumption core, tren gaya hidup yang justru merayakan barang lama yang masih berfungsi.

Istilah ini ramai di linimasa TikTok, Instagram, dan X di Indonesia pada Oktober 2026, sebagaimana dilaporkan BISNISdanINVEST.com pada 27 Oktober 2026. Berbeda dengan tren estetika sebelumnya yang gemar memamerkan kemewahan, underconsumption core membalik logikanya: yang dibanggakan bukan apa yang baru dibeli, melainkan apa yang berhasil tidak dibeli.

Lemari pakaian minimalis dengan koleksi pakaian sederhana yang dipakai berulang

Apa itu underconsumption core?

Sederhananya, underconsumption core adalah sikap sengaja mengonsumsi lebih sedikit dari yang sanggup dibeli: memakai apa yang sudah dimiliki sampai benar-benar habis atau rusak. Kosmetik dipakai hingga dasar kemasannya terlihat, pakaian lama tetap dipakai selama masih layak, dan barang yang masih berfungsi tidak diganti hanya karena ada model terbaru.

Tren ini punya kerabat dekat yang juga ramai di Indonesia: downgrade lifestyle, yakni keputusan sadar menurunkan standar konsumsi, misalnya dari kopi kafe ke kopi rumahan. Bedanya, underconsumption core lebih menonjolkan sisi estetikanya: memakai sampai habis ditampilkan sebagai pencapaian, bukan sesuatu yang disembunyikan.

Kenapa tren ini ramai justru sekarang?

Para pengamat ekonomi yang dikutip BISNISdanINVEST.com menilai tren ini bukan sekadar gaya-gayaan internet, melainkan respons atas tekanan ekonomi riil: harga pangan yang merangkak naik sepanjang 2026, upah yang tidak sebanding dengan biaya hidup kota besar, serta gelombang efisiensi dan PHK yang membuat banyak orang mempertebal tabungan darurat.

Gambaran itu sejalan dengan data Mandiri Spending Index per September 2026 yang dikutip Hipwee dari CNBC Indonesia. Belanja masyarakat masih tumbuh 6,3 persen secara tahunan pada pekan kedua September 2026, tetapi porsinya bergeser: gawai turun dari 17,6 persen menjadi 16,3 persen, kebutuhan rumah tangga dari 8,9 persen menjadi 7,9 persen, dan fesyen dari 7,0 persen menjadi 6,5 persen. Orang tidak berhenti belanja, tetapi jauh lebih pilih-pilih.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi yang dikutip Hipwee menilai kelas menengah menjadi kelompok paling terjepit: penghasilannya pas-pasan untuk cicilan, tetapi tidak memenuhi syarat menerima bantuan sosial. Direktur Next Policy Yusuf Wibisono mengingatkan jumlah kelas menengah menyusut dari 60,8 juta orang pada 2018 menjadi 46,7 juta orang pada 2025. Dalam konteks itu, menahan belanja terasa lebih seperti strategi bertahan daripada sekadar ikut tren.

Botol minum pakai ulang sebagai simbol gaya hidup hemat dan ramah lingkungan

Underconsumption core bukan berarti pelit

Penting membedakan tren ini dengan sekadar pelit. Pelit menahan pengeluaran tanpa peduli kualitas hidup; underconsumption core menahan pengeluaran yang tidak perlu agar uang bisa dialihkan ke dana darurat atau kebutuhan yang benar-benar menunjang hidup. Barang yang rusak dan mengganggu aktivitas tetap boleh diganti, dan obat serta kebutuhan pokok bukan target penghematan.

Ia juga berbeda dari minimalisme ekstrem. Minimalisme bicara soal jumlah barang yang sedikit; underconsumption core bicara soal kebiasaan: habiskan dulu, perbaiki dulu, pikir dulu sebelum membeli.

7 cara memulai underconsumption core tanpa terasa menyiksa

1. Habis dulu, baru beli. Satu produk perawatan harus benar-benar habis sebelum membeli yang baru. Cara paling sederhana ini langsung memangkas pembelian impulsif.

2. Jeda 30 hari untuk barang non-esensial. Masukkan barang incaran ke daftar tunggu. Kalau setelah sebulan masih dibutuhkan, barulah dibeli. Sebagian besar keinginan biasanya hilang sendiri di tengah jalan.

3. Kopi rumahan di hari kerja. Simpan jatah kafe untuk akhir pekan atau momen bersama teman, dan seduh sendiri di hari biasa. Selisihnya terasa dalam sebulan.

4. Perbaiki sebelum mengganti. Sepatu yang solnya lepas atau baju yang kancingnya copot sering kali masih bisa diperbaiki dengan biaya jauh lebih kecil daripada membeli baru.

5. Belanja dari lemari sendiri. Sebelum membeli pakaian baru, padu-padankan ulang apa yang sudah ada. Banyak orang menemukan "baju baru" dari barang lama yang terlupakan.

6. Berhenti mengikuti akun pemicu belanja impulsif. Mengurangi paparan konten yang membuat kita merasa kurang sering kali lebih efektif daripada sekadar niat menahan diri.

7. Pindahkan uang yang dihemat begitu gajian. Alihkan selisih belanja ke tabungan atau dana darurat. Penghematan yang tidak terlihat ujungnya mudah bocor ke pengeluaran lain.

Yang perlu diwaspadai dari tren ini

Seperti tren media sosial lainnya, underconsumption core bisa berubah menjadi ajang pamer baru: berlomba menunjukkan siapa yang paling sedikit belanja. Padahal kebutuhan setiap orang berbeda; membeli sepatu kerja baru karena sepatu lama jebol bukan lawan dari tren ini.

Ada batas yang tidak boleh dilewati. Menunda pembelian obat, menahan perbaikan barang yang membahayakan keselamatan, atau mengorbankan gizi demi terlihat hemat bukan lagi gaya hidup. Tren yang sehat membuat hidup lebih tenang, bukan lebih cemas setiap kali membuka dompet.

Menyeduh kopi sendiri di dapur rumah sebagai pengganti kopi kafe

FAQ: Underconsumption core

Apa arti underconsumption core?

Tren gaya hidup yang merayakan pemakaian barang sampai habis atau rusak sebelum membeli yang baru, sebagai lawan dari budaya belanja berlebihan dan flexing.

Apakah underconsumption core sama dengan downgrade lifestyle?

Berkerabat, tetapi tidak identik. Downgrade lifestyle menekankan penurunan standar konsumsi ke level yang lebih terjangkau, sedangkan underconsumption core menekankan kebiasaan memakai sampai habis dan bangga tidak membeli barang baru.

Bagaimana cara memulai underconsumption core untuk pemula?

Mulai dari satu kategori saja, misalnya kosmetik atau kopi harian, terapkan aturan habis dulu baru beli, dan beri jeda 30 hari sebelum membeli barang non-esensial.

Pada akhirnya, underconsumption core menarik bukan karena melarang belanja, melainkan karena mengembalikan kendali. Barang lama yang masih dipakai bukan tanda ketinggalan zaman, melainkan tanda seseorang tahu apa yang benar-benar ia butuhkan. Baca juga: tren sewa barang online di kalangan Gen Z.

Sumber: BISNISdanINVEST.com, "'Underconsumption Core': Siasat Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi" (27 Oktober 2026), bisnisdaninvest.com; Hipwee, "Ramai Tren 'Downgrade Lifestyle', Pertanda Daya Beli Kelas Menengah Sedang Tak Baik-Baik Saja?" (17 Oktober 2026), hipwee.com (mengutip Mandiri Spending Index via CNBC Indonesia, serta ekonom Syafruddin Karimi dan Yusuf Wibisono).