Setiap musim hujan, nasihat yang sama selalu muncul: jangan minum es, nanti flu. Nasihat itu terdengar masuk akal, apalagi bila setelah minum es seseorang memang jadi batuk. Tetapi menurut dokter spesialis penyakit dalam, hubungan itu tidak sesederhana yang sering diyakini.

Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-A.I, FINASIM, yang juga Wakil Ketua I Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), menjelaskan bahwa minum es tidak secara langsung menyebabkan flu, batuk, atau pilek. Penyakit-penyakit itu umumnya disebabkan infeksi virus, bukan suhu minuman.

Segelas es teh dengan es batu

Baca juga: Superflu Bukan Istilah Medis, Ini Fakta Influenza Terkini

Kalau begitu, mengapa ada yang batuk setelah minum es?

Jawabannya ada pada saluran napas yang sensitif. Pada orang dengan rinitis alergi atau asma, minuman dingin bisa memicu bersin, hidung tersumbat, hingga batuk. Keluhan itu merupakan respons iritasi atau sensitivitas, bukan berarti seseorang tertular virus akibat minum es.

"Jadi kalau badan sehat, silakan saja minum es. Kalau sedang batuk pilek atau punya alergi saluran napas, sebaiknya dikurangi dulu," kata Sukamto saat dihubungi ANTARA di Jakarta. Pesan itu membedakan dua hal yang sering dicampur: orang sehat dan orang yang sedang punya keluhan pernapasan.

Artinya, larangan minum es tidak berlaku sama untuk semua orang. Yang perlu berhati-hati adalah mereka yang sudah tahu saluran napasnya sensitif, atau yang sedang batuk pilek. Bagi orang sehat, segelas es di tengah musim hujan bukan penyebab flu.

Es teh segar dalam gelas

Lalu mengapa musim hujan terasa lebih mudah sakit?

Musim hujan memang meningkatkan risiko penularan infeksi pernapasan, tetapi bukan lewat suhu minuman. Udara lembap mendukung perkembangan tungau debu rumah dan jamur di lingkungan tertentu, yang bisa memicu kekambuhan pada penderita asma dan rinitis alergi. Kebiasaan lebih banyak berkumpul di dalam ruangan saat hujan juga meningkatkan peluang penularan virus, termasuk influenza, RSV, dan SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

Risiko lain datang dari lingkungan dan sanitasi. Genangan air menjadi tempat berkembang biak nyamuk penular demam berdarah dengue (DBD). Banjir dan pencemaran sumber air meningkatkan risiko penyakit pencernaan, termasuk diare dan demam tifoid, terutama bila kebersihan air dan makanan tidak terjaga.

Yang benar-benar perlu diwaspadai

Alih-alih fokus pada segelas es, langkah yang lebih berdampak adalah mencuci tangan, memakai masker saat sedang sakit agar tidak menulari orang lain, menjaga kebersihan lingkungan, dan segera memeriksakan diri bila demam berlangsung lebih dari tiga hari, diare tak kunjung berhenti, atau muncul sesak napas. Untuk DBD, pemberantasan sarang nyamuk lewat 3M Plus tetap menjadi langkah utama.

Minuman dingin dengan lemon dan daun mint

FAQ: Minum Es dan Flu

Apakah minum es menyebabkan flu?
Tidak secara langsung. Flu dan batuk pilek umumnya disebabkan infeksi virus, bukan minuman dingin.

Siapa yang sebaiknya mengurangi minum es?
Orang yang sedang batuk pilek, serta penderita alergi saluran napas dan asma yang sensitif terhadap minuman dingin.

Apa risiko kesehatan utama saat musim hujan?
Infeksi pernapasan akibat berkumpul di ruangan, DBD dari genangan air, serta diare dan tifoid akibat pencemaran air dan makanan.

Sumber: penjelasan Dr. dr. Sukamto Koesnoe, Sp.PD, K-A.I, FINASIM (PAPDI) kepada ANTARA, 29 Oktober 2026. Artikel ini bersifat informasi umum dan bukan pengganti pemeriksaan dokter. Artikel ini diterbitkan 31 Oktober 2026.