Banjir lahar Gunung Semeru menerjang aliran Sungai Besuk Kobokan, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Jumat (30/10/2026) malam. Empat truk pengangkut pasir terjebak di tengah aliran, namun seluruh sopir berhasil dievakuasi dan tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Peristiwa ini dilaporkan pada Minggu (1/11/2026). Hujan deras yang mengguyur kawasan puncak sejak sore memicu luapan air di sejumlah daerah aliran sungai yang berhulu di Semeru, hingga getaran banjir lahar terekam pos pemantau selama hampir empat jam.
Kronologi: Sirine Berbunyi, Truk Tetap Melintas
Menurut Kepala Pelaksana BPBD Lumajang Isnugroho, hujan mulai turun sejak sore dan banjir lahar mulai terjadi sekitar pukul 22.00 WIB dengan amplitudo maksimal mencapai 50 milimeter, atau sudah over skala. Sirine peringatan dini di sekitar aliran sungai sudah berbunyi begitu amplitudo melewati 35 milimeter.
Namun peringatan itu tidak diindahkan. "Ada empat unit truk, kita sudah bunyikan sirine, tapi tidak diindahkan sampai terjebak," ujar Isnugroho seperti dikutip dari Kompas. Petugas kemudian mengevakuasi sopir beserta truknya. "Aman tidak ada korban, truk dan orangnya selamat semua," katanya.
Aktivitas Warga Tetap Berjalan, Proyek Sabo Dam Terganggu
Meski debit air meningkat drastis, BPBD memastikan aktivitas masyarakat di lereng Semeru tetap berjalan normal. Yang terganggu adalah pembangunan sabo dam di Curah Kobokan, yang terpaksa dihentikan sementara akibat derasnya aliran.
Pengamatan pos pemantau selama 24 jam mencatat satu kali gempa getaran banjir beramplitudo 50 mm dengan durasi 13.524 detik, hampir empat jam. Hujan lebat di puncak juga memicu luapan di sejumlah alur sungai lain yang berhulu di gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.
Semeru Masih Siaga Level III
Gunung Semeru saat ini masih berstatus siaga atau level III. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberlakukan sejumlah larangan demi keselamatan warga: tidak ada aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak karena ancaman lontaran batu pijar, dan sektor tenggara Besuk Kobokan steril dari segala aktivitas dalam radius 13 kilometer dari puncak.
Di sempadan Sungai Besuk Kobokan, warga dilarang beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai hingga jarak 17 kilometer dari puncak, mengingat potensi perluasan awan panas dan aliran lahar. BPBD Lumajang mengingatkan warga mewaspadai awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang lembah aliran sungai utama, meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Imbauan untuk Warga di Sekitar Aliran Sungai
BPBD meminta masyarakat yang bermukim atau beraktivitas di sekitar aliran sungai berhulu Semeru meningkatkan kewaspadaan selama musim hujan. "Patuhi imbauan petugas, jika sudah ada sirine peringatan segera menjauh dari aliran sungai dan mengamankan diri ke tempat yang aman," ujar Isnugroho.
Peristiwa di Lumajang ini menjadi pengingat kedua dalam sepekan soal bencana di daerah: sebelumnya banjir dan longsor melanda Banyumas. Bedanya, di Semeru tidak ada korban jiwa, dan pelajaran terbesarnya justru soal sirine yang sempat diabaikan.
FAQ
Apa itu banjir lahar hujan?
Banjir lahar hujan terjadi ketika hujan deras di puncak gunung berapi menggerus endapan material vulkanik, lalu mengalirkannya lewat sungai dalam bentuk banjir berlumpur dan berbatu. Alirannya bisa datang tiba-tiba dan sangat deras, meski di lereng tidak sedang hujan.
Apakah ada korban jiwa dalam banjir lahar Semeru 30 Oktober 2026?
Tidak. Menurut BPBD Lumajang, empat truk pasir terjebak di Besuk Kobokan, namun sopir dan truk berhasil dievakuasi dan semuanya selamat.
Berapa status Gunung Semeru saat ini?
Siaga atau level III. Warga dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari puncak, dan sektor tenggara Besuk Kobokan steril hingga 13 kilometer dari puncak.
Sumber: RembangNews, "Banjir Lahar Gunung Semeru, Empat Truk Pasir Terjebak" (mengutip Kompas dan BPBD Lumajang); Liputan6, "Getaran Lahar Hujan di Puncak Semeru Terekam Hampir 4 Jam" (dilansir ulang). Artikel ini diterbitkan 1 November 2026.




