Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan kini terhitung dalam angka yang besar. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 401.586 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat pencemaran udara dari karhutla. Data itu disampaikan dalam penjelasan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kemenkes pada Rabu, 4 November 2026.
Pada hari yang sama, Kemenkes menjelaskan data Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) per Selasa, 3 November 2026, yang menunjukkan kualitas udara di sejumlah wilayah masih berada pada kategori berbahaya hingga tidak sehat.
Apa yang dilaporkan BNPB
Pelaksana tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan terdapat peningkatan titik api di beberapa wilayah. Namun, operasi modifikasi cuaca telah berhasil memicu hujan ringan di Kalimantan, yang diharapkan membantu menekan titik api dan memperbaiki kualitas udara.
Penjelasan ini penting karena karhutla bukan sekadar soal api yang terlihat. Asapnya bergerak lintas wilayah, sehingga daerah yang tidak memiliki titik api pun bisa mengalami penurunan kualitas udara dan lonjakan kasus ISPA.
Mengapa ISPA menjadi penanda utama
ISPA adalah istilah payung untuk infeksi pada saluran napas, dari hidung hingga paru-paru. Paparan asap dalam waktu lama mengiritasi saluran napas, memperberat asma, dan menurunkan daya tahan terhadap infeksi. Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit paru atau jantung kronis.
Angka 401.586 kasus perlu dibaca dengan hati-hati: angka ini adalah jumlah kasus yang tercatat dalam sistem pencatatan dampak karhutla, bukan jumlah warga yang dirawat inap, dan bukan pula angka kematian. Artinya, beban sebenarnya di masyarakat bisa lebih besar, karena banyak kasus ringan yang tidak tercatat atau ditangani mandiri di rumah.
Apa yang bisa dilakukan warga di wilayah berasap
Pertama, kurangi aktivitas luar ruangan saat ISPU menunjukkan kategori tidak sehat atau berbahaya, dan pantau informasi resmi dari BMKG dan dinas kesehatan setempat. Kedua, gunakan masker yang benar-benar menyaring partikel halus bila harus keluar, karena masker kain biasa tidak cukup menahan partikel asap.
Ketiga, tutup ventilasi dan jaga udara dalam ruangan sebisa mungkin, terutama di rumah dengan anak kecil atau lansia. Keempat, segera ke fasilitas kesehatan bila muncul sesak napas, batuk berkepanjangan, nyeri dada, atau demam yang tidak membaik. Gejala yang tampak ringan pada orang sehat bisa berkembang cepat pada kelompok rentan.
Yang masih perlu dijawab pemerintah
Di balik angka ISPA, ada pertanyaan yang belum terjawab tuntas dalam penjelasan 4 November: berapa wilayah yang kualitas udaranya masih berbahaya, berapa lama kondisi ini diprediksi bertahan, dan seberapa jauh operasi modifikasi cuaca bisa menekan titik api bila musim kering berlanjut. Ombudsman RI, dalam konferensi pers terpisah pada hari yang sama, juga menyoroti persoalan yang lebih mendasar: pemerintah daerah selama ini tidak memprioritaskan anggaran kebencanaan dalam APBD, sehingga kesiapan menghadapi bencana, termasuk karhutla, menjadi rapuh.
Kombinasi kedua hal itu menjelaskan mengapa karhutla berulang setiap tahun: penanganan di hulu, seperti pencegahan dan kesiapan anggaran, belum sekuat penanganan di hilir ketika asap sudah menyebar.
Artikel terkait di Klik Fakta: Musim Hujan Tiba, Dinkes Lombok Tengah Ingatkan 6 Penyakit.
FAQ
Berapa kasus ISPA akibat karhutla yang tercatat?
401.586 kasus, menurut data Kemenkes yang disampaikan pada 4 November 2026.
Bagaimana kondisi kualitas udara saat ini?
Data ISPU per 3 November 2026 menunjukkan kualitas udara di sejumlah wilayah masih berbahaya hingga tidak sehat.
Siapa yang paling rentan terhadap asap karhutla?
Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit paru atau jantung kronis.
Sumber: Penjelasan BNPB dan Kemenkes, 4 November 2026 (dikutip dari siaran BNPB Indonesia); konferensi pers Ombudsman RI, 4 November 2026. Artikel ini diterbitkan 4 November 2026.




