Diare musim hujan kerap dianggap penyakit sepele: perut melilit, buang air besar encer, lalu sembuh sendiri. Padahal begitu hujan deras datang dan banjir menggenang, diare berubah menjadi salah satu penyakit berbasis lingkungan yang paling cepat menyebar. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memasukkannya dalam daftar tujuh penyakit yang wajib diwaspadai saat musim hujan, bersama demam berdarah, leptospirosis, ISPA, penyakit kulit, penyakit saluran cerna lain, dan perburukan penyakit kronik.

Yang membuat diare musim hujan berbeda adalah jalurnya. Bukan cuma makanan yang basi, melainkan air yang kita minum, tangan yang kita pakai makan, dan lingkungan yang kita tinggali. Tiga mitos berikut masih sering dipercaya, dan ketiganya bisa membuat keluarga lengah.

Diare Musim Hujan Bukan Cuma soal Makanan Basi

Mitos 1: "Diare itu cuma karena salah makan"

Salah makan memang bisa memicu diare, tetapi di musim hujan penyebabnya lebih luas. Saat banjir terjadi, air kotor membawa virus dan bakteri ke sumber air minum masyarakat, terutama sumur dangkal yang ikut tercemar. Pengungsian memperparah keadaan: air bersih terbatas, sanitasi serba darurat, dan penularan berjalan cepat.

Kemenkes menjelaskan, diare sangat erat kaitannya dengan kebersihan individu. Bakteri seperti E. coli, Salmonella, dan Shigella bisa masuk lewat makanan dan minuman yang terkontaminasi, juga lewat tangan yang tidak dicuci setelah buang hajat. Jadi, makanan yang terlihat segar pun bisa menjadi pembawa kuman bila air pencucinya sudah tercemar.

Mitos 2: "Air sumur yang jernih pasti aman"

Jernih bukan berarti bersih. Air sumur dangkal sangat rentan tercemar air banjir yang membawa limbah dan kotoran dari drainase. Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin mengingatkan, banjir dapat mencemari sumber air bersih, merusak sanitasi, dan meningkatkan penyebaran kuman lewat makanan dan minuman.

Aturan praktisnya sederhana: rebus air minum hingga mendidih setiap hari, dan simpan dalam wadah tertutup. Untuk memasak, gunakan air yang sudah terjamin kebersihannya. Jangan memakai air genangan atau air sumur yang terendam banjir tanpa pengolahan yang memadai.

Mitos 3: "Diare selalu sembuh sendiri, tak perlu khawatir"

Sebagian besar diare memang membaik dalam beberapa hari, tetapi bahaya utamanya adalah dehidrasi: cairan dan elektrolit tubuh terkuras lewat buang air besar yang berulang. Anak-anak, lansia, dan kelompok rentan adalah yang paling berisiko.

Diare Musim Hujan Bukan Cuma soal Makanan Basi

Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin menegaskan, diare yang berlangsung lebih dari dua hari, disertai demam tinggi, muntah berulang, atau tanda dehidrasi seperti haus berlebihan dan jarang buang air kecil, harus segera mendapat pertolongan medis. Gejala umumnya meliputi feses cair, kram perut, dorongan buang air besar terus-menerus, mual atau muntah, demam, dan tubuh lemas.

Pencegahan yang benar-benar bekerja

Kemenkes merangkum pencegahannya dalam langkah-langkah yang bisa dilakukan setiap hari. Cuci tangan pakai sabun setiap akan makan atau minum dan sesudah buang hajat. Rebus air minum hingga mendidih. Jaga kebersihan lingkungan dan hindari tumpukan sampah di sekitar tempat tinggal. Segera hubungi petugas kesehatan terdekat bila muncul gejala diare.

Tambahan dari dinas kesehatan daerah: siapkan dan simpan makanan secara higienis, hindari makanan yang tidak dimasak dengan baik terutama daging dan seafood, dan jangan jajan sembarangan saat banjir. Bila sudah diare, perbanyak cairan, dan oralit dianjurkan untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. Hindari minuman berkafein, soda, dan alkohol selama diare.

Diare musim hujan bukan soal nasib atau sekadar salah makan. Ia soal air, tangan, dan lingkungan, tiga hal yang masih bisa kita kendalikan sebelum banjir datang.

FAQ

Kenapa diare meningkat saat musim hujan?

Karena banjir mencemari sumber air minum, terutama sumur dangkal, dan keterbatasan air bersih serta sanitasi mempercepat penularan kuman penyebab diare.

Diare Musim Hujan Bukan Cuma soal Makanan Basi

Apakah air sumur yang jernih aman diminum saat banjir?

Belum tentu. Air yang jernih bisa tetap tercemar bakteri dari air banjir. Kemenkes menyarankan merebus air minum hingga mendidih setiap hari.

Kapan diare harus dibawa ke fasilitas kesehatan?

Segera bila berlangsung lebih dari dua hari, disertai demam tinggi, muntah berulang, atau tanda dehidrasi seperti haus berlebihan dan jarang buang air kecil.

Apa pertolongan pertama saat diare?

Perbanyak cairan dan gunakan oralit untuk mengganti cairan serta elektrolit yang hilang, sambil menjaga kebersihan tangan, makanan, dan lingkungan.

Sumber: Kemenkes, "Penyakit Musim Hujan yang Harus Diwaspadai dan Langkah Antisipasinya"; Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, "Waspada Diare di Musim Hujan dan Banjir", Januari 2026; Ayo Sehat Kemenkes, "Banjir Datang, Penyakit Meradang". Tautan internal: Waspada Leptospirosis Musim Hujan.