Persaingan mobil listrik di Indonesia makin panas. Produsen asal China, Geely Auto Indonesia, mencatatkan lonjakan penjualan yang luar biasa: tumbuh hingga 900 persen. Perusahaan itu kini menargetkan penjualan 20.000 unit sepanjang 2026.
Angka tersebut dilaporkan CNBC Indonesia dan menjadi gambaran betapa agresifnya pabrikan China menggarap pasar kendaraan listrik Tanah Air. Bukan cuma Geely, sejumlah merek China lain juga berlomba-lomba menghadirkan model baru dengan harga yang makin terjangkau.
Kenapa mobil listrik China bisa melesat?
Ada beberapa alasan di balik laju kencang ini. Pertama, harga. Mobil listrik China umumnya dipasarkan dengan banderol yang lebih bersahabat dibandingkan merek Jepang atau Eropa di kelas yang sama, tapi dengan fitur yang tidak kalah lengkap.
Kedua, pilihan model yang makin banyak. Dari city car listrik sampai SUV keluarga, konsumen Indonesia kini punya banyak opsi. Ketiga, dukungan insentif pemerintah untuk kendaraan listrik, termasuk keringanan pajak, membuat harga jual makin kompetitif.
Keempat, jaringan pengisian daya yang terus bertambah. Kekhawatiran soal kehabisan baterai di jalan perlahan berkurang seiring bertambahnya stasiun pengisian di kota-kota besar.
Apa artinya buat konsumen Indonesia?
Buat pembeli, serbuan ini jelas menguntungkan. Persaingan yang ketat memaksa semua merek berlomba memberi nilai lebih: baterai lebih besar, fitur keselamatan lebih lengkap, sampai garansi yang lebih panjang.
Namun ada sisi lain yang perlu diperhatikan. Pertumbuhan penjualan yang sangat cepat tidak selalu sejalan dengan kesiapan layanan purna jual. Ketersediaan suku cadang, bengkel resmi, dan nilai jual kembali menjadi hal yang patut dicek sebelum memutuskan membeli, apa pun mereknya.
Calon pembeli juga perlu memperhatikan garansi baterai, karena baterai adalah komponen termahal pada mobil listrik. Masa garansi dan ketentuan klaimnya berbeda-beda antar merek.
Persaingan dagang yang makin ketat
Lonjakan Geely juga mencerminkan pergeseran besar di industri otomotif. Pabrikan China tidak lagi dipandang sebelah mata. Mereka datang dengan teknologi baterai yang matang, produksi massal yang efisien, dan strategi harga yang agresif.
Bagi pabrikan lama, ini adalah tekanan nyata. Bagi Indonesia, ini peluang sekaligus tantangan: investasi dan lapangan kerja dari pabrik perakitan bisa tumbuh, tapi industri komponen lokal harus mampu mengejar.
Yang jelas, peta persaingan mobil listrik Indonesia pada 2026 sudah berubah. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah mobil listrik China akan besar di Indonesia, melainkan seberapa cepat mereka mengambil alih pasar.
Baca juga: AI Urus Izin, yang Semula Seminggu Jadi Sehari
FAQ
Berapa pertumbuhan penjualan Geely di Indonesia?
Penjualan Geely Auto Indonesia dilaporkan melonjak hingga 900 persen, dengan target 20.000 unit pada 2026.
Kenapa mobil listrik China laris di Indonesia?
Harga kompetitif, pilihan model yang banyak, insentif pemerintah, dan jaringan pengisian daya yang terus bertambah.
Apa yang perlu dicek sebelum membeli mobil listrik?
Garansi baterai, ketersediaan suku cadang dan bengkel resmi, serta nilai jual kembali kendaraan.
Sumber: CNBC Indonesia via Zona Utara. Diakses 5 November 2026.





