Indonesia dan India meluncurkan koridor kreatif-teknologi (Creative-Tech Corridor) untuk memperkuat kerja sama di bidang kecerdasan buatan, teknologi digital, dan industri kreatif. Kabar ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Sabtu, 24 Oktober 2026, dan dilaporkan MLex pada 26 Oktober 2026.

Koridor ini bukan sekadar nota kesepahaman seremonial. Di baliknya ada peta yang cukup konkret: kawasan ekonomi khusus (KEK) disiapkan sebagai pusat riset, inovasi, dan komersialisasi teknologi, sementara investasi pusat data diarahkan ke KEK dan kawasan industri yang sudah disiapkan infrastrukturnya.

Pemandangan kota Jakarta sebagai pusat bisnis

Singhasari dan tiga lokasi pusat data

Salah satu KEK yang disebut dalam rencana ini adalah Singhasari, yang diposisikan sebagai hub teknologi. Pemerintah juga mengarahkan investasi pusat data ke sejumlah lokasi, antara lain Nongsa, Tangerang Selatan, dan Karawang, dengan koordinasi pasokan listrik dan jaringan serat optik sebagai prasyaratnya.

Pilihan lokasi ini masuk akal dari sisi bisnis. Pusat data butuh listrik yang stabil, konektivitas yang kuat, dan kedekatan dengan pasar pengguna. Menempatkannya di KEK dan kawasan industri memberi kepastian insentif sekaligus infrastruktur yang lebih terencana dibanding lokasi yang tersebar acak.

Kenapa India menjadi mitra yang masuk akal

India punya dua kekuatan yang melengkapi Indonesia: industri teknologi informasi yang matang dan industri kreatif yang besar. Bagi Indonesia, kerja sama ini membuka peluang transfer pengetahuan, kolaborasi startup, hingga produksi konten dan teknologi kreatif yang bisa dipasarkan ke pasar yang lebih luas.

Sebaliknya, Indonesia menawarkan pasar domestik yang besar, talenta muda, dan posisi geografis yang strategis di Asia Tenggara. Kombinasi itu yang membuat koridor ini disebut-sebut bisa mendorong penciptaan lapangan kerja di sektor teknologi dan kreatif.

Gedung perkantoran dan kawasan bisnis modern

Semikonduktor ikut masuk dalam pembicaraan

Di luar koridor kreatif, pemerintah juga disebut sedang bekerja sama dengan perusahaan perancang chip asal Inggris, Arm, untuk mengembangkan kemampuan desain semikonduktor dalam negeri.

Ini adalah bagian dari rantai yang lebih panjang. Desain chip adalah hulu dari industri teknologi, dan kemampuan di bidang ini menentukan apakah Indonesia hanya menjadi pasar perangkat teknologi atau juga ikut merancangnya. Hasilnya tentu tidak instan, tapi arahnya jelas: naik kelas dari pengguna menjadi perancang.

Targetnya: ekonomi kreatif tumbuh dua digit

Pemerintah berharap adopsi AI dan investasi infrastruktur digital bisa menopang pertumbuhan ekonomi kreatif hingga dua digit. Target itu ambisius, dan realisasinya akan bergantung pada hal-hal yang kurang glamor tapi menentukan: perizinan, ketersediaan talenta, harga energi, dan kepastian regulasi.

Untuk pelaku usaha dan pekerja kreatif di Indonesia, kabar ini layak dicermati dari sisi praktisnya: peluang kolaborasi, program pertukaran, dan proyek bersama dengan mitra India kemungkinan akan bermunculan seiring koridor ini berjalan. Yang perlu dipegang adalah satu prinsip lama: kerja sama yang baik diukur dari proyek yang benar-benar jalan, bukan dari jumlah seremoni peluncurannya.

Siluet kota Jakarta di malam hari

FAQ: Koridor Kreatif-Teknologi Indonesia-India

Apa itu koridor kreatif-teknologi?

Kerja sama Indonesia-India di bidang AI, teknologi digital, dan industri kreatif, termasuk investasi dan pengembangan kawasan teknologi.

Kawasan mana yang disiapkan?

KEK Singhasari sebagai hub teknologi, serta Nongsa, Tangerang Selatan, dan Karawang untuk investasi pusat data.

Sumber: MLex, pernyataan resmi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, 26 Oktober 2026.