Rupiah kembali melemah pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut terseret turun. Sejumlah media melaporkan rupiah melemah 0,30 persen ke Rp18.135 per dolar AS, sementara analis Phintraco Sekuritas mencatat pelemahan 0,2 persen ke Rp18.127 per dolar AS. Perbedaan angka ini lazim terjadi karena perbedaan acuan waktu pencatatan kurs, namun arahnya sama: rupiah tertekan dan mendekati level terlemahnya dalam beberapa bulan terakhir.

Di pasar saham, IHSG ditutup melemah 1,22 persen ke level 5.373,09. Seluruh sektor melemah, dengan tekanan terbesar dari sektor infrastruktur, teknologi, dan energi. Pada sesi pertama perdagangan saja, investor asing sudah mencatat aksi jual bersih senilai Rp1,14 triliun. Kombinasi rupiah yang melemah dan dana asing yang keluar inilah yang membuat Senin kemarin menjadi hari yang berat bagi pasar keuangan Indonesia.

Lembaran uang rupiah dan dolar Amerika Serikat

Pemicu pertama: bayang-bayang evaluasi MSCI

Tekanan terbesar datang dari kabar rencana konsultasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait kemungkinan perubahan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Kabar ini memicu keluarnya dana asing dari pasar domestik: ketika investor menjual aset dalam rupiah dan menarik modalnya, permintaan terhadap dolar AS meningkat dan rupiah pun tertekan.

Analis memandang isu MSCI sebagai sentimen yang masih akan dicermati pasar dalam beberapa hari ke depan. Selama kejelasan belum muncul, arus modal asing berpotensi tetap menjadi sumber tekanan bagi rupiah dan IHSG.

Pemicu kedua: minyak di atas US$100 dan ketegangan Timur Tengah

Harga minyak dunia yang masih berada di atas US$100 per barel menjadi pemicu berikutnya. Ketegangan di Timur Tengah, termasuk memburuknya kondisi di sekitar Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, ikut mengerek harga minyak dan memicu kehati-hatian pasar global.

Bagi Indonesia yang berstatus importir neto minyak, kenaikan harga minyak membawa dua beban sekaligus: kebutuhan dolar untuk impor bahan bakar minyak meningkat, sementara beban subsidi dan kompensasi energi yang harus dibayar pemerintah kepada Pertamina ikut membengkak. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengingatkan bahwa kondisi ini berisiko memperlebar defisit APBN.

Pemicu ketiga: pasar menunggu keputusan The Fed

Pasar juga tengah menanti agenda bank sentral Amerika Serikat. Keputusan kebijakan moneter Federal Reserve yang dijadwalkan pada Rabu waktu AS, atau Kamis dini hari WIB, serta publikasi data inflasi PCE inti AS pada Kamis, menjadi agenda yang berpotensi memengaruhi arah dolar AS dan mata uang negara berkembang.

Menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC), data keyakinan konsumen AS ikut dicermati karena dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed. Selama ketidakpastian ini bertahan, dolar AS cenderung mendapat tenaga dan arus keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sulit mereda.

Tumpukan uang rupiah dan dolar AS

Respons Bank Indonesia: tetap hadir di pasar

Bank Indonesia (BI) merespons pelemahan ini dengan menegaskan akan tetap hadir di pasar. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyatakan bank sentral akan terus memantau dan melakukan intervensi guna meredam volatilitas yang berlebihan, melalui pasar spot, DNDF, dan pasar obligasi.

BI menilai fluktuasi yang menembus batas Rp18.100 masih merupakan bagian dari dinamika pasar yang wajar, dan pergerakannya akan terus dipantau secara ketat. Pernyataan ini dimaksudkan menenangkan pasar: bank sentral tidak akan membiarkan volatilitas berjalan tanpa kendali, tetapi juga tidak mengklaim akan menahan rupiah pada level tertentu.

Proyeksi Selasa 27 Oktober: level Rp18.200 jadi batas psikologis

Untuk perdagangan Selasa, 27 Oktober 2026, sejumlah analis memproyeksikan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas. Analis Yusuf memperkirakan rentang Rp18.080 hingga Rp18.200 per dolar AS, sementara Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rentang Rp18.130 hingga Rp18.180 per dolar AS. Sepanjang pekan ini, Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.900 hingga Rp18.250 per dolar AS.

Level Rp18.200 dinilai menjadi batas psikologis penting karena mendekati titik terlemah rupiah sepanjang tahun ini. Pelemahan yang jauh melampaui level itu dalam satu hari dinilai relatif terbatas kemungkinannya, kecuali tekanan eksternal meningkat atau arus keluar modal asing semakin deras. Di sekitar level tersebut, BI berpotensi meningkatkan langkah stabilisasi.

Untuk IHSG, analis Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang memperkirakan indeks bergerak sideways pada kisaran 5.280 hingga 5.450. Ia mencatat IHSG kembali ditutup di bawah level 5.400, namun masih bertahan di atas rata-rata pergerakan lima hari (MA5). Sementara itu, Bumiputera Sekuritas memperkirakan IHSG bergerak pada rentang 5.308 hingga 5.440 pada Selasa, dengan saran pembelian selektif saat harga melemah pada saham berfundamental kuat.

Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS

Apa artinya bagi masyarakat?

Pelemahan rupiah tidak hanya soal angka di layar perdagangan. Ketika rupiah melemah, biaya impor barang, termasuk bahan bakar dan bahan baku industri, menjadi lebih mahal dalam rupiah. Tekanan itu pada akhirnya bisa merambat ke harga barang dan ke beban subsidi energi pemerintah. Sebaliknya, stabilisasi rupiah membantu menjaga daya beli dan biaya produksi tetap terkendali.

Bagi masyarakat umum, tidak ada langkah panik yang perlu diambil dari satu hari pelemahan. Yang layak dicermati adalah perkembangan selanjutnya: apakah arus keluar modal asing mereda setelah kejelasan soal MSCI muncul, dan apakah harga minyak kembali turun seiring meredanya ketegangan geopolitik. Dua hal itulah yang akan menentukan apakah pelemahan Senin kemarin hanya koreksi sesaat atau awal dari tekanan yang lebih panjang.

Perlu ditegaskan, artikel ini bukan rekomendasi investasi. Proyeksi analis yang dikutip di sini adalah perkiraan berbasis kondisi pasar pada 26 Oktober 2026 dan dapat berubah seiring data baru.

FAQ: Rupiah melemah 26 Oktober 2026

Berapa kurs rupiah pada Senin, 26 Oktober 2026?

Sejumlah media melaporkan rupiah melemah ke Rp18.135 per dolar AS, sementara Phintraco Sekuritas mencatat Rp18.127 per dolar AS. Perbedaan ini berasal dari perbedaan acuan pencatatan kurs.

Mengapa rupiah melemah?

Empat pemicu utama: arus keluar modal asing terkait isu konsultasi MSCI, harga minyak di atas US$100 per barel, ketegangan di Timur Tengah, dan ekspektasi pasar menjelang keputusan suku bunga The Fed.

Bagaimana respons Bank Indonesia?

BI menyatakan tetap hadir di pasar melalui intervensi di pasar spot, DNDF, dan obligasi untuk meredam volatilitas berlebihan, sambil menilai fluktuasi di atas Rp18.100 masih wajar.

Berapa proyeksi rupiah untuk Selasa, 27 Oktober 2026?

Analis memproyeksikan rentang Rp18.080 hingga Rp18.200 per dolar AS, dengan level Rp18.200 sebagai batas psikologis penting.

Bagaimana IHSG pada hari yang sama?

IHSG ditutup melemah 1,22 persen ke 5.373,09, dengan seluruh sektor melemah dan tekanan terbesar dari infrastruktur, teknologi, dan energi.

Sumber: Suara Garut, Faktual.id, Suara Garut (IHSG), TradingView/Kontan (Phintraco Sekuritas), dan Demokratis, diakses 27 Oktober 2026. Lihat juga artikel terkait Klik Fakta: Rupiah Tembus Rp18.027 per Dolar AS, IHSG Anjlok 8 Persen, Trading Halt, MSCI, dan BI Rate Ditahan 5,75 Persen.