Revitalisasi sekolah menjadi angka yang paling sering dikutip dari laporan dua tahun Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen): 55.451 satuan pendidikan telah direvitalisasi dan dibangun sepanjang 2025 hingga 20 Oktober 2026. Angka itu disampaikan dalam Taklimat Media Dua Tahun Capaian Kemendikdasmen di Jakarta, Senin (26/10/2026), dan dimuat InfoPublik serta situs resmi Kemendikdasmen. Tapi angka besar saja tidak menjawab pertanyaan orang tua yang paling penting: apakah ruang belajar anak saya sudah layak, dan apakah perangkat digital yang datang benar-benar dipakai belajar?

Artikel ini memisahkan tiga hal yang sering tercampur dalam pemberitaan: capaian yang sudah terjadi, target yang masih berjalan, dan pekerjaan rumah yang belum terjawab. Semuanya merujuk pada data resmi yang sama, per 20 Oktober 2026.

Gedung sekolah di Indonesia

Yang sudah pasti: 55.451 sekolah, dengan prioritas yang jelas

Rinciannya begini. Pada 2025, program menjangkau 16.167 satuan pendidikan, melampaui target 10.440, dengan penyelesaian pembangunan 99,96 persen. Hingga 20 Oktober 2026, jangkauannya bertambah 39.284 satuan pendidikan dari target 31.744, atau 123,75 persen. Penyaluran dana dilakukan langsung ke sekolah lewat skema swakelola, melibatkan lebih dari 58 ribu UMKM lokal dan menyerap sekitar 238 ribu tenaga kerja.

Prioritasnya juga dinyatakan gamblang: sekolah dengan kerusakan berat, wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta sekolah terdampak bencana. Untuk pemulihan bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, 3.134 dari 3.178 sekolah sasaran sudah direvitalisasi (98,62 persen), dengan alokasi Rp1,4 triliun. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti sendiri menyebut capaian itu bukan hasil akhir, melainkan tolok ukur untuk perbaikan berkelanjutan.

Yang masih berjalan: papan digital belum setengah target 2026

Di sisi digitalisasi, ceritanya lebih timpang. Pada 2025, sebanyak 288.865 sekolah menerima papan interaktif digital (PID) beserta perangkat pendukung berupa laptop dan diska keras. Pada 2026, distribusi PID baru tercatat 72.258 unit dari target 742.536 unit. Artinya, target dua tahun yang disebut-sebut melampaui satu juta perangkat masih sangat bergantung pada sisa penyaluran 2026.

Kemdikdasmen juga mencatat pekerjaan pendukungnya: akses listrik untuk 2.389 sekolah, internet untuk 8.152 sekolah, dan pendampingan pemanfaatan PID untuk 126.097 sekolah. Angka pendampingan ini penting, karena perangkat tanpa pelatihan guru dan materi ajar hanya menjadi layar mahal di dinding kelas. Pemerintah menyatakan paket digitalisasi memang terdiri atas empat unsur: perangkat, laptop, pelatihan guru, dan fasilitas pendukung seperti internet, listrik, dan materi pembelajaran.

Guru menggunakan papan interaktif digital di kelas

Mengapa angka yang beredar bisa berbeda-beda

Pembaca yang teliti mungkin menemukan angka lain di media: ada yang menyebut lebih dari 55 ribu, ada yang menyebut lebih dari 59 ribu satuan pendidikan. Perbedaan itu umumnya soal waktu dan cakupan pelaporan, bukan serta-merta salah satu pihak berbohong. Patokan paling aman adalah data resmi Kemendikdasmen per 20 Oktober 2026 yang dirilis 27 Oktober 2026: 55.451 sekolah.

Prinsip yang sama berlaku untuk target akhir tahun. Pemerintah menargetkan jumlah sekolah yang direvitalisasi mendekati 80.000 pada akhir 2026. Itu target, bukan capaian. Membedakan keduanya adalah cara paling sederhana untuk membaca laporan pemerintah tanpa terjebak euforia angka.

Yang belum terjawab: dari gedung dan layar ke mutu belajar

Laporan resmi juga memuat sisi lain yang sering luput: kesejahteraan dan kompetensi guru. Pada 2026, penerima Tunjangan Profesi Guru (TPG) non-ASN mencapai 804.788 orang dan Tunjangan Khusus Guru (TKG) non-ASN 31.131 orang, dengan TPG non-ASN non-inpassing naik dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta sejak 2025. Sebanyak 868.615 guru mengikuti Pendidikan Profesi Guru bagi Guru Tertentu sepanjang 2025-2026, dan 53.023 guru mengikuti pelatihan koding dan AI.

Namun laporan itu belum menjawab pertanyaan lanjutan yang wajar: berapa banyak sekolah yang perangkat digitalnya dipakai setiap hari, bukan sekadar terpasang? Apakah ruang yang direvitalisasi diikuti perbaikan sanitasi dan keamanan yang bertahan lama? Dan apakah capaian ini merata hingga sekolah 3T, atau menumpuk di daerah yang memang sudah mudah dijangkau? Pertanyaan-pertanyaan itu bukan tuduhan, melainkan daftar periksa untuk laporan berikutnya.

Suasana belajar siswa di sekolah

Bagi orang tua dan guru, cara membaca kabar ini cukup praktis. Tanyakan ke sekolah: apakah sekolah Anda termasuk yang direvitalisasi atau menerima PID, dan pelatihan apa yang sudah diikuti gurunya? Kalau jawabannya belum jelas, itu bukan kegagalan Anda sebagai orang tua, melainkan informasi yang memang perlu ditagih ke dinas pendidikan setempat. Gedung yang diperbaiki dan layar yang menyala adalah awal yang baik. Mutu belajar adalah bab berikutnya, dan bab itu belum selesai ditulis. Terkait program sekolah lainnya, baca juga revitalisasi sekolah 2026 senilai Rp26 triliun dan fakta dua model Sekolah Unggul Garuda.

FAQ

Berapa sekolah yang sudah direvitalisasi?
55.451 satuan pendidikan sepanjang 2025 hingga 20 Oktober 2026, menurut data resmi Kemendikdasmen.

Berapa targetnya hingga akhir 2026?
Mendekati 80.000 satuan pendidikan. Itu target, bukan capaian yang sudah terjadi.

Berapa papan interaktif digital yang sudah disalurkan?
288.865 sekolah pada 2025, ditambah 72.258 unit pada 2026 dari target 742.536 unit.

Apakah semua sekolah sudah menerima perangkat digital?
Belum. Distribusi 2026 masih jauh dari targetnya, dan pendampingan pemanfaatan baru menjangkau 126.097 sekolah.

Sumber: Kemendikdasmen via BPMP Banten (27 Oktober 2026), InfoPublik (27 Oktober 2026), Vibizmedia (2 November 2026). Artikel dipublikasikan 3 November 2026.