IHSG anjlok lagi pada Rabu, 28 Oktober 2026, tapi tidak semua saham ikut tenggelam. Di saat indeks melemah lebih dari 1 persen dan rupiah menembus Rp18.180 per dolar AS, saham-saham tambang justru menguat. Perbandingan dua arah yang berlawanan ini mengungkap apa yang sebenarnya sedang dicemaskan pasar, dan apa yang masih dipercaya investor.
Sisi merah: IHSG dibuka melemah, semua sektor tertekan
Mengutip data RTI pada pukul 09.05 WIB, IHSG merosot 1,02 persen atau 53,639 poin ke level 5.212,491. Sebanyak 359 saham melemah, 182 saham menguat, dan 161 saham stagnan. Tekanan terjadi di seluruh 10 indeks sektoral. Tiga sektor dengan penurunan terdalam adalah IDX-Infra yang melemah 2,24 persen, IDX-Industry turun 1,75 persen, dan IDX-NonCyc terkoreksi 1,42 persen.
Sejumlah media melaporkan angka pembukaan yang sedikit berbeda karena perbedaan waktu pencatatan, tapi arahnya sama: merah. Salah satu laporan mencatat IHSG turun 1,5 persen ke level 5.186 pada pukul 09.08 WIB, dengan 388 saham melemah, 167 menguat, dan 157 tidak berubah, serta nilai transaksi Rp1,2 triliun dalam delapan menit pertama.
Daftar saham LQ45 yang paling tertekan pagi itu juga konsisten: PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) turun 5,41 persen ke Rp140, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun 4,91 persen ke Rp1.260, dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) turun 4,68 persen ke Rp2.650. Indeks Bisnis-27, hasil kerja sama BEI dengan Harian Bisnis Indonesia, pun dibuka melemah 1,65 persen ke level 368,06, dengan 19 dari 27 konstituen melemah.
Sisi hijau: saham tambang melawan arus
Di tengah dominasi warna merah, saham tambang justru menguat. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) naik 2,86 persen ke Rp3.600 dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) naik 1,60 persen ke Rp3.820, menjadi dua top gainers LQ45 pagi itu. Indeks Bisnis-27 mencatat penguatan serupa: INCO naik 2,57 persen ke Rp3.590, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) naik 1,21 persen ke Rp334, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik 1,08 persen ke Rp2.800.
Kontrasnya makin jelas bila dibandingkan dengan saham-saham yang jatuh paling dalam: media dan petrokimia serta pakan ternak memimpin pelemahan, sementara emiten nikel, emas, dan baterai justru diburu. Pasar seolah memilah: yang sensitif terhadap pelemahan rupiah dan daya beli domestik ditinggalkan, yang punya eksposur komoditas global dipertahankan.
Penyebab merah: rupiah, obligasi, dan aksi ambil untung
Analisis BRI Danareksa Sekuritas yang dikutip sejumlah media menyebut tiga tekanan yang bekerja bersamaan. Pertama, aksi ambil untung dan tekanan jual yang masih berlangsung. Kedua, rupiah yang menembus Rp18.180 per dolar AS pada pagi hari. Ketiga, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun yang melampaui 7,5 persen, level tertinggi sejak Oktober 2022 dan di atas asumsi APBN 2026 sebesar 6,9 persen.
Secara teknikal, IHSG dinilai berisiko menguji area penopang 5.182–5.118 setelah gagal bertahan di atas 5.400. Tren masih bearish karena indeks berada di bawah rata-rata 20 hari (5.731) dan rata-rata 200 hari (6.916), dengan indikator MACD masih di zona negatif. Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman memperkirakan IHSG cenderung bergerak sideways pada hari itu, setelah sehari sebelumnya ditutup turun 1,99 persen disertai net sell asing.
Dari sisi makro, pelaku pasar juga mencermati rilis kinerja emiten kuartal III/2026, kebijakan BEI soal pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration) dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026, serta keputusan suku bunga bank sentral AS (The Fed). Fitch Ratings bahkan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat hingga di bawah 5 persen pada semester II-2026, sehingga pertumbuhan setahun penuh diproyeksikan maksimal 5,2 persen, lebih rendah dari target pemerintah 5,4 persen.
Dampak ke masyarakat: apa yang terasa dan apa yang belum
Untuk masyarakat yang tidak bermain saham, dampaknya tidak langsung terasa di hari yang sama, tapi mekanismenya nyata. Rupiah yang melemah membuat barang impor, termasuk bahan baku industri dan sebagian kebutuhan pokok, berpotensi lebih mahal. Imbal hasil SBN yang tinggi berarti biaya utang pemerintah naik, yang pada gilirannya bisa menekan ruang anggaran.
Bagi peserta reksa dana saham dan dana pensiun yang portofolionya berisi saham domestik, pelemahan IHSG bisa tercermin pada nilai investasi mereka. Sebaliknya, penguatan saham tambang menunjukkan bahwa tidak semua sektor bergerak searah: investor yang memegang emiten komoditas justru relatif terlindungi pada hari itu. Inilah alasan analis menekankan diversifikasi, bukan panik menjual saat indeks merah.
Jadi, merah atau hijau?
Jawaban singkatnya: keduanya, tergantung di mana posisi Anda. IHSG sebagai cerminan pasar secara keseluruhan jelas merah pada 28 Oktober 2026, ditekan rupiah, obligasi, dan aksi jual asing. Tapi di bawah permukaan indeks, saham tambang membuktikan bahwa pasar masih selektif, bukan panik membabi buta. Pergerakan selanjutnya akan sangat ditentukan oleh data kinerja emiten kuartal III, keputusan The Fed, dan apakah rupiah bisa kembali menguat dari level Rp18.180.
Baca juga: IHSG Hari Ini Anjlok 4,31% ke Level 4.961, Ini Penyebabnya dan BEI Coret 80 Saham HSC dari Perhitungan IHSG.
FAQ: IHSG 28 Oktober 2026
Berapa IHSG pada pembukaan 28 Oktober 2026?
Mengutip data RTI pukul 09.05 WIB, IHSG turun 1,02 persen ke level 5.212,491. Laporan lain dengan waktu pencatatan berbeda mencatat penurunan hingga 1,5 persen ke 5.186.
Saham apa saja yang menguat saat IHSG anjlok?
Saham tambang: Vale Indonesia (INCO), Amman Mineral (AMMN), Merdeka Battery Materials (MBMA), dan Aneka Tambang (ANTM) tercatat menguat pada perdagangan pagi.
Berapa kurs rupiah pada 28 Oktober 2026?
Rupiah menembus Rp18.180 per dolar AS pada perdagangan pagi, menurut laporan yang mengutip analisis BRI Danareksa Sekuritas.
Apakah IHSG akan terus turun?
BNI Sekuritas memperkirakan pergerakan sideways, sementara BRI Danareksa menyebut risiko uji support 5.182–5.118. Keduanya adalah proyeksi analis, bukan kepastian.
Sumber: TradingView/Kontan, rancakmedia.com (data BEI), mediakompeten.co.id (Bloomberg Technoz, BRI Danareksa Sekuritas), owrite.id (BNI Sekuritas), validnews.id, diakses 28 Oktober 2026.




