Pemandangan yang dulu dianggap aneh kini makin lumrah di kedai kopi independen kawasan Blok M, Jakarta Selatan, atau Jalan Gandapura, Bandung: anak muda yang mengeluarkan feature phone sederhana dari saku, sementara di tangan lainnya ada kamera digital saku era 2000-an dengan bodi sedikit tergores. Mereka bukan orang yang tertinggal teknologi. Mereka adalah generasi yang tumbuh bersama linimasa tanpa batas dan memutuskan untuk menegosiasikan ulang hubungannya dengan perangkat.

Fenomena ini sering disebut digital detox, tetapi versi yang sedang berjalan di kalangan Gen Z Indonesia lebih konkret daripada sekadar "mengurangi screen time". Bentuknya adalah peralihan ke dumbphone dan perangkat berkemampuan tunggal, atau single-purpose device. Ponsel sederhana hanya bisa menerima panggilan dan SMS, paling jauh menjalankan WhatsApp versi web tanpa feed media sosial yang adiktif. Kamera digital saku, atau digicam, hanya memotret, tanpa notifikasi, tanpa linimasa. Ponsel retro dan kamera digital lawas

Masalahnya bukan ponselnya, melainkan algoritmanya

Keluhan yang paling sering muncul bukan soal ponsel yang jelek, melainkan soal perhatian yang terkuras. Rata-rata waktu pemakaian layar pengguna smartphone di Indonesia disebut melampaui enam hingga delapan jam per hari, dengan porsi terbesar tersedot untuk scrolling tanpa tujuan di media sosial. Doomscrolling, istilah untuk menggulir tanpa henti meski isinya membuat cemas, menjadi pengalaman sehari-hari.

Solusi radikal yang dipilih sebagian anak muda adalah memutus godaan itu dari akarnya: memindahkan kartu SIM utama ke feature phone. Tanpa feed, tanpa video pendek yang diputar otomatis, tidak ada lagi alasan untuk membuka ponsel setiap beberapa menit. Telepon tetap berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi berhenti berfungsi sebagai mesin pengalih perhatian.

Ilustrasi terkait gen-z-dumbphone-digicam-detoks-digital

Mengapa digicam ikut kembali?

Kebangkitan kamera digital CCD bekas buatan tahun 2000-an, seperti lini Sony Cyber-shot, Canon IXY, atau Olympus Camedia, berjalan paralel dengan fenomena dumbphone. Alasannya bukan cuma nostalgia. Foto dari digicam punya estetika yang terasa autentik tanpa tekanan perfeksionisme: hasil yang sedikit kasar, warna yang khas, dan proses memotret yang lambat karena layarnya kecil dan hasilnya tidak bisa langsung diedit habis-habisan.

Pasar loak Pasar Baru dan lapak daring menjadi tempat berburu perangkat-perangkat ini, seiring dengan kegemaran format musik analog. Memotret dengan digicam juga mengubah perilaku: karena tidak bisa langsung mengunggah, momen dinikmati dulu, baru dibagikan belakangan, kalau memang perlu dibagikan.

Kompromi yang realistis: strategi dua perangkat

Hidup dengan dumbphone di kota Indonesia yang serba digital bukan perkara sepele. Transportasi daring, pesan-antar, pembayaran digital, dan urusan kantor hampir semuanya bergantung pada aplikasi. Karena itu, banyak pegiat gaya hidup minimalis memakai strategi dua perangkat: smartphone modern tetap menyala di rumah atau di meja kantor sebagai alat kerja dan navigasi, sementara saat akhir pekan, nongkrong, atau menghadiri konser, hanya dumbphone dan digicam yang masuk ke saku.

Strategi ini menjawab kritik paling umum terhadap digital detox: bahwa ia adalah kemewahan bagi yang mampu. Dengan dua perangkat, orang tidak harus memilih antara terputus total atau kecanduan total. Ia bisa membagi waktu: jam kerja memakai alat lengkap, jam sosial memakai alat sederhana.

Pergeseran ini membuktikan satu hal: anak muda tidak sedang menolak teknologi. Mereka menolak diperalat oleh algoritma platform yang haus data. Dengan memilih perangkat yang lambat dan terbatas, mereka menegosiasikan kembali relasi dengan dunia digital: teknologi sebagai alat bantu, bukan majikan yang mendikte jalannya kehidupan sehari-hari. Untuk penggunaan HP yang lebih hemat dan sadar, baca juga 9 cara menghemat kuota internet HP.

Ilustrasi terkait gen-z-dumbphone-digicam-detoks-digital

FAQ

Apa itu dumbphone?

Feature phone sederhana yang hanya mampu menerima panggilan dan SMS, atau paling jauh menjalankan fungsi dasar, tanpa feed media sosial dan aplikasi adiktif.

Apakah digital detox berarti berhenti memakai smartphone?

Tidak harus. Banyak orang memakai strategi dua perangkat: smartphone untuk kerja dan navigasi, dumbphone untuk waktu sosial dan akhir pekan.

Mengapa digicam lawas kembali populer?

Karena estetikanya terasa autentik, proses memotretnya lambat dan disengaja, dan hasilnya tidak langsung terhubung ke linimasa media sosial.

Sumber: Tujuh Cahaya, "Melawan Tirani Algoritma: Mengapa Gen Z Indonesia Mulai Ramai Beralih ke Dumbphone dan Kamera Digital Lawas?", tujuhcahaya.com; Intervizion, "7 Tren Kesehatan 2026: Gaya Hidup Sehat Era Baru", intervizion.net. Publikasi: 3 November 2026.