Musim hujan baru mulai, tapi angka demam berdarah dengue (DBD) tahun ini sudah besar. Kementerian Kesehatan mencatat 362.497 kasus DBD sepanjang Januari hingga Oktober 2026. Puncaknya terjadi pada minggu ke-38 dengan sekitar 10.500 kasus dalam sepekan. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyampaikan angka itu di Jakarta pada Senin, 2 November 2026, disertai peringatan yang tidak boleh dibaca santai: tren kasus berpotensi naik lagi begitu musim hujan berjalan.

Secara provinsi, kasus suspek dengue terbanyak tercatat di Jawa Barat dengan 74.688 kasus, disusul Jawa Timur 49.987 kasus dan Jawa Tengah 45.171 kasus. Tiga provinsi itu saja menyumbang hampir separuh dari total nasional, yang masuk akal mengingat kepadatan penduduk dan banyaknya genangan air di permukiman padat. Petugas melakukan fogging untuk pencegahan DBD

Mengapa kewaspadaan justru naik saat kasus menurun?

Pernyataan Kemenkes mengandung paradoks yang perlu dipahami: kasus DBD menunjukkan tren penurunan dalam tiga tahun terakhir, tetapi kewaspadaan harus meningkat. Sebabnya adalah musim. Nyamuk Aedes aegypti berkembang biak di genangan air pada wadah buatan manusia: ember, bak mandi, drum, kaleng, dan barang bekas yang menampung air hujan. Begitu hujan rutin turun, tempat berkembang biak itu bertambah dengan sendirinya.

Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PP PDUI) periode 2026-2029, Ardiansyah Bahar, mengingatkan bahwa tinggal di bantaran kali atau kawasan lembap tidak otomatis meningkatkan risiko DBD. Risiko naik ketika lingkungan dipenuhi sampah dan genangan air. Artinya, pencegahan paling efektif bukan menunggu fogging dari pemerintah, melainkan membersihkan tempat-tempat itu secara berkala.

Ilustrasi terkait dbd-2026-362-ribu-kasus-waspada-musim-hujan

3M Plus, dan mengapa fogging saja tidak cukup

Gerakan 3M Plus tetap menjadi andalan: menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penyimpanan air, dan mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menampung air. Dinas Kesehatan Provinsi Aceh dalam imbauannya pada 28 Oktober 2026 menambahkan catatan penting: fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sehingga pemberantasan jentik dan pembersihan sarang nyamuk harus tetap dilakukan rutin. Losion antinyamuk dan ikan pemakan jentik bisa menjadi pelengkap, bukan pengganti.

Di tingkat RT, praktik ini sudah berjalan di banyak tempat. Ketua RT di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, misalnya, menyebut fogging biasanya dilakukan secara swadaya saat memasuki pancaroba, sementara pemantauan jentik oleh kader jumantik dilakukan setiap dua minggu. Pola seperti itu, rutin dan terjadwal, jauh lebih berguna daripada fogging besar-besaran yang hanya dilakukan setelah kasus meledak.

Tanda bahaya yang tidak boleh ditunda

Kenali tanda bahaya DBD: demam disertai nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas, hingga penurunan kesadaran. Anak-anak dan lansia membutuhkan perhatian lebih karena berisiko mengalami kondisi yang lebih berat. Bila tanda-tanda itu muncul, segera ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Jangan menunda pemeriksaan, dan jangan menggunakan antibiotik tanpa resep dokter.

Panduan lain untuk musim pancaroba bisa dibaca di artikel tentang diare musim hujan dan mitos air bersih, serta panduan PHBS untuk menjaga kesehatan anak di pancaroba.

Ilustrasi terkait dbd-2026-362-ribu-kasus-waspada-musim-hujan

FAQ

Berapa kasus DBD di Indonesia pada 2026?

362.497 kasus sepanjang Januari hingga Oktober 2026 menurut Kementerian Kesehatan, dengan puncak sekitar 10.500 kasus pada minggu ke-38.

Provinsi mana dengan kasus terbanyak?

Jawa Barat (74.688 kasus suspek), disusul Jawa Timur (49.987) dan Jawa Tengah (45.171).

Apa itu 3M Plus?

Menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penyimpanan air, mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas penampung air, plus langkah tambahan seperti losion antinyamuk dan pemeliharaan ikan pemakan jentik.

Kapan harus segera ke fasilitas kesehatan?

Bila muncul demam disertai nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas, atau penurunan kesadaran, terutama pada anak dan lansia.

Sumber: Kementerian Kesehatan, pernyataan Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Aji Muhawarman, 2 November 2026, dikutip Petta.id, petta.id; Dinas Kesehatan Provinsi Aceh, "DBD, Diare hingga Leptospirosis Mengancam saat Musim Hujan", 28 Oktober 2026, dinkes.acehprov.go.id. Publikasi: 3 November 2026. Artikel ini bersifat edukasi umum, bukan pengganti saran medis.