Musim hujan tidak hanya membawa genangan dan banjir. Ia juga membawa naiknya risiko penyakit yang penularannya lewat air dan nyamuk: demam berdarah dengue (DBD), diare, dan leptospirosis. Dinas Kesehatan Provinsi Aceh pada 28 Oktober 2026 kembali mengingatkan warga soal ketiganya, dan pesannya layak didengar seluruh Indonesia yang sedang memasuki puncak musim hujan.
Dari ketiganya, DBD punya satu jebakan yang paling sering menelan korban: masa ketika demam mulai turun justru adalah masa paling berbahaya.
Baca juga: Fogging Saja Tak Cukup Lawan DBD
Tiga fase DBD yang wajib dikenali
Gejala DBD biasanya muncul 4–10 hari setelah gigitan nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus, dan berlangsung 2–7 hari. Gejalanya: demam tinggi mendadak yang bisa mencapai 40°C, sakit kepala berat, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual dan muntah, kelenjar membengkak, serta ruam kemerahan di kulit.
Fase demam (hari ke-1 sampai ke-3). Demam tinggi mendominasi. Sebagian besar pasien membaik setelah fase ini, tetapi sebagian masuk ke fase berikutnya.
Fase kritis (hari ke-3 sampai ke-7). Demam mulai turun, pasien merasa sudah lebih baik, padahal cairan darah bisa merembes keluar dari pembuluh darah (kebocoran plasma) selama 24–48 jam. Bila tidak ditangani, pasien bisa jatuh ke syok. Di fase inilah tanda bahaya biasanya muncul: nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, sesak napas, penurunan kesadaran, dan ketidakmampuan minum.
Fase pemulihan. Cairan tubuh kembali normal dan kondisi membaik. Fase ini hanya bisa dicapai bila fase kritis dilewati dengan pemantauan yang baik.
Kesimpulannya: demam yang turun pada hari ke-3 sampai ke-5 bukan alasan untuk lengah. Justru pada hari-hari itulah pasien perlu diperhatikan lebih ketat dan segera dibawa ke fasilitas kesehatan bila muncul tanda bahaya.
Bukan hanya DBD: diare dan leptospirosis
Banjir yang mencemari sumber air dan makanan berpotensi memicu diare. Pencegahannya: makanan dimasak hingga matang, air minum yang aman, dan cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan, saat mengolah makanan, dan setelah menggunakan toilet.
Leptospirosis menular lewat kontak dengan air atau lingkungan yang tercemar urine hewan terinfeksi, terutama tikus. Saat banjir, hindari kontak langsung dengan air banjir. Jika harus membersihkan lingkungan yang tercemar, gunakan sepatu bot dan sarung tangan, serta tutup luka dengan balutan kedap air.
3M Plus, dan kenapa fogging saja tidak cukup
Pemberantasan sarang nyamuk lewat gerakan 3M Plus tetap menjadi andalan: menguras dan menyikat tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air. Langkah "Plus"-nya: memakai losion antinyamuk, memelihara ikan pemakan jentik, dan membersihkan talang dari daun yang menyumbat.
Fogging atau pengasapan bukan satu-satunya solusi, karena hanya efektif membunuh nyamuk dewasa. Tanpa pemberantasan jentik, populasi nyamuk akan kembali dalam hitungan hari. Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, yang mencatat sekitar 83 kasus DBD dari Januari hingga 8 Oktober 2026, juga menekankan hal yang sama: peran masyarakat tetap menjadi kunci, termasuk lewat pemanfaatan nyamuk ber-Wolbachia yang kini sudah mencapai sekitar 87 persen dari nyamuk yang dipantau di kota itu.
Kapan harus segera ke fasilitas kesehatan?
Segera cari pertolongan medis bila muncul tanda bahaya: sesak napas, penurunan kesadaran, kejang, perdarahan, nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, atau tidak mampu minum. Orang tua perlu memberi perhatian khusus pada anak yang kesulitan minum atau menunjukkan tanda dehidrasi. Jangan menggunakan antibiotik tanpa resep dokter — DBD disebabkan virus, bukan bakteri.
FAQ: DBD musim hujan
Kenapa demam turun justru berbahaya pada DBD?
Karena fase kritis dimulai saat demam turun, umumnya hari ke-3 sampai ke-7, ketika kebocoran plasma bisa terjadi.
Apa itu 3M Plus?
Menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat penampungan air, ditambah langkah pencegahan gigitan dan perkembangbiakan nyamuk.
Apakah fogging cukup untuk mencegah DBD?
Tidak. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa; pemberantasan jentik tetap wajib.
Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Aceh (28 Oktober 2026), Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dan Pedoman Nasional Tata Laksana Infeksi Dengue Kemenkes RI. Artikel ini bersifat edukasi dan bukan pengganti saran medis profesional. Diterbitkan 30 Oktober 2026.




