Memasuki musim hujan akhir Oktober hingga awal November, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri mengingatkan warga meningkatkan kewaspadaan terhadap demam berdarah dengue (DBD) dan chikungunya. Kepala Dinkes Kediri, dr. Ahmad Khatib, menyebut genangan air dan lingkungan yang kurang terawat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti, penular kedua penyakit ini. Imbauan itu disampaikan pada 29 Oktober 2026, saat curah hujan mulai meningkat.
Masalahnya, DBD dan chikungunya sering tertukar karena gejala awalnya mirip: demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot, dan lemas. Padahal keduanya disebabkan virus berbeda dan punya tanda khas yang berbeda pula. Salah membedakan bisa membuat penanganan terlambat, terutama untuk DBD yang berisiko perdarahan dan syok.
Satu nyamuk, dua virus berbeda
DBD disebabkan virus dengue, sedangkan chikungunya disebabkan virus chikungunya (CHIKV). Keduanya ditularkan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus yang aktif menggigit pada pagi dan sore hari. Karena penularnya sama, pencegahannya pun sama: menguras, menutup, dan mengubur barang bekas yang menampung air (3M Plus), memakai losion anti-nyamuk, dan memasang kelambu atau kawat kasa.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), gejala chikungunya biasanya muncul 4-8 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi, dengan kisaran 2-12 hari. Tanda yang paling menonjol adalah demam mendadak disertai nyeri sendi yang berat dan sering melemahkan. Nyeri itu bisa berlangsung berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan setelah demam reda.
Tanda yang membedakan: sendi vs trombosit
Pada chikungunya, nyeri sendi berat dan kaku, terutama di tangan, kaki, dan lutut, adalah ciri utama. Ruam kulit bisa muncul lebih awal dan menyebar luas, tapi perdarahan jarang terjadi dan trombosit tidak turun sedrastis DBD. Nama chikungunya sendiri berasal dari bahasa Swahili yang menggambarkan postur membungkuk karena sendi terasa sangat nyeri.
Pada DBD, nyeri sendi ada tapi bukan yang dominan. Yang lebih khas adalah trombosit yang turun drastis, bintik merah di kulit akibat perdarahan yang tidak hilang saat ditekan, serta risiko mimisan atau gusi berdarah. Dinkes Kediri mengingatkan gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi, sakit kepala, ruam kemerahan, nyeri sendi, muntah, nafsu makan menurun, dan tubuh lemas. Jika muncul, segera periksa ke puskesmas, rumah sakit, atau dokter.
Penanganan: sama-sama tanpa antivirus khusus
Baik DBD maupun chikungunya tidak punya obat antivirus khusus. Penanganannya bersifat simptomatik, alias meredakan gejala. Pada chikungunya, dokter umumnya meresepkan pereda nyeri dan anti-inflamasi, istirahat, dan cairan yang cukup. Pada DBD, fokusnya adalah pemantauan ketat trombosit dan tanda perdarahan, dengan cairan dan perawatan medis yang sesuai kondisi pasien.
Satu peringatan penting: jangan sembarangan minum obat anti-inflamasi golongan NSAID seperti ibuprofen atau aspirin sebelum DBD disingkirkan, karena obat-obat itu dapat meningkatkan risiko perdarahan pada penderita DBD. Parasetamol umumnya menjadi pilihan awal untuk meredakan demam dan nyeri sambil menunggu diagnosis. Keputusan obat tetap di tangan tenaga medis, bukan dari artikel ini.
Untuk konteks pemberantasan sarang nyamuk di sekitar rumah, baca juga kasus DBD dan gerakan PSN 3M Plus serta kenapa fogging saja tidak cukup melawan DBD di Klik Fakta.
FAQ
Apa perbedaan utama chikungunya dan DBD?
Chikungunya menonjol pada nyeri sendi berat yang bisa berbulan-bulan, dengan perdarahan yang jarang. DBD menonjol pada penurunan trombosit drastis dan risiko perdarahan.
Apakah chikungunya bisa sembuh sendiri?
Gejala akutnya umumnya mereda dalam 1-2 minggu, tapi nyeri sendi bisa bertahan lebih lama. Tidak ada antivirus khusus; penanganannya meredakan gejala.
Kapan harus segera ke puskesmas?
Segera periksa bila demam tinggi disertai muntah, nyeri perut hebat, perdarahan, lemas berat, atau nyeri sendi yang membuat sulit bergerak. Jangan menunggu sampai kondisi memburuk.
Apakah fogging cukup mencegah keduanya?
Tidak. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa sesaat. Pencegahan utama tetap 3M Plus dan menjaga lingkungan bebas genangan secara rutin.
Catatan: Artikel ini bersifat edukasi dan bukan pengganti diagnosis medis. Bila Anda atau keluarga mengalami gejala di atas, periksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Sumber: Lingkar Wilis (Dinkes Kabupaten Kediri, 29 Oktober 2026); Menteng Farma (perbandingan gejala dan penanganan, merujuk WHO); Brilio (merujuk WHO dan Kemenkes RI).




