Memasuki musim hujan dengan curah hujan yang cukup tinggi, Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah mengingatkan masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Sejumlah penyakit berpotensi meningkat selama musim hujan, antara lain demam berdarah dengue (DBD), diare, leptospirosis, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit, serta penyakit lain yang berkaitan dengan buruknya sanitasi dan kebersihan lingkungan.
Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah, dr. Mamang Bagiansah, SpPD, menegaskan pencegahan membutuhkan keterlibatan pemerintah dan kesadaran masyarakat. Jangan menunggu sampai ada anggota keluarga yang sakit atau terjadi peningkatan kasus, katanya. Langkah pencegahan justru harus dilakukan sejak dini, dimulai dari lingkungan rumah dan keluarga masing-masing.
Kenapa musim hujan menaikkan risiko penyakit
Curah hujan tinggi berpotensi menyebabkan genangan air, banjir, kelembapan lingkungan, hingga terganggunya kualitas air bersih. Genangan menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti, penyebab DBD. Air yang tercemar bisa memicu diare, sementara kontak dengan air banjir yang terkontaminasi urine hewan meningkatkan risiko leptospirosis.
Di sisi lain, perubahan suhu dan kelembapan yang cepat membuat daya tahan tubuh cenderung menurun. Virus dan bakteri lebih mudah berkembang, sehingga ISPA, batuk pilek, dan flu lebih sering muncul. Pola ini bukan khas Lombok Tengah saja: Dinkes Sumatera Selatan juga menerbitkan surat edaran pada 27 Oktober 2026 untuk memperkuat pencegahan dengue menjelang musim hujan, setelah mencatat 3.732 kasus dengue sepanjang 2026 dan 21 kematian, sebagian besar karena pasien terlambat datang ke rumah sakit.
Apa yang harus dilakukan di rumah
Dinkes Lombok Tengah meminta masyarakat mengaktifkan kembali gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M Plus: menguras tempat penampungan air, menutup tempat penyimpanan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menampung air hujan. Seluruh puskesmas di Lombok Tengah juga diminta meningkatkan kewaspadaan dan pemantauan penyakit di wilayah kerjanya.
Untuk kesehatan keluarga, langkah dasarnya tetap sama: cuci tangan dengan sabun, penuhi kebutuhan air putih, konsumsi makanan bergizi, dan cukupi waktu istirahat. Gunakan masker bila batuk atau pilek agar tidak menularkan ke orang lain. Khusus ibu hamil, pemeriksaan kehamilan rutin, konsumsi tablet tambah darah, asupan gizi, dan istirahat cukup tetap perlu dijaga selama pancaroba.
Kapan harus segera ke puskesmas
Jangan mengabaikan gejala seperti demam tinggi, sakit kepala hebat, nyeri otot, muntah berulang, diare berat, dehidrasi, sesak napas, maupun perdarahan. Bidan Puskesmas Denpasar Barat III, Desak Mahayu, mengingatkan: bila demam berlangsung lebih dari dua hari, segera periksa ke puskesmas dan jangan mengonsumsi obat sembarangan, termasuk antibiotik tanpa resep tenaga medis.
Tanda bahaya DBD yang perlu diwaspadai antara lain demam disertai nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas, hingga penurunan kesadaran. Keterlambatan penanganan adalah faktor yang berulang kali disebut dalam data kematian dengue di Sumsel, sehingga deteksi dini benar-benar menentukan.
Artikel terkait di Klik Fakta: DBD 2026 Tembus 362 Ribu Kasus, Waspada Hujan.
FAQ
Penyakit apa saja yang diwaspadai saat musim hujan?
DBD, diare, leptospirosis, ISPA, penyakit kulit, serta penyakit lain yang berkaitan dengan sanitasi dan kebersihan lingkungan.
Apa itu 3M Plus?
Menguras tempat penampungan air, menutup tempat penyimpanan air, dan mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas penampung air, plus langkah tambahan seperti larvasida dan kelambu.
Kapan harus ke puskesmas?
Bila demam lebih dari dua hari, atau muncul tanda bahaya seperti muntah terus-menerus, perdarahan, nyeri perut hebat, dan lemas.
Sumber: Dinkes Lombok Tengah, 3 November 2026; Dinkes Sumsel, surat edaran 27 Oktober 2026; Puskesmas Denpasar Barat III (dikutip Detikcom via BSI News). Artikel ini diterbitkan 4 November 2026. Informasi ini bersifat edukasi, bukan pengganti saran medis profesional.




