Pekan depan menjadi pekan yang tidak biasa bagi pasar saham Indonesia. Mulai Senin, 2 November 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan kriteria baru perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengeluarkan saham-saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi, yang dikenal dengan istilah HSC. Bersamaan dengan itu, rupiah masih tertekan dan investor menanti sederet data ekonomi penting.
Pada penutupan Jumat, 30 Oktober 2026, IHSG ditutup melemah 0,80 persen ke level 5.057,05, sementara rupiah di pasar spot melemah tipis ke Rp18.147 per dolar Amerika Serikat. Sepanjang pekan itu rupiah sudah terdepresiasi 0,37 persen dari Rp18.080 pada akhir pekan sebelumnya.
Baca juga: IHSG Tutup di 5.057, Rupiah Rp18.147 pada 30 Oktober
Apa yang berubah pada 2 November?
Sebanyak 81 saham HSC dikeluarkan dari formulasi perhitungan IHSG, termasuk nama-nama seperti BREN, BYAN, dan DSSA. Ini adalah kelanjutan dari kebijakan yang diumumkan BEI pada 19 Oktober 2026, ketika 80 saham HSC pertama kali dikeluarkan dari perhitungan indeks. Saham-saham itu tetap bisa diperdagangkan seperti biasa; yang berubah hanyalah cara indeks dihitung.
Dampaknya terasa pada komposisi indeks. Bobot empat bank besar naik dari 24,33 persen menjadi 27,45 persen: BBCA dari 8,75 persen menjadi 9 persen, BBRI dari 7,93 persen menjadi 9 persen, BMRI dari 5,57 persen menjadi 6,95 persen, serta ASII dari 3,35 persen menjadi 4,15 persen. Menurut catatan BRI Danareksa Sekuritas yang dikutip media, setiap perubahan 1 persen pada saham big-4 bank diperkirakan menggeser IHSG sekitar 14 poin.
Dengan kata lain, mulai pekan depan IHSG akan jauh lebih sensitif terhadap pergerakan saham perbankan, dan perbankan sendiri sangat erat kaitannya dengan laju rupiah dan arus modal asing.
Seberapa besar tekanannya sejauh ini?
Tekanan Oktober 2026 memang luar biasa. IHSG sempat menyentuh 4.979 pada perdagangan Jumat, sebelum kembali ditutup di atas level psikologis 5.000. Sepanjang Oktober, indeks telah melemah 15,31 persen di tengah kekhawatiran atas kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, dari emerging market menjadi standalone market.
Arus dana asing menjadi cerminnya. Sejak 16 Oktober 2026, investor asing membukukan net sell Rp13,91 triliun di pasar reguler, dan secara akumulatif sepanjang tahun sudah mencapai Rp124,67 triliun hingga Rp126,37 triliun menurut sumber yang berbeda. Pada Kamis, 29 Oktober saja, net sell asing tercatat Rp1,52 triliun, terkonsentrasi pada saham perbankan seperti BBCA dan BBRI.
Proyeksi pekan depan: 4.900 sampai 5.317
Market Analyst MNC Sekuritas, Herditya, memperkirakan IHSG masih berisiko terkoreksi pekan depan, dengan level support di 4.907 dan resistance di 5.317. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai indeks berpotensi menguji 4.900-5.000; bila bertahan di atas 5.000, indeks berpeluang bergerak mendatar di kisaran 5.000-5.200.
Sejumlah agenda akan memengaruhi arah pasar: implementasi kebijakan HSC pada 2 November, data PMI manufaktur, inflasi Indonesia, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, cadangan devisa, serta keputusan suku bunga The Fed yang saat ini berada di level 3,75-4 persen. Dari pasar global, Bank of Japan pada 30 Oktober mempertahankan suku bunga acuannya di 1,25 persen.
FAQ: IHSG dan Aturan HSC
Apakah saham HSC dihapus dari bursa (delisting)?
Tidak. Saham HSC tetap diperdagangkan; hanya saja tidak lagi diperhitungkan dalam IHSG.
Mengapa IHSG jadi lebih sensitif terhadap bank?
Karena bobot big-4 bank naik menjadi 27,45 persen setelah saham HSC dikeluarkan dari perhitungan.
Level berapa yang dipantau pekan depan?
Support 4.907 dan resistance 5.317 menurut MNC Sekuritas, dengan skenario mendatar 5.000-5.200 bila level 5.000 bertahan.
Sumber: data penutupan BEI 30 Oktober 2026; catatan BRI Danareksa Sekuritas; proyeksi MNC Sekuritas dan Phintraco Sekuritas; Bank Indonesia (JISDOR). Artikel ini diterbitkan 31 Oktober 2026 dan bukan rekomendasi investasi.




