Buka TikTok belakangan ini, dan kalimat "Stop the wedding, but..." muncul berulang-ulang. Tren "Stop the Wedding!" memakai lagu penyanyi Amerika Serikat Ashe, dan ribuan pengguna memakainya untuk menceritakan perilaku pasangan yang mereka anggap sebagai tanda bahaya. Hingga akhir Oktober, audio tersebut sudah digunakan dalam 1,8 juta unggahan, menurut laporan Bloomberg Technoz.

Yang menarik bukan lagunya, melainkan apa yang diceritakan orang-orang di baliknya. Bukan sekadar keluhan tentang pasangan, melainkan daftar panjang alasan mengapa seseorang ragu melangkah ke pelaminan: pasangan yang meremehkan, mengontrol, tidak bisa mengelola emosi, atau baru menunjukkan sifat aslinya setelah bertahun-tahun pacaran. Tren ini berubah menjadi semacam forum terbuka tempat orang saling mengingatkan, jangan menikah hanya karena sudah lama pacaran, sudah dilamar, atau sudah telanjur menyebar undangan.

Pasangan pengantin berpegangan tangan saat upacara pernikahan

Bukan takut menikah, takut salah menikah

Psikolog sekaligus seksolog klinis Zoya Amirin menilai tren ini mencerminkan perubahan cara anak muda memandang pernikahan. "Anak muda bukan takut menikah, mereka takut salah menikah. Dan secara klinis, itu dua hal yang sangat berbeda," ujarnya kepada Bloomberg Technoz, Selasa, 3 November 2026.

Menurut Zoya, perubahan prioritas, kebutuhan emosional, pengalaman masa lalu, hingga pertimbangan ekonomi membuat anak muda semakin selektif. Ekspektasi terhadap pasangan pun membesar: pernikahan kini diharapkan memenuhi banyak kebutuhan sekaligus. "Hari ini kita meminta satu orang untuk memberi apa yang dulu diberikan oleh satu kampung," jelasnya.

Kalimat itu menjelaskan mengapa standar terasa makin tinggi. Dulu, dukungan emosional, teman curhat, mitra finansial, dan pengasuhan anak bisa tersebar ke keluarga besar dan komunitas. Sekarang, sebagian besar beban itu ditumpuk ke satu orang: pasangan. Ketika pasangan itu ternyata tidak sanggup atau tidak mau memikulnya, kekecewaan pun terasa lebih besar.

Angka perceraian di balik tren

Tren ini juga ramai dibaca di tengah tingginya angka perceraian. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat 438.168 perkara perceraian di Indonesia sepanjang 2025, menurut laporan yang sama. Angka itu bukan bukti bahwa pernikahan sudah tidak relevan, tetapi menjadi latar mengapa banyak anak muda memilih berhati-hati.

Perlu dicatat, tren TikTok bukan data survei. Cerita-cerita di dalamnya dipilih karena dramatis dan mudah dibagikan, bukan karena mewakili semua hubungan. Namun popularitasnya menunjukkan ada kegelisahan yang luas dan selama ini jarang diucapkan terang-terangan: rasa takut bahwa keputusan menikah, yang sulit dibatalkan, diambil berdasarkan informasi yang tidak lengkap tentang pasangan.

Pengantin saling menggenggam tangan

Yang bisa dipetik, tanpa ikut menghakimi

Tren ini paling berguna bila dibaca sebagai pengingat, bukan sebagai vonis atas hubungan orang lain. Beberapa hal yang berulang kali muncul dalam cerita-cerita itu layak direnungkan siapa pun yang sedang mempertimbangkan pernikahan:

Perilaku, bukan janji. Banyak cerita berawal dari perilaku yang sudah terlihat sejak pacaran, tetapi diabaikan karena berharap berubah setelah menikah. Pernikahan jarang memperbaiki karakter; yang lebih sering terjadi, tekanan hidup bersama justru memperjelasnya.

Konflik itu data. Cara pasangan menyelesaikan pertengkaran, meminta maaf, dan menghormati batasan jauh lebih penting daripada seberapa romantis ia di hari-hari baik. Hubungan yang sehat bukan yang tanpa konflik, melainkan yang konfliknya tidak merusak rasa aman.

Tekanan sosial bukan alasan. Umur, lamanya pacaran, restu keluarga, dan biaya pesta yang sudah dikeluarkan adalah tekanan nyata, tetapi semuanya lebih murah daripada bertahun-tahun dalam pernikahan yang tidak sehat. Menunda atau membatalkan pernikahan yang diragukan bukan kegagalan, melainkan keputusan.

Di sisi lain, ada batas yang perlu dijaga. Seperti diingatkan dalam laporan tersebut, tren ini tidak seharusnya membuat setiap perbedaan atau kesulitan dalam hubungan langsung dianggap alasan membatalkan pernikahan. Hubungan apa pun punya masa sulit. Yang membedakan masalah yang bisa diperbaiki dengan tanda bahaya adalah pola: apakah masalahnya diakui dan diperbaiki bersama, atau diulang dan dibenarkan terus-menerus.

Pasangan pengantin berpose bersama

Jadi, apa yang berubah dari generasi ini?

Generasi sebelumnya lebih sering menikah karena itu adalah tahapan hidup yang diharapkan. Generasi sekarang menuntut jawaban atas pertanyaan yang lebih dulu: apakah orang ini aman untuk dijadikan mitra hidup? Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi mengubah segalanya, dari cara pacaran, cara membicarakan uang, hingga cara memandang perceraian, bukan lagi sebagai aib, melainkan sebagai jalan keluar terakhir yang sah.

Tren "Stop the Wedding!" mungkin akan meredup seperti tren TikTok lainnya. Tetapi kegelisahan di baliknya, takut salah memilih orang yang akan menemani puluhan tahun ke depan, tidak akan hilang secepat audionya. Dan mungkin memang tidak seharusnya hilang.

FAQ

Apa itu tren Stop the Wedding?

Tren TikTok yang memakai lagu Ashe, di mana pengguna membuka unggahan dengan kalimat "Stop the wedding, but..." lalu menceritakan perilaku pasangan yang dianggap tanda bahaya sebelum menikah. Audionya dipakai dalam 1,8 juta unggahan hingga akhir Oktober.

Berapa angka perceraian di Indonesia?

BPS mencatat 438.168 perkara perceraian di Indonesia sepanjang 2025.

Apa kata psikolog soal tren ini?

Psikolog Zoya Amirin menilai anak muda bukan takut menikah, melainkan takut salah menikah, dan semakin selektif karena perubahan prioritas, kebutuhan emosional, pengalaman masa lalu, serta pertimbangan ekonomi.

Apakah tren ini berarti semua hubungan bermasalah?

Tidak. Cerita di TikTok dipilih karena dramatis dan mudah dibagikan, bukan survei yang mewakili semua hubungan. Tren ini paling tepat dibaca sebagai pengingat untuk mengenali tanda bahaya, bukan vonis atas hubungan orang lain.

Sumber: Bloomberg Technoz (3 November 2026, "Viral Stop the Wedding dan Realitas Tingginya Angka Perceraian RI"); data perceraian BPS 2025 seperti dikutip laporan tersebut. Artikel ini diterbitkan 3 November 2026.