Setiap pagi dan sore, Suparno membawa dua jeriken kosong menuju kantor pemerintahan kampungnya. Bukan untuk urusan administrasi — ia ngangsu, mengambil air dari sumur bor umum. Rutinitas ini sudah ia jalani sejak awal Agustus, dan belum ada tanda akan berhenti. Kemarau panjang Lampung yang melanda sejak Juni 2026 membuat air hujan yang biasa ditampung warga habis tak bersisa.

Warga menampung air dari sumur bor umum di Kampung Bumi Dipasena Agung saat kemarau panjang

Suparno tinggal di Kampung Bumi Dipasena Agung, Kecamatan Rawajitu Timur, Kabupaten Tulang Bawang. Bagi warga di wilayah ini, air hujan bukan sekadar cadangan — ia adalah sumber utama air rumah tangga, terutama untuk mandi dan mencuci. Ketika kemarau berlangsung berbulan-bulan, bak-bak penampungan di rumah satu per satu mengering.

Empat Jeriken Sehari, Pagi dan Sore

Kebutuhan air keluarga Suparno tidak kecil: minimal empat jeriken setiap hari. Strateginya sederhana — dua jeriken di pagi hari, dua jeriken di sore hari.

"Saya mah udah mulai ngangsu ini dari awal Agustus lalu. Walaupun air sumur ini masih rada-rada keruh, tapi alhamdulillah, masih layak kok. Jadi setiap habis ngangsu, saya diamkan dulu airnya sekitar 2–4 jam sebelum saya pakai, biar serat-serat atau kotorannya itu mengendap dulu. Baru lah saya pakai buat mandi, buat nyuci," ungkap Suparno saat ditemui pada Rabu, 21 Oktober 2026.

"Untuk kebutuhan sehari minimal empat jeriken air, jadi saya kurang lebih ngangsu dua jeriken setiap pagi dan dua jeriken setiap sore," tambahnya.

Air yang didiamkan 2–4 jam agar kotorannya mengendap — itulah "teknologi" pengolahan air ala Suparno. Sederhana, tapi menuntut kesabaran: air yang baru diambil tidak bisa langsung dipakai.

Suparno, warga Kampung Bumi Dipasena Agung yang terdampak kemarau panjang 2026

Sumur Bor Umum Jadi Penyelamat

Untungnya, kampung ini tidak hanya punya satu sumur bor. Ponidi, Kaur Tata Usaha dan Umum Pemerintah Kampung Bumi Dipasena Agung, menyebut warganya "cukup beruntung" karena selain sumur bor di kantor pemerintahan kampung, ada juga sumur bor di sejumlah fasilitas umum — termasuk milik musala di tiap wilayah RW atau kesukuan.

"Alhamdulillah, kita cukup beruntung karena di kampung ini ada sumur bor umum yang bisa dimanfaatkan masyarakat. Jumlahnya juga tidak hanya satu. Selain sumur bor yang berada di kantor pemerintahan kampung, ada juga sumur bor di beberapa fasilitas umum, seperti sumur milik musala di wilayah RW atau kesukuan masing-masing. Jadi, warga bisa mengambil air dari lokasi yang lebih dekat dengan rumahnya, tidak harus semuanya datang ke kantor kampung," ujar Ponidi.

Setiap hari warga bergantian datang membawa jeriken, galon, dan wadah penampung lainnya. Aktivitas mengangsu ini dilakukan pagi, sore, bahkan malam hari — sudah menjadi rutinitas tambahan di luar pekerjaan sehari-hari.

Yang Mampu Beli, Yang Tidak Memikul

Tidak semua warga ngangsu. Mereka yang kemampuan ekonominya lebih baik memilih membeli air dari sumber mata air di luar Kecamatan Rawajitu Timur. Tapi jaraknya jauh, biayanya tidak sedikit, dan tidak semua orang bisa mengandalkannya setiap hari.

Di sinilah kemarau menunjukkan wajahnya yang paling tidak adil: warga seperti Suparno membayar dengan waktu dan tenaga — dua kali sehari, setiap hari, berbulan-bulan — sementara yang lain membayar dengan uang. Keduanya sama-sama terbebani, hanya bentuknya berbeda.

Ilustrasi warga mengambil air dari sumur saat musim kemarau

Ponidi berharap fasilitas yang ada dimanfaatkan bersama dengan baik. "Harapannya, fasilitas yang sudah ada ini bisa dimanfaatkan bersama dengan baik. Warga juga perlu saling menjaga dan menggunakan air secukupnya, supaya sumber air yang tersedia bisa membantu kebutuhan masyarakat selama musim kemarau," tambahnya.

Satu peringatan penting dari kisah ini: air sumur yang terlihat lebih jernih setelah didiamkan belum tentu aman untuk diminum. Untuk kebutuhan konsumsi, warga tetap diimbau memakai air yang terjamin keamanannya. Air sumur bor di kampung ini lebih banyak dipakai untuk mandi dan mencuci, karena sebagian warga menilai kejernihannya masih kurang.

Bagi Suparno dan tetangganya, penantian kini sederhana saja: hujan turun, bak-bak penampungan terisi lagi, dan rutinitas ngangsu dua kali sehari bisa berhenti. Sampai hari itu tiba, jeriken-jeriken kosong akan terus dibawa bolak-balik setiap pagi dan sore.

FAQ

Apa itu ngangsu?

Ngangsu adalah istilah yang dipakai warga Kampung Bumi Dipasena Agung untuk kegiatan mengambil dan mengangkut air dari sumur ke rumah, biasanya dengan jeriken atau galon.

Di mana Kampung Bumi Dipasena Agung?

Di Kecamatan Rawajitu Timur, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Kemarau panjang di sana berlangsung sejak Juni 2026.

Berapa kebutuhan air warga per hari?

Contohnya keluarga Suparno membutuhkan minimal empat jeriken air setiap hari — diambil dua jeriken pada pagi hari dan dua jeriken pada sore hari dari sumur bor umum.

Apakah air sumur bor aman diminum?

Belum tentu. Air yang terlihat jernih setelah didiamkan belum tentu aman untuk dikonsumsi. Warga memakainya terutama untuk mandi dan mencuci; kebutuhan minum sebaiknya memakai air yang terjamin keamanannya.

Sumber: Website resmi Kampung Bumi Dipasena Agung (artikel M. Yunus, 21 Oktober 2026; dipublikasikan 22 Oktober 2026). Artikel ini ditulis 23 Oktober 2026. Seluruh kutipan berasal dari sumber tersebut.