Dalam pekan yang sama, dua gunung di Pulau Jawa terbakar. Kebakaran Gunung Ciremai yang muncul Rabu malam (21/10/2026) di Kuningan kini merambat hingga Majalengka, sementara api di Gunung Sumbing belum padam sejak Senin (19/10/2026) dan sudah melahap 779,4 hektare hutan lindung.
Penanganannya berbeda jauh. Di Ciremai, 730 personel gabungan dikerahkan plus water bombing helikopter TNI AU, dan warga yang membantu pemadaman dijanjikan insentif Rp250 ribu per hari. Di Sumbing, petugas masih mengandalkan jalur darat karena water bombing belum disetujui. Satu hal yang sama: angin kencang dan musim kering jadi penyebab utama di kedua lokasi.
Ciremai: dari Cibuntu Merambat ke Majalengka
Api pertama terdeteksi Rabu malam, 21 Oktober 2026, di Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan — kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Sehari kemudian, Kamis malam (22/10), api merambat dari Blok Cidulang di Kuningan ke Blok Masawah di Majalengka, dibantu angin kencang dan vegetasi kering di sekitar Gunung Dulang dan Tagog Anjing.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turun langsung ke lapangan. Ia bahkan absen dari Rakornas TPAKD 2026 di JIExpo Kemayoran, Kamis (22/10) — ketidakhadirannya sempat disinggung Presiden Prabowo Subianto saat memeriksa kehadiran para gubernur. Dedi menyiapkan insentif Rp250.000 per orang per hari bagi warga Desa Seda, Desa Cibuntu, dan Kecamatan Pasawahan yang membantu petugas memadamkan api, plus bonus bila api cepat padam.
Jumat (23/10) pukul 14.00 WIB, operasi udara dimulai: helikopter Caracal TNI AU lepas landas pukul 13.30 dari Lanud Sugiri Sukani menuju blok Cipariuk untuk water bombing. Total 730 personel gabungan terlibat — TNI/Polri, Brimob Polda Jabar, Yonif TP 839/SA, BPBD, BTNGC, damkar, Tagana, relawan, hingga masyarakat sekitar.
Sumbing: Empat Hari, 779,4 Hektare, Belum Padam
Di Jawa Tengah, kebakaran hutan Gunung Sumbing yang meliputi wilayah Kabupaten Temanggung dan Wonosobo berlangsung sejak Senin (19/10) dan hingga Jumat (23/10) pagi masih belum padam. Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Kedu Utara mencatat luas kawasan terdampak mencapai 779,4 hektare — angka yang masih bisa berubah mengikuti perkembangan di lapangan.
Api yang belum padam berada di petak 20-1 wilayah Temanggung dan petak 23 wilayah Wonosobo. Vegetasi yang paling banyak terbakar meliputi sabana dan hutan kemlandingan, dan api mulai menjangkau sebagian hutan rimba campuran berisi pohon bintamin, puspa, dan akasia. Seluruh kawasan yang terdampak berstatus hutan lindung.
Berbeda dengan Ciremai, opsi pemadaman lewat udara di Sumbing belum dieksekusi. Menurut KPH Kedu Utara, keputusan soal water bombing masih menunggu ketentuan dan persetujuan pihak yang berwenang, meski sebelumnya didorong oleh Kapolda. Untuk sementara, petugas terus memantau perkembangan kebakaran dari darat.
Satu Kendala yang Sama: Angin dan Musim Kering
Baik di Ciremai maupun Sumbing, petugas menyebut dua biang keladi yang sama: cuaca kering dan angin kencang. Di Ciremai, angin membuat api "berlari" dari Kuningan ke Majalengka dalam semalam; di Sumbing, tiupan angin membuat pergerakan api lebih cepat daripada kemampuan petugas memadamkannya. Medan yang terjal dan berbatu memperparah keadaan karena sejumlah titik api sulit dijangkau lewat jalur darat.
Kemarau panjang 2026 memang belum selesai memberi pekerjaan rumah. Di Lampung, warga sampai harus ngangsu air dari sumur bor setiap hari karena penampungan mengering — baca kisahnya di sini. Konteks karhutla nasional juga masih panas: 11 korporasi baru saja ditetapkan sebagai tersangka kebakaran hutan dan lahan — kronologi lengkapnya di sini.
FAQ
Di mana kebakaran Gunung Ciremai terjadi?
Di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Api pertama terdeteksi Rabu malam, 21 Oktober 2026, di Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, lalu merambat ke Blok Masawah, Majalengka, pada Kamis malam (22/10).
Berapa luas kebakaran Gunung Sumbing?
779,4 hektare per Jumat pagi, 23 Oktober 2026, menurut KPH Kedu Utara. Angka ini masih dapat berubah mengikuti perkembangan di lapangan.
Apakah water bombing sudah dipakai?
Di Ciremai sudah — Jumat (23/10) pukul 14.00 WIB helikopter Caracal TNI AU mulai operasi water bombing di blok Cipariuk. Di Sumbing belum, masih menunggu persetujuan pihak berwenang.
Mengapa api sulit dipadamkan?
Kombinasi cuaca kering, angin kencang, dan medan terjal berbatu yang sulit dijangkau petugas lewat jalur darat.
Sumber: bsinews.id (Ketua MPA Silihwangi Majakuning, 22/10/2026); beritanow.com (insentif warga, 22/10/2026); kejakimpolnews.com (water bombing, 23/10/2026); lensahukum.co.id (pernyataan Dedi Mulyadi, 23/10/2026); validnews.id via Antara (KPH Kedu Utara, 23/10/2026). Artikel ini ditulis 23 Oktober 2026; data lapangan dapat berubah.




