Indonesia kini menjadi salah satu negara dengan pengguna kecerdasan buatan (AI) paling aktif di dunia. Laporan Ericsson ConsumerLab yang dirilis 28 Oktober 2026 menempatkan Indonesia di posisi kedua dari 27 pasar yang diteliti untuk penggunaan AI multimodal harian, dengan 22 persen konsumen memakai AI setiap hari lewat gabungan teks, gambar, video, suara, hingga dokumen.

Yang membuat temuan ini penting bukan sekadar peringkatnya. Cara orang Indonesia memakai AI sedang berubah: dari sekadar mengetik pertanyaan menjadi berinteraksi lewat banyak format sekaligus. Perubahan itu, menurut Ericsson, ikut mengubah tuntutan terhadap jaringan telekomunikasi, dari yang tadinya cukup cepat menjadi harus responsif, stabil, dan andal di setiap momen.

Ilustrasi penggunaan AI di ponsel pintar

Apa itu AI multimodal, dan kenapa Indonesia cepat mengadopsinya?

AI multimodal adalah sistem AI yang bisa memahami dan mengolah lebih dari satu jenis masukan dalam satu interaksi. Contohnya: memotret struk belanja lalu meminta AI meringkasnya, mengirim rekaman suara untuk ditranskrip dan dijawab, atau mengunggah dokumen dan meminta penjelasan atas isinya. Semua itu terjadi dalam satu percakapan, bukan aplikasi yang berbeda-beda.

Konteks Indonesia ikut menjelaskan kenapa adopsinya tinggi. Mayoritas aktivitas digital masyarakat berjalan lewat ponsel, dan format visual serta suara sudah lama menjadi bahasa sehari-hari di media sosial, pesan instan, dan video pendek. Ketika AI mulai bisa "membaca" foto dan "mendengar" suara dengan cukup baik, hambatan untuk memakainya ikut turun, termasuk bagi pengguna yang kurang nyaman mengetik panjang.

Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, dalam laporan tersebut menekankan bahwa jaringan harus memberi pengalaman yang cepat, responsif, dan andal saat konsumen memakai AI lewat beragam konten dan perangkat, sekaligus mendukung keamanan serta kepercayaan dalam setiap interaksi digital.

Dari AI yang menjawab ke AI yang mengerjakan

Laporan bertajuk An Agentic Life: How Consumer AI Usage is Shaping Future Network Needs ini juga menyoroti tahap berikutnya: agentic AI, yakni AI yang tidak hanya menjawab, tetapi menjalankan tugas atas nama pengguna, seperti menyusun jadwal, membandingkan produk, atau mengurus pembelian berulang.

Untuk Indonesia, riset ini memproyeksikan adopsi agentic AI melonjak dari 8 persen saat ini menjadi 44 persen pada 2030. Sementara penggunaan AI multimodal secara intensif diproyeksikan mencapai 45 persen pada 2030, di atas proyeksi rata-rata global sebesar 30 persen.

Pengguna berinteraksi dengan asisten AI lewat berbagai format

Kenapa jaringan jadi ikut "bekerja" lebih berat?

Bayangkan perbedaannya. AI teks hanya mengirim dan menerima rangkaian kata yang ringan. AI multimodal mengirim foto beresolusi tinggi, klip video, dan rekaman suara, lalu menerima jawaban yang juga bisa berupa gambar atau video. Beban datanya jauh lebih besar, dan pengguna mengharapkan jawabannya datang nyaris seketika.

Di tahap agentic, bebannya bertambah lagi dari sisi yang kurang terlihat: AI bekerja di latar belakang, memeriksa harga, mengecek jadwal, atau memantau stok secara berkala. Ericsson menyebut agen-agen AI ini berpotensi menjadi "pengguna jaringan yang tak terlihat" pada akhir dekade, sehingga operator perlu menangani lonjakan aktivitas latar belakang secara aman dan efisien.

Di sisi lain, ada satu temuan yang patut dicatat dengan hati-hati: responden survei memperkirakan penyerahan tugas rutin kepada AI bisa menghemat waktu layar sekitar satu jam per hari. Itu proyeksi berdasarkan ekspektasi responden, bukan hasil yang sudah terukur. Manfaatnya akan sangat bergantung pada seberapa andal agen AI itu bekerja, dan seberapa sering pengguna tetap harus memeriksa atau memperbaiki hasilnya.

Apa yang perlu diwaspadai pengguna Indonesia?

Antusiasme tinggi tidak boleh menutupi tiga risiko yang ikut membesar bersama adopsi ini. Pertama, soal kepercayaan: makin banyak tugas diserahkan ke AI, makin penting memastikan asisten yang bertindak atas nama kita itu benar-benar sah, bukan tiruan yang menyamar. Riset Ericsson di pasar lain menemukan kekhawatiran nyata soal asisten AI palsu, dan kewaspadaan serupa relevan di Indonesia.

Kedua, soal privasi. AI multimodal bekerja dengan data yang jauh lebih personal daripada teks: foto, suara, dan dokumen. Sebelum mengunggah, ada baiknya pengguna memastikan layanan yang dipakai menjelaskan dengan jelas bagaimana data itu disimpan dan digunakan.

Ketiga, soal ketergantungan pada koneksi. Semakin banyak aktivitas bergantung pada AI berbasis cloud, semakin terasa bedanya antara jaringan yang stabil dan yang tidak. Laporan ini, pada dasarnya, adalah pesan untuk operator dan pembuat kebijakan: kualitas jaringan bukan lagi sekadar soal kecepatan unduh, melainkan soal pengalaman AI sehari-hari.

Jaringan dan perangkat yang terhubung untuk layanan AI

Cara membaca angka-angka ini dengan benar

Perlu dicatat, laporan ini didasarkan pada survei daring terhadap lebih dari 43.000 pengguna ponsel pintar berusia 15-69 tahun di 27 pasar, yang menurut Ericsson mewakili sekitar 1,7 miliar pengguna ponsel dunia. Data dikumpulkan pada Juni-Agustus 2025 serta Februari-Maret 2026. Artinya, angka 22 persen menggambarkan pengguna ponsel yang disurvei, dan proyeksi 2030 adalah perkiraan berdasarkan tren dan ekspektasi responden, bukan kepastian.

Meski begitu, arahnya jelas: Indonesia bukan lagi sekadar penonton dalam adopsi AI. Kita termasuk yang paling cepat mengadopsinya, dan itu berarti dampaknya, baik maupun buruk, akan lebih dulu terasa di sini. Pertanyaan berikutnya bukan lagi "apakah AI akan dipakai sehari-hari", melainkan "apakah jaringan, aturan, dan literasi digital kita siap mengikutinya".

Baca juga: Android dan Gemini Nano: Apa Artinya buat Deteksi Penipuan di HP?

FAQ

Apa itu AI multimodal?

AI yang bisa memahami dan mengolah beberapa jenis masukan sekaligus, seperti teks, gambar, video, suara, dan dokumen, dalam satu interaksi.

Berapa persen konsumen Indonesia yang memakai AI setiap hari?

Menurut laporan Ericsson ConsumerLab yang dirilis 28 Oktober 2026, sebanyak 22 persen konsumen Indonesia memakai AI setiap hari lewat berbagai format.

Apa itu agentic AI?

AI yang menjalankan tugas atas nama pengguna, misalnya menyusun jadwal, membandingkan produk, atau mengurus pembelian berulang, bukan sekadar menjawab pertanyaan.

Kenapa AI multimodal menuntut jaringan yang lebih baik?

Karena foto, video, dan suara memindahkan data jauh lebih besar daripada teks, dan pengguna mengharapkan respons yang cepat serta stabil, termasuk untuk aktivitas AI di latar belakang.

Sumber: Ericsson, "Ericsson ConsumerLab addresses agentic AI through 2030" (ericsson.com); Selular.id, "Ericsson: Indonesia Peringkat Kedua Pengguna AI Multimodal Harian" (selular.id); Review1st, "Adopsi AI Multimodal Indonesia Tertinggi Kedua di Dunia" (review1st.com).