Frugal living dulu terdengar seperti pilihan gaya hidup: hemat karena ingin, bukan karena harus. Pada 2026, ceritanya berubah. Bagi banyak keluarga Indonesia, berhemat kini menjadi strategi bertahan, bukan sekadar tren media sosial.
Angkanya menjelaskan kenapa. Rata-rata upah buruh nasional hanya naik dari Rp3,27 juta pada Agustus 2024 menjadi Rp3,33 juta pada Agustus 2025, lalu ke Rp3,39 juta pada Mei 2026. Kenaikannya 1,94 persen dalam setahun pertama, jauh di bawah inflasi September 2026 yang mencapai 3,28 persen secara tahunan, dengan inflasi pangan bergejolak (volatile food) melambung sampai 5,03 persen. Ketika harga kebutuhan pokok naik lebih cepat daripada upah, dompet terasa makin tipis meski nominal gaji bertambah.
Kenapa orang makin selektif belanja?
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menggambarkan perubahan itu dengan lugas: konsumen makin selektif, belanja non-esensial ditunda, diskon dicari, ukuran pembelian diperkecil, dan dana lebih banyak disimpan sebagai bantalan. Ia menilai fenomena ini punya dua sisi: evolusi preferensi konsumen, sekaligus cerminan penurunan daya beli riil.
Data keyakinan konsumen memperkuat gambaran itu. Indeks Keyakinan Konsumen pada September 2026 masih berada di zona optimis, 118,1, tetapi Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini turun ke 107,5. Artinya, masyarakat belum kehilangan kepercayaan, tetapi semakin hati-hati menghadapi biaya hidup dan ketidakpastian pendapatan.
Di sisi makro, Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, mengingatkan bahwa konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 53 hingga 57 persen terhadap Produk Domestik Bruto. Pada kuartal II 2026, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06 persen dengan kontribusi 53,32 persen terhadap PDB, turun dari 54,36 persen pada kuartal I. Kalau banyak rumah tangga serentak menunda belanja, dampaknya terasa sampai ke pertumbuhan ekonomi. Tetapi bagi keluarga, prioritasnya tetap satu: bertahan dulu, baru bicara soal gaya.
7 cara frugal living yang realistis
1. Buat daftar belanja dan patuhi. Belanja tanpa daftar adalah undangan untuk belanja impulsif. Tulis kebutuhan seminggu, beli sesuai daftar, dan hindari lorong yang tidak ada di daftar. Kebiasaan sederhana ini sering memangkas belanja lebih besar daripada kupon diskon mana pun.
2. Turunkan ukuran, bukan kualitas gizi. Ketika harga pangan bergejolak naik 5,03 persen, mengganti merek premium dengan merek yang setara, atau membeli dalam kemasan lebih kecil, jauh lebih masuk akal daripada memangkas lauk. Prioritaskan protein dan sayur, kurangi camilan kemasan yang harganya naik diam-diam.
3. Perpanjang umur barang. Salah satu ciri frugal living 2026 adalah memperpanjang siklus penggantian barang: ponsel dipakai sampai benar-benar rusak, sepatu diperbaiki dulu sebelum diganti, pakaian dirawat agar awet. Ini bukan pelit, ini matematika: setiap pembelian yang ditunda setahun adalah uang yang tetap di rekening.
4. Pisahkan dana darurat sejak gajian. Jangan menunggu sisa akhir bulan, karena biasanya tidak bersisa. Sisihkan di awal, meski kecil, ke rekening terpisah. Dana inilah yang dimaksud para ekonom sebagai "buffer": bantalan ketika harga naik mendadak atau pendapatan tersendat.
5. Berburu diskon dengan aturan. Diskon hanya hemat kalau barangnya memang dibutuhkan. Buat aturan pribadi: diskon boleh dipakai untuk barang yang sudah ada di daftar kebutuhan tiga bulan ke depan. Selain itu, lewati saja, betapa pun besar potongannya.
6. Hitung biaya langganan setiap bulan. Langganan streaming, aplikasi, dan keanggotaan yang jarang dipakai adalah kebocoran paling senyap. Luangkan 15 menit sebulan untuk mengeceknya, dan hentikan yang sudah tiga bulan tidak dibuka.
7. Masak lebih sering, jajan lebih terencana. Bukan berarti tidak boleh jajan sama sekali. Jadwalkan, misalnya dua kali seminggu, dan nikmati tanpa rasa bersalah. Frugal living yang bertahan lama adalah yang masih menyisakan ruang untuk senang-senang, bukan yang membuat hidup terasa seperti hukuman.
Frugal living bukan berarti berhenti hidup
Kesalahan terbesar dalam memahami frugal living adalah menganggapnya identik dengan hidup serba kekurangan. Padahal intinya adalah selektivitas: membedakan mana pengeluaran yang benar-benar memberi nilai, dan mana yang hanya kebiasaan. Orang yang frugal tetap bisa nongkrong, tetap bisa liburan, dan tetap bisa membeli barang bagus, tetapi dengan keputusan yang sadar, bukan impulsif.
Bedakan juga frugal living dengan downgrade lifestyle yang sempat ramai dibahas: kalau downgrade lifestyle menekankan penurunan standar hidup secara sadar, frugal living menekankan pengelolaan uang yang cermat tanpa harus merasa turun kelas. Keduanya beririsan, tetapi frugal living lebih fleksibel diterapkan sehari-hari. Untuk memahami kenapa harga kebutuhan terasa makin berat, baca juga dampak inflasi pangan 5 persen terhadap harga kebutuhan.
FAQ: Frugal Living 2026
Apa itu frugal living? Gaya hidup hemat yang menekankan pengeluaran sadar: menunda belanja non-esensial, mencari diskon, memperkecil ukuran pembelian, dan menyimpan dana sebagai bantalan keuangan.
Kenapa frugal living ramai lagi pada 2026? Karena upah naik lebih lambat daripada inflasi. Upah buruh rata-rata naik 1,94 persen dari Agustus 2024 ke Agustus 2025, sementara inflasi September 2026 mencapai 3,28 persen dan inflasi pangan bergejolak 5,03 persen.
Apakah frugal living sama dengan pelit? Tidak. Frugal living adalah selektivitas: tetap membelanjakan uang untuk hal yang bernilai, dan memangkas yang tidak memberi nilai.
Berapa dana darurat yang ideal? Besarnya tergantung tanggungan dan kestabilan pendapatan, tetapi yang terpenting adalah memulainya: sisihkan di awal gajian, meski kecil, ke rekening terpisah.
Apakah gaya hidup hemat bisa menekan ekonomi? Menurut para ekonom, bila dilakukan serentak dalam skala besar tanpa diimbangi investasi dan belanja pemerintah, perlambatan konsumsi bisa menahan laju pertumbuhan. Tetapi bagi rumah tangga, menjaga arus kas tetap menjadi prioritas pertama.
Sumber: Liputan6.com melalui Beritahoki, "Tren Frugal Living di Tengah Himpitan Ekonomi" (beritahoki.com); Kompas.com melalui SuaraGarut, "Gaya Hidup Hemat Berpotensi Menekan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia" (suaragarut.id); BPS, Berita Resmi Statistik No. 94/10/Th. XXIX, 1 Oktober 2026 (inflasi September 2026: 3,28 persen y-on-y, pangan bergejolak 5,03 persen). Diakses 27 Oktober 2026.




