Jalanan paling licin bukan selalu saat hujan deras. Justru ketika gerimis pertama turun setelah cuaca panas berkepanjangan, pengendara perlu meningkatkan kewaspadaan. Peringatan ini disampaikan dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Fauzan Ammar Putra, kepada Humas UMM pada 2 November 2026.

Penjelasannya sederhana tetapi sering diabaikan. Selama musim kemarau, pori-pori kecil pada aspal menampung residu kendaraan seperti bensin dan oli. Ketika hujan pertama turun, air mendorong residu minyak itu ke permukaan. Campuran air dan minyak membentuk lapisan tipis yang mengurangi kontak langsung antara ban dan aspal, sehingga daya cengkeram ban tidak optimal.

Pengendara motor di jalan basah

Ban aus memperbesar risiko

Kondisi ban menjadi faktor penting. Fauzan mengingatkan pengendara memeriksa kedalaman alur ban, tekanan angin, hingga kondisi karet sebelum perjalanan. Alur ban berfungsi mengalirkan air dari bidang kontak ban dengan jalan. Jika alur sudah terlalu dangkal, kemampuan membuang air berkurang dan daya cengkeram semakin menurun.

Ia juga mengingatkan agar tidak mengerik atau mengikis permukaan ban yang sudah aus secara manual, yang dikenal dengan istilah membatik ban. Ban yang sudah tidak layak sebaiknya diganti, karena grip-nya sudah tidak bisa bekerja maksimal. Mengakali ban aus justru menambah risiko di jalan basah.

Cara berkendara yang lebih aman saat hujan

Pertama, kurangi kecepatan dan jaga jarak lebih jauh dengan kendaraan di depan. Permukaan basah membuat jarak pengereman lebih panjang, sehingga ruang reaksi harus lebih besar. Kedua, hindari pengereman mendadak. Fauzan menyarankan pengereman bertahap agar roda tidak langsung mengunci; kalau terkunci, kendaraan justru bisa tergelincir.

Ketiga, waspadai aquaplaning: kondisi ketika lapisan air membuat ban kehilangan kontak optimal dengan jalan sehingga kendaraan sulit dikendalikan. Bila kendaraan terasa melayang, lepaskan pedal gas perlahan tanpa menginjak rem mendadak hingga traksi kembali terasa. Keempat, hindari genangan yang tidak diketahui kedalamannya, karena genangan bisa menyembunyikan lubang atau kerusakan jalan.

Motor melintasi jalan hujan

Perlengkapan yang sering disepelekan

Untuk pengendara motor, Astra Motor Yogyakarta melalui program safety riding mengingatkan pentingnya helm berstandar SNI dengan kaca pelindung yang bersih, agar pandangan tetap jelas. Jas hujan sebaiknya model setelan (jaket dan celana), bukan ponco, karena bagian ponco yang menjuntai berisiko tersangkut komponen motor atau kendaraan lain.

Periksa juga fungsi rem, lampu utama, dan lampu sein sebelum berangkat. Pencahayaan yang baik membantu pengendara melihat jalan, sekaligus membuat keberadaan motor lebih mudah diketahui pengguna jalan lain saat hujan mengurangi jarak pandang. Bila kondisi tidak memungkinkan, menepilah di tempat yang aman, dan hindari berhenti di bawah pohon atau dekat papan reklame.

Artikel terkait di Klik Fakta: Siaga Musim Hujan di Rumah: Panduan 8 Langkah BNPB.

Pengendara motor memakai jas hujan

FAQ

Kenapa gerimis pertama lebih licin daripada hujan deras?

Karena air hujan pertama mengangkat residu minyak dan bensin yang menumpuk di aspal selama kemarau, membentuk lapisan licin di permukaan jalan.

Apakah ban aus boleh dibatik agar kembali kasar?

Tidak disarankan. Dosen UMM menegaskan ban aus sebaiknya diganti karena daya cengkeramnya sudah tidak bisa bekerja maksimal.

Apa yang harus dilakukan bila motor terasa melayang di genangan?

Lepaskan gas perlahan, jangan rem mendadak, dan tunggu hingga traksi ban kembali terasa.

Sumber: Dosen Teknik Mesin UMM Fauzan Ammar Putra via Humas UMM, 2 November 2026; Astra Motor Yogyakarta, program safety riding. Artikel ini diterbitkan 4 November 2026.