Kualitas udara Palangka Raya belum pulih sepenuhnya meski hujan akhirnya turun. Setelah berbulan-bulan diselimuti kabut asap, warga ibu kota Kalimantan Tengah ini masih diminta memantau angka polusi, bukan sekadar mengandalkan perasaan lega karena langit terlihat lebih terang.

Peringatan itu penting. Satu-dua kali hujan tidak otomatis membersihkan udara yang sudah berbulan-bulan terpapar asap kebakaran hutan dan lahan. Data pemantauan justru menunjukkan betapa ekstremnya kondisi yang sudah dilalui kota ini.

Ilustrasi asap kebakaran hutan yang menyelimuti kawasan perkotaan

Kronologi: dari langit oranye hingga hujan yang ditunggu

14 Oktober 2026 menjadi hari yang paling diingat warga. Langit Palangka Raya menguning pekat, bak memakai filter video. Sejumlah warga mengeluhkan mata perih dan dada sesak setelah terlalu lama berada di luar ruangan. Pada hari itu, pemantauan BMKG yang dikutip media lokal mencatat konsentrasi PM2.5 melonjak dari 549,1 mikrogram per meter kubik pada tengah malam menjadi 1.620,5 pada pukul 09.00 WIB, lalu 2.512,0 pada pukul 12.00 WIB, dan mencapai 3.340,4 pada pukul 13.00 WIB. Sebagai pembanding, kategori berbahaya dimulai di atas 250,5 mikrogram per meter kubik.

21 Oktober 2026, kabut asap masih menyelimuti Palangka Raya dan Palembang. Kepada Kompas TV, seorang warga Palangka Raya bernama Aris menggambarkan betapa asap mengganggu pekerjaan dan kesehatan keluarganya, hingga ia berharap status bencana nasional ditetapkan agar bantuan datang. Di Sumatera Selatan, kendala serupa muncul: keterbatasan air menghambat pemadaman kebakaran lahan gambut.

24 Oktober 2026, polusi kembali melonjak. Data yang dikutip media lokal mencatat PM2.5 sebesar 717,1 pada pukul 08.00 WIB dan 2.436,5 pada pukul 14.00 WIB, keduanya masih kategori berbahaya.

28 Oktober 2026, dua kabar datang bersamaan. Hujan akhirnya turun dan pemerintah mengerahkan 16.387 personel untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah, menurut laporan media lokal pada hari itu. Laporan yang sama menekankan satu hal: hujan saja belum cukup menjadi bukti udara aman.

Ilustrasi kabut asap pekat di kawasan permukiman

Kamis pagi: AQI masih tidak sehat

Pada Kamis pagi, 29 Oktober 2026, data Weather.com untuk Palangka Raya menunjukkan indeks kualitas udara (AQI) 170, kategori tidak sehat, dengan polutan utama PM2.5. Artinya, meski hujan sudah turun, partikel halus masih berada di level yang berisiko, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.

Perlu dibedakan: AQI dan konsentrasi PM2.5 memakai skala berbeda, tapi pesannya sama. Selama angka masih di zona tidak sehat, aktivitas luar ruangan sebaiknya dibatasi dan masker tetap dipakai, khususnya bagi kelompok rentan.

Apa yang masih harus dilakukan warga

Pertama, pantau data resmi, bukan sekadar melihat langit. Saluran resmi yang bisa dicek antara lain situs BMKG dan aplikasi InfoBMKG, yang juga dirujuk dalam peringatan cuaca nasional. Kedua, kurangi aktivitas berat di luar ruangan saat udara masih pekat. Ketiga, pastikan masker yang dipakai benar-benar mampu menyaring partikel halus, dan segera beristirahat di dalam ruangan bila mata perih atau napas mulai sesak.

Bagi warga yang tinggal di kawasan rawan, musim hujan yang mulai datang membawa kabar ganda: hujan membantu, tetapi juga membawa risiko lain seperti genangan dan penyakit yang menular lewat air. Panduan antisipasinya bisa dibaca di artikel waspada leptospirosis saat musim hujan.

Ilustrasi hujan turun di kawasan kota

FAQ

Apakah hujan berarti kabut asap sudah selesai?

Belum tentu. Hujan membantu menurunkan polusi, tetapi udara baru bisa dinyatakan membaik bila data pemantauan resmi menunjukkan angka yang stabil di kategori aman selama beberapa waktu, bukan hanya dari penampakan langit.

Berapa angka PM2.5 yang dianggap berbahaya?

Menurut klasifikasi yang dikutip media lokal dari Kementerian Lingkungan Hidup, konsentrasi PM2.5 di atas 250,5 mikrogram per meter kubik masuk kategori berbahaya. Kategori tidak sehat dimulai dari 55,5 mikrogram per meter kubik.

Siapa yang paling berisiko saat kualitas udara buruk?

Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita asma atau penyakit paru dan jantung. Kelompok ini sebaiknya paling membatasi aktivitas luar ruangan dan segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan bila keluhan muncul.

Sumber: Folitimes, Folitimes, Folitimes, Weather.com, BMKG.