Pickleball Indonesia diam-diam naik daun. Setelah padel lebih dulu menjadi olahraga raket kekinian di kota-kota besar, kini muncul penantang yang disebut-sebut lebih merakyat: lapangan yang lebih kecil, peralatan lebih sederhana, dan permainan yang bisa langsung dinikmati pemula dalam sekali coba. Pertanyaannya, apakah pickleball benar-benar akan menggeser padel, atau justru tumbuh berdampingan?
Jawabannya mungkin yang kedua. Pengamat industri kebugaran menilai kedua olahraga ini membidik pasar yang berbeda: padel mempertahankan basis penggemar yang menyukai permainan intensif dan bernuansa eksklusif, sementara pickleball menguasai pasar yang lebih luas karena konsepnya yang terjangkau dan menyenangkan untuk keluarga maupun kolega kerja.
Apa Itu Pickleball?
Pickleball adalah olahraga paddle yang memadukan unsur tenis, bulu tangkis, dan tenis meja. Pemain memakai raket berpermukaan rata (paddle) dan bola plastik berlubang yang lajunya lebih stabil dan mudah dikendalikan dibanding bola tenis. Lapangan resminya berukuran 6,1 meter x 13,4 meter, jauh lebih kecil dari lapangan tenis, sehingga tidak menuntut fisik sekeras padel maupun tenis.
Karakter inilah yang membuat kurva belajarnya pendek. Seorang pemula bisa merasakan reli yang menyenangkan dalam 30 menit pertama memegang paddle, sementara pemain berpengalaman tetap tertantang oleh kedalaman strateginya. Yang paling membedakan: pickleball bisa dimainkan lintas generasi. Kakek bisa beradu dengan cucu, anak bisa bermain bersama orang tua, dan outing kantor tidak lagi hanya dinikmati karyawan yang paling atletis.
Pickleball vs Padel: Di Mana Bedanya?
Biaya dan akses. Padel membutuhkan lapangan berdinding kaca yang mahal dibangun dan disewa. Pickleball bisa dimainkan di permukaan datar mana pun, dari area permukiman, sekolah, hingga fasilitas publik, sehingga biaya bermainnya jauh lebih rasional. Inilah keunggulan kompetitif terbesarnya dari sisi inklusivitas.
Intensitas. Padel cepat, intens, dan mengandalkan pantulan dinding kaca. Pickleball lebih ringan, gerakannya tidak menguras tenaga, dan minim risiko cedera, sehingga cocok untuk semua rentang usia, dari anak-anak hingga lansia.
Suasana. Keduanya sama-sama sosial, tapi pickleball menempatkan interaksi di depan: format ganda membuat pemain terus berkomunikasi, dan komunitasnya tumbuh lewat turnamen antar komunitas yang kini digelar hampir setiap bulan di berbagai daerah.
Untuk gambaran soal padel yang lebih dulu viral, baca juga tren padel di Indonesia.
Bukti Gelombangnya di Indonesia
Popularitas pickleball tidak lagi sekadar wacana. Pengurus Besar Indonesia Pickleball Federation (PB IPF) mencatat sepanjang 2025 telah digelar kejuaraan nasional serta turnamen pelajar yang didukung perguruan tinggi, dan menargetkan kejuaraan internasional yang mengundang negara-negara tetangga.
Wakil Ketua Umum PB IPF Harlin Rahardjo bahkan memperkenalkan tradisi "ngabuburit pickleball" pada Ramadhan 2026: olahraga ringan menjelang berbuka yang menjaga kebugaran tanpa menguras energi. "Pickleball cocok untuk ngabuburit karena tidak terlalu intens, tidak menguras tenaga, gerakannya ringan, tapi tetap aktif dan menyehatkan," ujarnya.
Di daerah, fasilitasnya mulai bermunculan. Di Semarang, misalnya, venue DinkDonk di kawasan Candi Golf, Jangli, menghadirkan empat lapangan sekaligus. Manajer operasionalnya, Indah Prastiwi, menyebut pickleball dapat dimainkan segala usia karena bolanya lebih ringan dibanding bola tenis, dan instruktur pendamping pemula mulai dihadirkan sejak pertengahan Juni 2026.
Cara Memulai dari Nol
Pertama, cari komunitas atau venue terdekat dan ikut sesi pemula: sebagian besar venue menyediakan instruktur pendamping. Kedua, jangan langsung membeli paddle mahal; sewa dulu dan rasakan berat serta genggamannya. Ketiga, mulai dari format ganda yang santai, fokus pada reli panjang, bukan pukulan keras. Keempat, pakai sepatu lapangan yang mendukung gerakan lateral, karena pickleball banyak bergerak ke samping. Dan yang terpenting, datang bersama teman: pickleball memang dirancang sebagai olahraga sosial.
Jadi, Padel Tergusur?
Belum tentu, dan mungkin tidak perlu. Padel tetap punya daya tariknya sendiri sebagai olahraga intensif dengan atmosfer lapangan kaca yang fotogenik. Yang berubah adalah pilihan: warga kota kini punya alternatif olahraga raket yang lebih murah, lebih mudah, dan lebih inklusif. Bila padel adalah soal gengsi dan kecepatan, pickleball adalah soal kebersamaan dan keberlanjutan. Dan untuk gaya hidup aktif yang ingin bertahan lama, yang kedua itu sering kali justru menang.
FAQ
Apa beda pickleball dan padel?
Pickleball memakai paddle rata dan bola plastik berlubang di lapangan kecil tanpa dinding kaca, dengan intensitas lebih ringan dan biaya lebih murah. Padel memakai raket berlubang dan memanfaatkan dinding kaca, dengan permainan lebih cepat dan intens.
Apakah pickleball sulit dipelajari pemula?
Tidak. Pemula umumnya bisa menikmati reli dalam 30 menit pertama, dan permainan ini cocok untuk semua usia, dari anak-anak hingga lansia.
Apakah ada federasi pickleball di Indonesia?
Ya, Pengurus Besar Indonesia Pickleball Federation (PB IPF), yang menggelar kejuaraan nasional, turnamen pelajar, dan turnamen antar komunitas.
Berapa ukuran lapangan pickleball?
Lapangan resmi berukuran 6,1 meter x 13,4 meter, dengan area total sekitar 9,1 meter x 18,3 meter termasuk zona penyangga yang disarankan.
Sumber: USMTV, "Pickleball Mulai Dilirik, Akankah Geser Popularitas Padel di Indonesia?"; Datra, "Why Pickleball Is the Future of Sports in Indonesia"; Juara.net, "Tradisi 'Ngabuburit Pickleball'"; OBNews, "Pickleball Hadir di Kota Semarang". Artikel ini diterbitkan 1 November 2026.




