Bayangkan seseorang yang menolak lembur tanpa bayaran, menjaga jam tidur, dan memilih pekerjaan yang memberinya ruang bernapas, lalu disebut tidak ambisius. Bagi penganut soft life, tuduhan itu justru meleset dari sasaran. Gaya hidup yang ramai di TikTok dan Instagram ini bukan pengumuman untuk berhenti bekerja, melainkan cara baru generasi muda menjawab pertanyaan lama: sukses itu sebenarnya apa?

Soft life menempatkan ketenangan, kenyamanan, dan perawatan diri sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hadiah yang baru boleh dinikmati setelah karier mentok di puncak. Di linimasa, ia tampil lewat adegan-adegan sederhana: membaca buku tanpa terburu-buru, menyeruput kopi dengan tenang, menulis jurnal, atau sekadar menyediakan waktu khusus untuk diri sendiri.

Seseorang membaca buku dengan tenang sambil minum kopi

Dari mana soft life berasal?

Istilah ini berakar dari komunitas kreator perempuan kulit hitam di Amerika Serikat, yang memakainya sebagai penolakan terhadap hidup yang penuh tekanan dan tuntutan tanpa henti. Dari sana, ia menyebar lewat TikTok dan Instagram, lalu diadopsi generasi muda di berbagai negara, termasuk Indonesia, sebagai bahasa baru untuk membicarakan hidup yang ideal.

Generasi ini tumbuh dalam realitas yang tidak ringan: pekerjaan yang tidak stabil, harga rumah yang kian sulit dijangkau, dan paparan tanpa henti terhadap standar hidup orang lain di media sosial. Dalam konteks itu, keinginan untuk melambat terasa bukan sebagai kemewahan, melainkan kebutuhan.

Bukan malas, bukan pula liburan

Kesalahpahaman paling umum soal soft life adalah menyamakannya dengan kemalasan. Padahal, para penganutnya tetap bekerja, tetap punya target, dan tetap membangun penghasilan, termasuk lewat pekerjaan lepas atau usaha kecil yang memberi fleksibilitas lebih. Yang berubah adalah cara mereka mengukur hasil: bukan dari seberapa sibuk mereka terlihat, melainkan dari seberapa bermakna hasil itu dan seberapa utuh mereka menjalaninya.

Perlu juga dibedakan dari sekadar liburan singkat. Soft life bukan soal pergi ke suatu tempat selama dua hari lalu kembali ke rutinitas yang sama melelahkannya. Ia soal mengubah rutinitas itu sendiri: jam kerja yang dijaga, istirahat yang tidak perlu dimintai maaf, dan keputusan karier yang mempertimbangkan kesehatan mental, bukan hanya gaji dan jabatan.

Stephanie Koh, perempuan muda yang sedang mencari pekerjaan di New York, menggambarkan tren ini sebagai reaksi terhadap anggapan lama bahwa perempuan harus terus mengejar pencapaian besar. Kini, kata dia, banyak anak muda mencari kehidupan yang lebih tenang. Senada dengan itu, penulis buku Slow Living, Stephanie O'Dea, mengamati bahwa generasi muda mulai mempertimbangkan kembali hubungan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi: mereka tidak ingin hidup hanya untuk bekerja.

Rutinitas pagi yang tenang dengan secangkir kopi

Seperti apa soft life dalam praktik?

Dalam praktiknya, soft life tampak lewat pilihan-pilihan kecil yang konsisten. Menolak lembur yang tidak dibayar. Menjaga tidur cukup. Menulis jurnal atau bermeditasi. Memilih pekerjaan fleksibel ketimbang pekerjaan yang menuntut seluruh waktu. Menganggap perawatan diri, dari rutinitas kecantikan sampai waktu rehat minum kopi, sebagai investasi, bukan pemborosan.

Di sisi lain, soft life juga mengubah cara anak muda memandang pencapaian. Gelar, jabatan, dan barang menjadi bukan satu-satunya penanda keberhasilan. Waktu luang, hubungan yang sehat, dan ketenangan pikiran ikut masuk dalam daftar yang sama. Ini bukan berarti materi tidak penting, melainkan materi berhenti menjadi satu-satunya tolok ukur.

Catatan yang perlu dijaga

Sebagai catatan redaksi, soft life juga patut dibaca dengan kritis. Tidak semua orang punya kemewahan untuk memilih pekerjaan fleksibel atau menolak lembur tanpa risiko. Bagi pekerja dengan penghasilan pas-pasan, "hidup tenang" bisa terasa seperti nasihat dari posisi yang sudah aman. Karena itu, soft life paling jujur dipahami sebagai arah, bukan paket jadi: ambil prinsipnya, sesuaikan dengan kondisi masing-masing, dan jangan jadikan ia standar baru untuk menghakimi orang lain.

Pada akhirnya, daya tarik soft life bukan terletak pada estetikanya yang hangat dan menenangkan, melainkan pada keberaniannya mempertanyakan definisi sukses yang selama ini diterima begitu saja. Kalau sukses tidak lagi harus dibayar dengan kelelahan, apa yang sebenarnya sedang kita kejar?

Tangan menulis jurnal di meja kayu di samping secangkir kopi

FAQ

Apa itu soft life?

Soft life adalah gaya hidup yang menekankan ketenangan, keseimbangan, dan kesejahteraan diri, baik mental maupun emosional. Ia menolak budaya kerja berlebihan, tetapi bukan berarti berhenti bekerja atau menghindari tanggung jawab.

Apakah soft life sama dengan malas?

Tidak. Penganut soft life tetap bekerja dan punya target. Bedanya, mereka mengukur kesuksesan dari kualitas hidup dan hasil yang bermakna, bukan dari seberapa sibuk atau lelah mereka terlihat.

Apakah soft life sama dengan liburan?

Tidak. Liburan adalah jeda sementara dari rutinitas, sedangkan soft life adalah cara mengatur rutinitas sehari-hari itu sendiri, mulai dari jam kerja, istirahat, hingga prioritas hidup.

Siapa yang mempopulerkan soft life?

Istilah ini berakar dari komunitas kreator perempuan kulit hitam di Amerika Serikat, lalu menyebar luas lewat TikTok dan Instagram dan diadopsi generasi muda, terutama Gen Z dan milenial.

Bagaimana cara memulai soft life?

Mulailah dari hal kecil dan realistis: jaga jam tidur, tetapkan batas jam kerja, sediakan waktu khusus untuk diri sendiri setiap hari, dan pilih satu kebiasaan perawatan diri yang bisa dijalani konsisten, bukan yang paling estetis di media sosial.

Baca juga: sleepmaxxing, tren tidur yang juga viral di kalangan anak muda dan downgrade lifestyle, versi hemat dari hidup sederhana ala Gen Z.

Sumber: Suara Garut, Fimela, Kombi, Dialogika (diakses 25 Oktober 2026). Artikel ini diterbitkan pada 25 Oktober 2026. Asal-usul istilah dan pandangan Stephanie Koh serta Stephanie O'Dea adalah fakta dari pemberitaan sumber tersebut; paragraf "Catatan yang perlu dijaga" dan kalimat penutup adalah opini/analisis redaksi.