Dalam dua hari perdagangan, tiga orang terkaya di Indonesia kehilangan gabungan kekayaan bersih sebesar US$5,9 miliar — setara sekitar Rp106 triliun. Angka itu lenyap menyusul aksi jual massal di Bursa Efek Indonesia pada Jumat (16/10) dan Senin (19/10), setelah penyedia indeks global MSCI memperingatkan kemungkinan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia.
Ini bukan sekadar cerita orang superkaya yang hartanya berkurang di atas kertas. Guncangan ini menyentuh IHSG hingga ke level terdalam dalam enam tahun, dan menjadi penurunan dua hari terburuk dalam sejarah pasar saham Indonesia — melampaui kerugian saat krisis keuangan Asia 1998, menurut laporan Reuters.
Tiga Nama yang Paling Terpukul
Berdasarkan data real-time Forbes yang dipantau hingga Senin (19/10), Robert Budi Hartono mengalami penurunan terbesar: kekayaannya merosot US$3,1 miliar (sekitar Rp55,9 triliun), dari US$15,5 miliar menjadi US$12,4 miliar. Bos Djarum dan pengendali BCA ini menjadi korban terbesar aksi jual karena portofolionya sangat terpapar saham-saham berkapitalisasi besar.
Prajogo Pangestu, konglomerat petrokimia dan energi pemilik Barito Pacific Group, kehilangan sekitar US$2,2 miliar (Rp39,6 triliun). Sementara Low Tuck Kwong, taipan batu bara Bayan Resources, kekayaannya menyusut US$600 juta (Rp10,8 triliun) — paling kecil di antara ketiganya, tetapi tetap setara belasan ribu miliar rupiah.
Totalnya: US$5,9 miliar, atau sekitar Rp106 triliun per kurs saat itu. Sebagai gambaran, angka tersebut lebih dari separuh belanja negara untuk satu kementerian besar dalam setahun.
10 Orang Terkaya Indonesia Oktober 2026
Sebelum guncangan itu, daftar miliarder Indonesia versi Forbes real-time per Oktober 2026 menempatkan nama-nama berikut di puncak:
- Low Tuck Kwong — US$16,5 miliar (batu bara)
- R. Budi Hartono — US$15,2 miliar (perbankan & tembakau)
- Prajogo Pangestu — US$15 miliar (petrokimia & energi)
- Anthoni Salim — US$10,5 miliar (diversifikasi, Indofood)
- Tahir & Family — US$9,2 miliar (diversifikasi, Mayapada)
- Sri Prakash Lohia — US$8,6 miliar (petrokimia, Indorama)
- Otto Toto Sugiri — US$8 miliar (pusat data, DCI Indonesia)
- Marina Budiman — US$5,7 miliar (pusat data)
- Theodore Rachmat — US$4,6 miliar (diversifikasi)
- Lim Hariyanto Wijaya Sarwono — US$4,5 miliar (sawit & tambang)
Perlu diingat, angka Forbes bersifat real-time — nilainya bergerak mengikuti harga saham setiap hari. Karena itu urutan di atas bisa bergeser lagi kapan saja, terutama di tengah volatilitas seperti pekan lalu.
Kenapa Peringatan MSCI Seganas Itu?
MSCI (Morgan Stanley Capital International) adalah penyedia indeks global yang menjadi acuan manajer dana di seluruh dunia. Pekan lalu, MSCI menyatakan sedang mempertimbangkan mengklasifikasikan ulang pasar saham Indonesia dari emerging market (pasar berkembang) menjadi standalone market (pasar mandiri) — status yang lebih rendah dan berpotensi mendepak saham-saham Indonesia dari indeks-indeks utama global.
MSCI menyoroti keterbukaan informasi kepemilikan saham yang dinilai belum memadai untuk mengidentifikasi pemilik sebenarnya perusahaan terbuka, plus kekhawatiran soal transparansi dan risiko aktivitas perdagangan yang tidak semestinya. Kepemilikan sejumlah emiten masih terkonsentrasi pada pendiri, keluarga, atau grup konglomerasi, sehingga porsi saham yang benar-benar diperdagangkan publik relatif terbatas.
Begitu peringatan itu keluar, investor asing ramai-ramai melepas saham. IHSG anjlok 11,6% pada Jumat (16/10), lalu turun lagi 3,6% pada Senin (19/10). Dua hari itu tercatat sebagai penurunan terburuk dalam sejarah IHSG.
Pasar Mulai Bangkit — Tapi Waspada
Kabar baiknya, pasar mulai menemukan pijakan. Pada perdagangan Kamis (22/10), IHSG menguat 1,31% ke 5.398,07, dan pada sesi pertama Jumat (23/10) ini indeks melanjutkan reli ke 5.446,74 — penguatan empat sesi beruntun yang ditopang saham energi, perbankan, dan infrastruktur.
BEI juga merespons dengan langkah reformasi: mulai 2 November 2026, saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration) akan dikecualikan dari perhitungan indeks komposit — menjawab langsung kritik MSCI soal transparansi kepemilikan.
Namun analis mengingatkan, pemulihan ini masih rapuh. Nasib klasifikasi MSCI belum final, arus modal asing masih fluktuatif, dan kekayaan para konglomerat di atas bisa kembali tergerus bila sentimen berbalik. Bagi investor ritel, pelajarannya jelas: diversifikasi dan jangan panik mengikuti arus jual massal.
Baca juga analisis terkait: IHSG anjlok 8% hingga trading halt imbas MSCI dan BCA buyback saham di tengah volatilitas pasar.
FAQ
Siapa orang terkaya Indonesia per Oktober 2026?
Versi Forbes real-time: Low Tuck Kwong (US$16,5 miliar), disusul R. Budi Hartono (US$15,2 miliar) dan Prajogo Pangestu (US$15 miliar). Angka bergerak harian mengikuti harga saham.
Kenapa kekayaan tiga konglomerat turun Rp106 triliun?
Aksi jual massal saham pada 16 dan 19 Oktober 2026 setelah MSCI memperingatkan kemungkinan menurunkan klasifikasi pasar Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Budi Hartono kehilangan US$3,1 miliar, Prajogo Pangestu US$2,2 miliar, Low Tuck Kwong US$600 juta.
Apa itu standalone market versi MSCI?
Klasifikasi di bawah emerging market untuk pasar yang dinilai belum memenuhi standar keterbukaan dan aksesibilitas investor global. Status ini bisa membuat saham suatu negara dikeluarkan dari indeks-indeks utama MSCI.
Apakah IHSG sudah pulih?
Sebagian. IHSG menguat empat sesi beruntun hingga 5.446,74 pada sesi I Jumat (23/10). Namun analis menilai pemulihan masih rapuh selama keputusan final MSCI belum keluar.
Sumber: aspek.id, cirebontimes.com (mengutip Reuters & Forbes), kalderanews.com, mediaasuransinews.co.id (diakses 23 Oktober 2026).




