Harga CPO acuan pemerintah untuk November 2026 resmi turun. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menetapkan Harga Referensi (HR) minyak sawit mentah atau crude palm oil periode 1–30 November 2026 sebesar US$978,90 per metrik ton (MT), turun US$63,25 atau 6,07 persen dari US$1.042,15 per MT pada Oktober. Konsekuensinya, bea keluar (BK) CPO ditetapkan US$124 per MT dan pungutan ekspor (PE) sebesar 12,5 persen dari HR, setara US$122,36 per MT.
Angka-angka ini penting, tapi mudah disalahpahami. HR bukan harga jual tandan buah segar di kebun petani, bukan pula harga CPO di pasar hari ini. Ia adalah acuan administrasi untuk menghitung pungutan ekspor selama sebulan. Memahami perbedaan itu adalah kunci untuk menilai siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan.

Dari mana angka US$978,90 itu datang?
HR November dihitung dari rata-rata harga selama 20 September–19 Oktober 2026 dari tiga sumber: Bursa CPO Indonesia US$869,07 per MT, Bursa CPO Malaysia US$1.088,73 per MT, dan harga Port CPO Rotterdam US$1.443,90 per MT. Karena selisih rata-rata ketiga sumber itu melebihi US$40, sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 35 Tahun 2025, perhitungan memakai rata-rata dua sumber yang berada di median dan paling dekat dengan median: Bursa CPO Indonesia dan Bursa CPO Malaysia. Hasilnya US$978,90 per MT.
Penetapan ini tercantum dalam Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 2064 Tahun 2026, diumumkan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Catatan penting: karena periode pengamatannya berakhir 19 Oktober, pergerakan harga pada dua pekan terakhir Oktober belum tercermin di angka November.
Petani vs eksportir: siapa kena apa?
Bagi eksportir, beban per ton berkurang. BK dan PE adalah pungutan yang dibayar eksportir, dan keduanya bergerak mengikuti HR. Turunnya HR membuat nominal pungutan November lebih ringan dibanding Oktober. Di atas kertas, margin eksportir sedikit membaik, meski harga jual mereka di pasar dunia juga sedang melemah. Perlu dicatat, BK dan PE adalah dua instrumen berbeda, jangan digabung menjadi satu tarif.
Bagi petani, kabarnya lebih ambigu. HR yang turun mencerminkan harga acuan dunia yang sedang melemah, dan itu biasanya menekan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat kebun, tergantung pada formula harga TBS daerah dan potongan rantai tata niaga. Petani tidak membayar BK atau PE secara langsung, tetapi mereka merasakan dampaknya lewat harga beli pabrik. Di sisi lain, PE yang lebih kecil berarti dana yang dihimpun Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) juga menyusut, padahal dana itu antara lain dipakai untuk program peremajaan sawit rakyat dan insentif biodiesel.
Singkatnya: eksportir mendapat keringanan pungutan, petani menghadapi sinyal harga yang melemah, dan kas program sawit ikut menipis. Ketiganya bergerak dari angka yang sama, tapi ke arah yang berbeda.

Kakao ikut turun, minyak goreng kemasan kena bea keluar
CPO bukan satu-satunya komoditas yang acuan harganya turun. HR biji kakao periode November 2026 ditetapkan US$5.613,60 per MT, turun US$444,27 atau 7,33 persen dari periode sebelumnya, dengan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao US$5.242 per MT. Bagi petani kakao, sinyalnya serupa: pasar acuan sedang melemah.
Sementara itu, minyak goreng RBD palm olein dalam kemasan bermerek dengan berat bersih maksimal 25 kilogram dikenakan BK sebesar US$31 per MT. Ketentuan mereknya tercantum dalam Kepmendag Nomor 2065 Tahun 2026. Untuk konteks harga energi yang ikut memengaruhi biaya logistik dan biodiesel, baca juga artikel dampak minyak tembus 113 dolar terhadap APBN dan subsidi BBM.
Apa yang perlu dipantau sampai Desember?
Tiga hal. Pertama, apakah harga TBS di daerah sentra sawit ikut terkoreksi, dan seberapa besar, karena itu yang langsung dirasakan petani. Kedua, apakah HR Desember kembali naik seiring data harga akhir Oktober yang belum masuk perhitungan November. Ketiga, realisasi program BPDP, karena pungutan yang menyusut bisa memengaruhi anggaran peremajaan dan biodiesel. Sampai data itu muncul, kesimpulan yang jujur adalah: acuan turun, beban eksportir berkurang, petani perlu waspada terhadap harga kebun.

FAQ
Berapa harga referensi CPO November 2026?
US$978,90 per metrik ton, turun 6,07 persen atau US$63,25 dari US$1.042,15 per MT pada Oktober 2026.
Berapa bea keluar dan pungutan ekspor CPO November 2026?
Bea keluar US$124 per MT, dan pungutan ekspor 12,5 persen dari HR atau setara US$122,36 per MT.
Apakah harga referensi sama dengan harga sawit petani?
Tidak. HR adalah acuan administrasi untuk menghitung pungutan ekspor. Harga TBS petani ditentukan mekanisme pasar dan formula harga daerah masing-masing.
Bagaimana dengan kakao?
HR biji kakao November 2026 ditetapkan US$5.613,60 per MT, turun 7,33 persen, dengan HPE US$5.242 per MT.
Sumber: keterangan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Tommy Andana, dikutip dari Validnews (mengutip ANTARA) dan Media Biodiesel, diakses 1 November 2026. Artikel ini diterbitkan 1 November 2026.




