Tingkat pengangguran Agustus 2026 tercatat sebesar 4,75 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka itu dalam rilis Berita Resmi Statistik pada Kamis, 5 November 2026, yang disampaikan Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, di Kantor Pusat BPS, Jakarta.

Angka ini setara dengan 7,38 juta orang penganggur. Dibanding Agustus 2025, pengangguran berkurang sekitar 77 ribu orang dan tingkatnya turun 0,10 persen poin dari 4,85 persen. Kabar baik, tapi belum seluruh cerita. Dibanding Februari dan Mei 2026, angka pengangguran justru naik. Artikel ini membedah apa arti angka-angka BPS itu sebenarnya.

Antrean pencari kerja di sebuah bursa kerja

Angka-Angka Pokok dari Rilis BPS

Pada Agustus 2026, jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 155,37 juta orang. Dari jumlah itu, 147,99 juta orang berstatus bekerja dan 7,38 juta orang menganggur. Penduduk usia kerja tercatat 220,91 juta orang.

Jumlah penduduk bekerja bertambah 1,443 juta orang dibanding Agustus 2025. Sementara jumlah penganggur menyusut dari sekitar 7,46 juta orang pada Agustus 2025 menjadi 7,38 juta orang. Dengan kata lain, pasar kerja menyerap lebih banyak orang, dan sebagian kecil penganggur tahun lalu kini sudah bekerja.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,75 persen berarti sekitar lima dari setiap 100 orang angkatan kerja masih menganggur. TPT laki-laki tercatat 4,64 persen, sedangkan TPT perempuan 4,93 persen. Perlu dicatat, TPT perempuan justru naik dari 4,84 persen pada Agustus 2025, berlawanan dengan arah angka nasional.

Turun Tahunan, tapi Naik Dibanding Februari dan Mei

Di sinilah pembacaan angka BPS perlu hati-hati. TPT Februari 2026 tercatat 4,68 persen dengan 7,24 juta penganggur, dan TPT Mei 2026 sebesar 4,65 persen dengan 7,22 juta penganggur. Artinya, jumlah penganggur Agustus 2026 lebih tinggi dibanding dua periode sebelumnya di tahun yang sama.

BPS menjelaskan kenaikan ini sebagai faktor musiman. Setiap tahun, lulusan baru perguruan tinggi mulai mencari kerja sekitar Juni-Juli setelah wisuda, sehingga angkatan kerja membengkak dan sebagian dari mereka tercatat sebagai penganggur pada survei Agustus. Pola yang sama terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, sehingga perbandingan yang paling adil adalah dengan Agustus tahun lalu, bukan dengan Februari atau Mei.

Meski begitu, kenaikan kuartalan ini tetap menjadi pengingat: penurunan tahunan sebesar 0,10 persen poin adalah perbaikan yang tipis, bukan lompatan.

Suasana bursa kerja dengan para pencari kerja membawa berkas lamaran

Mayoritas yang Bekerja Masih di Sektor Informal

Angka pengangguran yang turun belum tentu berarti kualitas pekerjaan membaik. BPS mencatat pekerja informal mencapai 85,73 juta orang, atau 57,93 persen dari seluruh penduduk bekerja pada Agustus 2026. Porsi ini justru meningkat dibanding periode sebelumnya.

Komposisi jam kerja juga menggambarkan hal yang sama. Pekerja penuh tercatat 67,47 persen atau 99,85 juta orang, pekerja paruh waktu 23,85 persen atau 35,29 juta orang, dan setengah pengangguran 8,68 persen atau 12,84 juta orang. Setengah penganggur adalah orang yang bekerja kurang dari 35 jam seminggu dan masih mencari atau bersedia menerima pekerjaan tambahan.

Jadi, gambaran yang muncul adalah pasar kerja yang menyerap lebih banyak orang, tapi sebagian besar penyerapan itu terjadi di pekerjaan informal dan paruh waktu, yang umumnya minim perlindungan dan kepastian penghasilan.

Memahami Cara BPS Menghitung Pengangguran

Data ini berasal dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), yang digelar BPS empat kali setahun, pada Februari, Mei, Agustus, dan November. Menurut definisi BPS, pengangguran mencakup penduduk berusia minimal 15 tahun yang tidak bekerja selama seminggu terakhir, tetapi sedang mencari pekerjaan, menyiapkan usaha, telah diterima bekerja namun belum mulai bekerja, atau merasa tidak memiliki peluang memperoleh pekerjaan.

Penting untuk dipahami: TPT adalah persentase penganggur terhadap total angkatan kerja, bukan terhadap seluruh penduduk Indonesia. Seseorang yang sudah tidak mencari kerja sama sekali, misalnya karena putus asa, tidak tercatat sebagai penganggur dalam definisi ini. Karena itu TPT saja tidak cukup untuk menilai kesehatan pasar kerja, dan perlu dibaca bersama data pekerja informal, setengah penganggur, dan upah.

Pekerja konstruksi di Indonesia, salah satu lapangan kerja sektor formal dan informal

Konteks: Cadangan Devisa Ikut Menguat Tipis

Di sisi lain, Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2026 sebesar 146,8 miliar dolar AS, naik 500 juta dolar dari 146,3 miliar dolar pada akhir September 2026. Kenaikan ini terutama ditopang penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo dan kebijakan stabilisasi rupiah.

Posisi cadangan devisa itu setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor, masih di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Angka ini tidak berhubungan langsung dengan pengangguran, tapi memberi gambaran bahwa bantalan eksternal ekonomi Indonesia masih terjaga, meski rupiah sempat tertekan hingga menyentuh Rp18.000 per dolar AS.

Untuk gambaran kondisi upah dan daya beli pekerja, baca juga pembahasan UMP 2027 dan perdebatan data ekonomi 2026 di Klik Fakta.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Berapa tingkat pengangguran Indonesia Agustus 2026?

Sebesar 4,75 persen, setara 7,38 juta orang, menurut rilis BPS pada 5 November 2026. Angka ini turun 0,10 persen poin dari 4,85 persen pada Agustus 2025.

Berapa jumlah angkatan kerja Indonesia Agustus 2026?

Sebanyak 155,37 juta orang, terdiri dari 147,99 juta orang bekerja dan 7,38 juta orang menganggur.

Mengapa pengangguran Agustus 2026 naik dibanding Februari 2026?

Karena faktor musiman: lulusan baru perguruan tinggi mulai mencari kerja sekitar Juni-Juli, sehingga jumlah penganggur pada survei Agustus biasanya lebih tinggi dibanding Februari dan Mei. BPS menilai perbandingan tahunan lebih tepat untuk melihat tren.

Apa itu TPT?

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah persentase jumlah penganggur terhadap total angkatan kerja. Angka 4,75 persen berarti sekitar lima dari setiap 100 orang angkatan kerja merupakan penganggur.

Berapa porsi pekerja informal di Indonesia?

Sebesar 57,93 persen dari penduduk bekerja pada Agustus 2026, atau sekitar 85,73 juta orang, menurut BPS.

Sumber: InfoPublik.id, "BPS: Tingkat Pengangguran Terbuka Agustus 2026 Turun Menjadi 4,75 Persen", 6 November 2026; Investor Trust, "BPS: Tingkat Pengangguran Terbuka RI Turun Jadi 7,38 Juta Orang", 5 November 2026; Investor Trust, "Indonesia's Open Unemployment Rate Drops to 4.75%", 5 November 2026; RCTI+, "BPS Catat Angka Pengangguran Turun Jadi 7,38 Juta Orang per Agustus 2026", 5 November 2026; ValidNews, "Pengangguran Tahunan RI Turun, Kuartalan Naik; Begini Penjelasan BPS", 5 November 2026; Investor.id, "Cadangan Devisa RI Naik Tipis Pada Oktober 2026, Ini Pendorongnya", 6 November 2026. Diakses 7 November 2026.