PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali membeli sahamnya sendiri. Buyback saham BCA digelar selama tiga hari, 19–21 Oktober 2026, tepat ketika harga saham BBCA terjun bebas dan dua kali menyentuh batas auto reject bawah (ARB) dalam sepekan terakhir.
Manajemen BCA mengumumkan langkah itu lewat keterangan resmi kepada Kontan pada Senin (19/10/2026). "BCA kembali melaksanakan program buyback saham perseroan pada tanggal 19–21 Oktober 2026," tulis manajemen, seperti dikutip sejumlah media ekonomi nasional.
Kenapa BCA buyback saham sekarang?
Jawabannya: tekanan jual yang brutal. Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), saham BBCA anjlok 14,81 persen ke Rp5.175 per saham dan menyentuh ARB, dengan aksi jual bersih (net sell) investor asing lebih dari Rp2,3 triliun dalam sehari.
Tekanan berlanjut pada Senin (19/10/2026). BBCA kembali ambruk 6,86 persen ke Rp4.820 per saham dan kembali menyentuh ARB — kali ini batas ARB 7 persen yang baru diberlakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai hari yang sama hingga 31 Desember 2026.
Sentimen negatifnya datang dari rencana MSCI yang membuka konsultasi perubahan klasifikasi pasar Indonesia, dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Kabar itu memicu gelombang jual asing di saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk BBCA.
Dalam rentang yang lebih panjang, koreksinya sudah lama berjalan: sejak awal 2026 saham BBCA terkoreksi 40,31 persen, dan dalam lima tahun terakhir harganya anjlok 35,95 persen. Tekanan itu turut menyeret IHSG dan menekan rupiah di tengah arus modal keluar.
Rincian program buyback BCA
Aksi kali ini bukan gerakan dadakan. Program pembelian kembali saham BBCA sudah disahkan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 pada 12 Maret 2026, dengan alokasi dana maksimal Rp5 triliun untuk periode 12 bulan, 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027.
BCA juga sudah merealisasikan sebagian program itu pada April dan Juni 2026. Artinya, buyback 19–21 Oktober adalah tahap lanjutan dari program yang sama — bukan program baru.
Di sisi lain, Corporate Secretary BCA Rudy Budiardjo pernah menyebut perseroan merealisasikan buyback sekitar Rp3,5 triliun sejak program serupa tahun lalu, dan tahun ini masih menyiapkan program hingga Rp5 triliun. Pelaksanaan buyback disebut selalu mempertimbangkan kondisi pasar.
Apa kata manajemen BCA
Manajemen menegaskan buyback mencerminkan keyakinan terhadap fundamental bisnis perseroan sekaligus mendukung stabilisasi pasar modal Indonesia. "Buy-back saham ini merupakan wujud keyakinan atas fundamental bisnis perseroan sekaligus untuk mendukung stabilisasi pasar modal Indonesia," demikian pernyataan resmi BCA.
Manajemen juga memastikan langkah ini tidak mengganggu operasional. "Pelaksanaan buyback ini tidak memiliki dampak material bagi kinerja keuangan dan kegiatan usaha perseroan. Manajemen BCA akan senantiasa memperhatikan dinamika pasar dalam pelaksanaan buyback," tulisnya.
Apa artinya bagi investor? (Analisis redaksi)
Buyback adalah sinyal klasik: manajemen menilai sahamnya diperdagangkan di bawah nilai wajar, sehingga membeli kembali adalah penggunaan kas yang masuk akal. Aksi ini juga mengurangi jumlah saham beredar, yang secara teori menopang harga.
Tapi sinyal bukan jaminan. Pada Senin (19/10), nilai transaksi BBCA justru menembus Rp1,47 triliun dengan net buy Rp994,2 miliar — pasar tetap sibuk, tapi harga tetap mentok di batas ARB. Selama sentimen MSCI belum jelas, tekanan eksternal bisa terus menutupi efek buyback.
Pengusaha Jusuf Hamka — yang juga duduk di Dewan Pertimbangan Presiden — sempat menyebut BBCA sebagai salah satu saham yang menarik dibeli saat IHSG turun lebih dari 10 persen dalam sehari. Itu pendapat satu pihak, bukan rekomendasi. Investor ritel tetap perlu menimbang profil risikonya sendiri.
FAQ
Apa itu buyback saham?
Pembelian kembali saham oleh perusahaan dari pasar. Langkah ini mengurangi jumlah saham beredar dan biasanya dipandang sebagai sinyal manajemen bahwa harga sahamnya murah.
Berapa besar dana buyback BCA?
Maksimal Rp5 triliun, sesuai keputusan RUPST 12 Maret 2026. Programnya berjalan 12 bulan, dari 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027.
Kenapa saham BBCA anjlok tajam?
Pemicu utamanya adalah sentimen rencana MSCI mengonsultasikan reklasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, yang memicu aksi jual besar investor asing.
Apakah buyback pasti membuat harga saham naik?
Tidak selalu. Buyback bisa menahan tekanan jual, tetapi selama sentimen negatif dari level global belum mereda, harga saham tetap bisa tertekan. Keputusan investasi ada di tangan masing-masing investor.
Sumber
- FORTUNE Indonesia — "BCA Buyback Saham pada 19–21 Oktober 2026, Siapkan Rp5 Triliun" (fortuneidn.com)
- IDNFinancials — "Disinggung Jusuf Hamka, BCA lanjutkan buyback usai harga saham jatuh" (idnfinancials.com)
- Industry.co.id — "BCA Lanjut Buyback Saham 19-21 Oktober 2026, Ini Tujuannya" (industry.co.id)
Tanggal akses: 21 Oktober 2026. Artikel diterbitkan: 21 Oktober 2026.




