Setelah lebih dari sebulan membara, karhutla Way Kambas di Lampung Timur akhirnya padam. Hujan ringan hingga sedang yang mengguyur kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) sejak Selasa malam hingga Rabu (27-28/10/2026) menjadi penentu, setelah petugas gabungan berjibaku memadamkan api di lahan gambut yang berkali-kali menyala kembali.
Kabar baiknya, satwa yang paling dikhawatirkan publik aman. Pusat Latihan Gajah (PLG) tidak tersentuh api sama sekali. Jarak titik api terakhir dengan kandang gajah berkisar 14 hingga 16 kilometer, menurut keterangan BPBD Lampung dan Balai TNWK yang angkanya sedikit berbeda karena titik ukur yang tidak sama.
Kronologi: Sebulan Api di Way Kambas
22 September 2026 — api pertama tercatat. Berdasarkan data BNPB, karhutla di TNWK mulai terjadi pada 22 September 2026. Sejak itu, api muncul di sejumlah titik di dalam kawasan konservasi yang menjadi rumah bagi gajah sumatra dan badak sumatra.
22 dan 25 September — pemadaman udara pertama. Tim gabungan melakukan pemadaman lewat udara pada 22 dan 25 September 2026. Upaya darat berjalan paralel, tetapi karakter lahan gambut membuat bara tersembunyi di bawah permukaan tanah dan api kerap muncul lagi pada sore hingga malam hari.
Januari hingga awal Oktober — 21 kejadian, 7.000 hektare. Merujuk data TNWK, sepanjang Januari hingga awal Oktober 2026 tercatat setidaknya 21 kejadian kebakaran di dalam kawasan hutan TNWK, dengan luas mencapai 7.000 hektare yang didominasi semak belukar di atas tanah gambut. Angka ini adalah akumulasi seluruh kejadian, bukan luas satu titik api.
22 dan 24 Oktober — pemadaman udara berlanjut. BNPB mencatat pemadaman udara kembali dilakukan pada 22 dan 24 Oktober 2026. Per 24 Oktober, masih ada sekitar 16 hektare lahan terbakar yang belum padam, menurut Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan.
Sabtu, 24 Oktober — titik baru di Susukan Baru. Kebakaran terpantau di titik baru kawasan perbatasan TNWK dengan areal perkebunan, tepatnya wilayah Rawa Harjo, Sedeng Kerep, dan Unguan di Desa Rantau Jaya Udik 2, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur. Vegetasi alang-alang dan semak belukar yang mengering, ditambah angin kencang, membuat api cepat menjalar di permukaan lahan.
Senin, 26 Oktober — klarifikasi dan hotspot nol. Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung, Aswarodi, menggelar konferensi pers untuk meluruskan kabar yang beredar: titik kebakaran baru itu berada sekitar 14 kilometer dari Pusat Latihan Gajah, bukan di kawasan kandang gajah. Pada hari yang sama, Humas Balai TNWK, Riri Fitriandi, menyampaikan bahwa pantauan Satelit Sipongi secara real-time menunjukkan titik panas di dalam kawasan TNWK sudah nol.
Selasa-Rabu, 27-28 Oktober — hujan membantu pendinginan. Hujan ringan hingga sedang mengguyur sejumlah wilayah Lampung, termasuk TNWK, sejak Selasa malam hingga Rabu. Kepala Balai TNWK, MDH Zaidi, menyatakan pada Rabu (28/10/2026) bahwa api sudah tidak terlihat, tetapi petugas masih melakukan pendinginan di beberapa titik, salah satunya Resor Susukan Baru, dan terus berpatroli mencari bara yang masih menyala.
Mengapa Gambut Begitu Sulit Dipadamkan?
Penjelasan petugas di lapangan konsisten: api di lahan gambut tidak cukup dipadamkan di permukaan. Bara bisa bertahan di bawah lapisan tanah dan menyala kembali ketika kondisi mengering atau angin menguat. Karena itu, meski hotspot satelit sudah nol, tim gabungan yang terdiri atas TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, pengelola TNWK, Masyarakat Peduli Api, dan relawan tetap disiagakan penuh.
Operasi di TNWK juga mengerahkan sekitar 360 personel gabungan tim darat dan udara, termasuk helikopter water bombing. Pada Rabu (28/10/2026) pukul 13.00 WIB, BMKG Lampung masih mendeteksi 61 titik panas berkepercayaan tinggi dan sedang di seluruh provinsi, terbanyak di Kabupaten Tulang Bawang dengan 17 titik. Artinya, ancaman karhutla di Lampung belum sepenuhnya lewat, meski api di dalam TNWK sudah padam.
Dampak Lokal yang Perlu Diwaspadai
Bagi warga sekitar TNWK, padamnya api bukan akhir kewaspadaan. Asap tipis masih bisa muncul dari titik gambut, dan kualitas udara dapat memburuk sewaktu-waktu. Warga yang beraktivitas di luar ruangan diimbau memakai pelindung diri bila udara terasa berasap, serta segera melapor ke petugas bila melihat titik api baru.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat soal rapuhnya kawasan konservasi di musim kemarau panjang. Way Kambas bukan sekadar hutan: ia adalah pusat latihan dan perlindungan gajah sumatra, satwa yang statusnya kritis. Setiap kebakaran di kawasan ini bukan hanya soal hektare yang terbakar, melainkan soal habitat yang butuh waktu lama untuk pulih.
Selama patroli masih berjalan, publik sebaiknya tidak menganggap kasus ini selesai total. Yang selesai adalah fase pemadaman titik api. Fase berikutnya, pendinginan dan pengawasan bara gambut, justru menentukan apakah api benar-benar tidak kembali.
FAQ
Apakah gajah di Way Kambas aman dari kebakaran?
Ya. Balai TNWK memastikan areal kandang gajah tidak terbakar. Jarak titik api terakhir dengan Pusat Latihan Gajah sekitar 14 kilometer menurut BPBD Lampung dan 16 kilometer dalam garis lurus menurut Balai TNWK.
Kapan karhutla Way Kambas mulai terjadi?
Berdasarkan data BNPB, karhutla di TNWK mulai terjadi pada 22 September 2026 dan berlangsung lebih dari satu bulan, dengan pemadaman udara pada 22 dan 25 September serta 22 dan 24 Oktober 2026.
Mengapa api di Way Kambas sulit padam?
Karena sebagian area terbakar merupakan lahan gambut. Bara dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan menyala kembali pada sore hingga malam hari, sehingga petugas harus terus melakukan pendinginan dan patroli meski hotspot satelit sudah nol.
Apakah karhutla di Lampung sudah selesai?
Belum sepenuhnya. Api di dalam kawasan TNWK sudah tidak terlihat per 28 Oktober 2026, tetapi BMKG Lampung masih mendeteksi 61 titik panas di provinsi itu pada hari yang sama, sehingga pengawasan tetap berjalan.
Sumber: Kompas (28/10/2026, laporan dari Bandar Lampung); Validnews (26/10/2026, data BNPB); BPBD Provinsi Lampung (konferensi pers 26/10/2026); Balai TNWK (keterangan 26-28/10/2026); BMKG Lampung (data titik panas 28/10/2026). Baca juga cara melindungi diri dari asap karhutla dan dampak ISPA akibat karhutla di 7 provinsi. Artikel ini diterbitkan 28 Oktober 2026.




