IHSG anjlok pada Kamis, 29 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan ditutup turun 184,25 poin atau 3,49 persen ke level 5.098,057, setelah pagi harinya justru dibuka menguat. Pembalikan arah dalam satu hari perdagangan inilah yang membuat sesi Kamis terasa begitu menyesakkan bagi pelaku pasar.
Sehari sebelumnya, Rabu 28 Oktober 2026, IHSG masih ditutup menguat 0,31 persen ke 5.282,31, disertai pembelian bersih investor asing. Kamis pagi seolah melanjutkan cerita itu. Namun cerita berubah cepat, dan penutupan justru mencatat salah satu penurunan terdalam dalam beberapa waktu terakhir.
Pagi vs penutupan: dari 5.320 ke 5.098
Perbandingan tiga titik waktu ini merangkum drama Kamis dengan jelas. Pada pembukaan pukul 09.00 WIB, IHSG naik 22,89 poin atau 0,43 persen ke 5.305,20, lalu sempat menyentuh level tertinggi intraday 5.320,90. Indeks LQ45 ikut naik 0,42 persen ke 541,74. Suasana awal sesi tampak hijau, dengan ratusan saham menguat.
Menjelang siang, arah berbalik. IHSG menutup sesi I di 5.142,82, terkoreksi 139,49 poin atau 2,64 persen. Tekanan jual sudah meluas saat itu: Bloomberg Technoz mencatat 593 saham melemah berbanding hanya 92 saham yang menguat pada sesi I, dengan nilai transaksi Rp5,85 triliun.
Pada penutupan, IHSG makin merosot ke 5.098,057. Rentang pergerakan hari itu terbentang dari 5.098 hingga 5.320, dengan nilai transaksi sekitar Rp10 triliun menurut InvestorTrust. Indeks LQ45 turun 4,48 persen ke 515,28. Dari pembukaan yang hijau hingga penutupan yang merah pekat, jaraknya lebih dari 220 poin.
Semua sektor merah, saham big cap berguguran
Berbeda dengan pagi hari yang hampir semua sektornya menghijau, penutupan Kamis mencatat seluruh sektor berada di zona merah. Sektor industri turun 4,64 persen, barang baku melemah 4,53 persen, dan infrastruktur turun 4,24 persen. Sektor energi jatuh 3,29 persen, sementara sektor keuangan turun sekitar 2,2 persen dan teknologi melemah 2,40 persen. Transportasi mencatat penurunan paling kecil, 0,70 persen.
Tekanan paling terasa pada saham-saham berkapitalisasi besar. BBCA ditutup jatuh lebih dari 6,35 persen ke bawah Rp5.000, BBRI turun 3,77 persen, BMRI turun 3,13 persen, AMMN anjlok 4,10 persen, dan ASII jatuh 6,20 persen. Saham-saham emiten Prajogo Pangestu seperti BREN, BRPT, hingga CUAN juga ikut melemah. Di tengah kejatuhan itu, segelintir saham justru melesat, antara lain ALKA yang naik 24,86 persen ke Rp4.420 dan YPAS yang menguat 24,85 persen ke Rp1.055, keduanya hingga batas auto reject atas.
Apa pemicunya?
Bloomberg Technoz mengaitkan pelemahan sesi I dengan tekanan jual investor asing yang masih deras, di tengah ancaman MSCI menurunkan pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market, dua tingkat di bawah status Emerging Market saat ini. Ancaman evaluasi itu membuat sentimen terhadap saham-saham besar menjadi rapuh, sekalipun pembukaan sempat menguat.
Faktor eksternal menambah tekanan. Bank sentral Amerika Serikat, The Fed, mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75-4,00 persen, sesuai ekspektasi pasar, tetapi inflasi AS yang masih tinggi dan sinyal kebijakan moneter ketat yang masih terbuka membuat dolar AS tetap berpeluang menguat dan membatasi aliran modal ke pasar berkembang.
Menariknya, rupiah justru bergerak berlawanan arah dengan IHSG pada Kamis sore. Menurut Vibiznews, rupiah menguat 0,28 persen atau 50 poin ke Rp18.125 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya Rp18.175. Penguatan rupiah di tengah IHSG yang anjlok menunjukkan bahwa tekanan hari itu lebih spesifik ke pasar saham, bukan pelemahan menyeluruh atas aset Indonesia.
Apa artinya bagi investor ritel?
Artikel ini bukan rekomendasi beli atau jual. Namun ada tiga hal yang layak dicatat investor ritel dari sesi Kamis. Pertama, pembukaan yang hijau bukan jaminan: IHSG sudah berbalik arah dalam waktu sekitar satu jam setelah pembukaan. Kedua, pelemahan kali ini meluas ke hampir semua sektor, bukan hanya satu-dua saham, sehingga diversifikasi pun ikut tertekan pada hari yang sama.
Ketiga, konteksnya belum selesai. Evaluasi MSCI, arah aliran dana asing, dan kebijakan The Fed masih menjadi variabel yang akan memengaruhi sesi-sesi berikutnya. Sebelumnya, sentimen seputar perhitungan IHSG juga sempat menjadi sorotan, seperti diberitakan Klik Fakta dalam artikel BEI mengeluarkan saham HSC dari perhitungan IHSG. Bagi investor jangka panjang, sesi seperti Kamis adalah pengingat bahwa volatilitas adalah bagian dari pasar saham, bukan pengecualian.
FAQ
Berapa penutupan IHSG Kamis 29 Oktober 2026?
IHSG ditutup di 5.098,057, turun 184,25 poin atau 3,49 persen dari penutupan sebelumnya 5.282,31.
Kenapa IHSG anjlok padahal dibuka menguat?
Tekanan jual muncul tak lama setelah pembukaan dan meluas ke hampir semua sektor, di tengah derasnya aliran keluar investor asing dan ancaman evaluasi MSCI atas status pasar Indonesia.
Saham apa saja yang paling terpukul?
Di antaranya BBCA yang jatuh lebih dari 6,35 persen, ASII turun 6,20 persen, AMMN turun 4,10 persen, BBRI turun 3,77 persen, dan BMRI turun 3,13 persen.
Apakah rupiah ikut melemah?
Tidak. Rupiah justru menguat 0,28 persen ke Rp18.125 per dolar AS pada Kamis sore, berlawanan arah dengan IHSG.
Sumber: InvestorTrust, "IHSG Ditutup Babak Belur! Ambruk 3,49% ke 5.098, Saham Big Cap Berguguran" (investortrust.id); Vibiznews, "IHSG Kamis Ditutup Tergelincir 3,5% ke Level 5.098" (vibiznews.com); Bloomberg Technoz, "Ditekan Banyak Sentimen Negatif, IHSG Turun 2,64%" (bloombergtechnoz.com). Artikel ini dipublikasikan pada 29 Oktober 2026 dan bukan rekomendasi investasi.




