Sebuah baliho AI Gemini di Jakarta, Surabaya, dan Bandung tidak lagi sekadar menampilkan gambar diam. Gedung di balik layar seolah tembus pandang: gelombang bubble tea mengalir menuruni fasad, dinosaurus melintas di jalan kota, dan sebuah portal terbuka di tengah keramaian. Itulah inti kampanye #BikinGebrakanLo dari Google Indonesia.
Proyek ini digarap bersama DDB Singapore, Superson, dan Hagia Labs. Alih-alih dibuat berbulan-bulan seperti iklan luar ruang konvensional, sekitar 40 aset video berdurasi 15 detik diproduksi hanya dalam hitungan minggu.

Bagaimana ilusi "tembus pandang" itu dibuat?
Kuncinya adalah pencocokan visual antara rekaman latar arsitektur asli dan video hasil AI. Layar menampilkan kembali gedung yang ada di belakangnya, lalu AI menambahkan elemen yang bergerak seolah keluar dari bangunan itu. Hasilnya terasa seperti jendela, bukan sekadar poster digital.
Teknologi yang dipakai adalah Veo 3 dan Nano Banana dari Google. Di City Plaza, layar dinamis berukuran 30 x 20 meter bahkan bisa mengubah visualnya berdasarkan data cuaca langsung. Jadi, apa yang dilihat pejalan kaki pada pagi yang cerah belum tentu sama dengan tampilannya saat hujan sore hari.
Kecepatan juga menjadi bagian dari konsepnya. Tim kreatif memantau tren dan sinyal budaya secara langsung, lalu bisa meluncurkan konten baru berbasis AI dalam waktu 24 jam. Dalam iklan luar ruang lama, pergantian materi secepat itu hampir mustahil tanpa biaya besar.
Bukan sekadar pamer teknologi
Yang menarik dari proyek ini bukan hanya efek visualnya, melainkan cara kerjanya. DDB Singapore memegang arah konsep, Superson menjalankan model kerja cepat bernama "Supersprint" yang merakit tim lintas disiplin, sementara Hagia Labs mengeksekusi sisi AI-nya. Mahasiswa dan seniman Indonesia juga dilibatkan.
Antti Toivonen, managing director Superson APAC, menyebut pendekatan semacam ini tidak mungkin dilakukan dalam skala dan kecepatan seperti itu tanpa teknologi terbaru Google. Senada, Mira Sumanti dari Google Asia Tenggara menilai lanskap media Indonesia menjadi kanvas yang tepat untuk menguji kemampuan Veo 3.

Apa artinya bagi kreator Indonesia?
Setiap baliho dalam kampanye ini menampilkan kode QR yang mengundang kreator Indonesia mengirimkan konten Veo 3 buatannya sendiri untuk dipertimbangkan tampil di layar publik. Dengan kata lain, panggung iklan yang biasanya tertutup bagi merek besar kini dibuka, setidaknya sebagian, untuk karya publik.
Tentu ada batasnya. Kurasi tetap di tangan penyelenggara, dan tidak semua kiriman akan tayang. Namun pola ini memberi gambaran masa depan periklanan: produksi lebih cepat, biaya lebih lentur, dan ruang bagi kreator independen untuk masuk ke media luar ruang.
Di sisi lain, publik perlu tetap kritis. Video AI yang tampak nyata di ruang publik bisa mengaburkan batas antara rekaman asli dan hasil olahan. Selama ditampilkan sebagai karya kampanye, ilusi itu sah sebagai hiburan. Masalah muncul bila format serupa dipakai untuk menyesatkan, misalnya menyamar sebagai kejadian nyata.

Kampanye ini tidak berdiri sendiri. Google sebelumnya juga membawa pengalaman Gemini ke kampus-kampus Indonesia, dengan lebih dari 47.000 mahasiswa di sembilan universitas mengikuti Gemini Campus Tour. Di sana, mahasiswa mencoba alur yang dekat dengan kebutuhan kuliah, seperti mengubah materi kuliah menjadi catatan terstruktur, latihan soal, dan bantuan menyusun CV. Polanya sama: teknologi diperkenalkan lewat tugas nyata, bukan sekadar slogan.
FAQ
Kampanye Google Gemini di Indonesia yang antara lain menghadirkan baliho AI "tembus pandang" di Jakarta, Surabaya, dan Bandung.
Teknologi apa yang dipakai?
Veo 3 dan Nano Banana dari Google, dikombinasikan dengan data lingkungan langsung seperti cuaca.
Apakah kreator bisa ikut tampil?
Ya, lewat kode QR di baliho, kreator dapat mengirimkan konten Veo 3 untuk dipertimbangkan penayangannya.
Apakah visualnya rekaman asli?
Tidak sepenuhnya. Visualnya memadukan latar arsitektur nyata dengan video hasil AI yang dirancang sebagai karya kampanye.
Artikel terkait: Gemini 4 Argon dan perkembangan model AI Google.
Sumber: Marketing-Interactive, "Google Gemini's #BikinGebrakanLo brings AI 'see-through' billboards to Indonesia" (marketing-interactive.com); Superson, studi kasus Google billboards (superson.co). Diakses 29 Oktober 2026.




