Laporan e-Conomy SEA 2026 membawa kabar yang terdengar menggembirakan sekaligus mengingatkan: nilai ekonomi digital Asia Tenggara diproyeksikan mencapai US$368 miliar pada 2026, naik 17 persen dibanding tahun sebelumnya. Kecerdasan buatan (AI) disebut sebagai pendorong utama di balik angka itu. Namun di balik adopsi yang melesat, laporan yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company ini menemukan jurang yang belum tertutup: orang Asia Tenggara sudah ramai memakai AI, tapi belum memakainya sedalam pengguna di Amerika Serikat.

Laporan edisi ke-11 ini, bertajuk Building the Intelligent Economy, dirilis pada 21 Oktober 2026 dan mencakup sepuluh negara Asia Tenggara. Pengukurannya memakai nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV), yakni total nilai barang dan jasa yang berpindah lewat platform digital sebelum dipotong komisi. Aktivitas ekonomi digital di kota Asia Tenggara

E-commerce Masih Jadi Mesin Terbesar

Sektor perdagangan elektronik tetap menjadi penopang utama. GMV e-commerce diproyeksikan mencapai US$226 miliar pada 2026, naik 18 persen secara tahunan. Angka ini berarti lebih dari tiga perlima total ekonomi digital kawasan masih berasal dari belanja daring.

Di belakangnya, layanan keuangan digital menunjukkan skala yang tak kalah besar. Nilai transaksi bruto sektor ini diproyeksikan mencapai US$1,65 triliun, naik 16 persen, dengan saldo pinjaman digital tumbuh 22 persen menjadi US$116 miliar. Media daring pun tumbuh paling kencang secara persentase: pendapatannya diproyeksikan US$44 miliar, naik 22 persen dari US$36 miliar pada 2025.

Proyeksi jangka panjangnya lebih ambisius lagi. Laporan ini menempatkan kawasan pada jalur menembus US$1 triliun pada 2035, dengan catatan kondisi makroekonomi tetap mendukung. Dana Moneter Internasional (IMF) dalam proyeksi Oktober memperkirakan ekonomi ASEAN tumbuh 4,9 persen pada 2026 dan 4,7 persen pada 2027.

243 Juta Pengguna AI, Tapi Pemakaian Masih Dangkal

Bagian paling menarik dari laporan tahun ini justru bukan angka GMV-nya, melainkan potret adopsi AI generatif. Sebanyak 243 juta orang di enam pasar terbesar kawasan sudah memakai AI generatif, setara 58 persen populasi pekerja. Kecepatan penyebarannya diklaim empat kali lebih cepat daripada penyebaran internet seluler, tercapai dalam waktu kurang dari tiga tahun.

Tapi laporan ini memperkenalkan tolok ukur baru, yakni jumlah token yang dipakai, semacam satuan untuk mengukur seberapa dalam AI benar-benar digunakan. Hasilnya: pemakaian per kapita di Asia Tenggara baru sekitar sepersepuluh level Amerika Serikat. Hanya 1 sampai 2 persen pengguna di kawasan yang membayar layanan AI, berbanding sekitar 3 persen rumah tangga di AS.

Dengan kata lain, AI sudah dikenal luas, tetapi sebagian besar pemakaiannya masih sebatas pencarian sederhana dan tugas ringan, belum bergeser ke pendelegasian pekerjaan kompleks kepada agen AI. Laporan ini memproyeksikan pemakaian AI kawasan bisa melonjak hingga 60 kali lipat pada 2030 seiring pergeseran tersebut. Mitra Bain & Company, Florian Hoppe, menilai fase pertumbuhan berikutnya bergantung pada menutup kesenjangan antara adopsi dan kedalaman pemakaian ini.

Apa Artinya Bagi Indonesia?

Indonesia termasuk pasar yang dicakup laporan ini, dan pola kawasan ini relevan dengan keseharian warganya: belanja daring, pembayaran digital, hingga pinjaman daring sudah menjadi rutinitas. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI dipakai, melainkan apakah pemakaian itu menghasilkan nilai ekonomi nyata, misalnya lewat pelaku usaha yang memakai AI untuk menaikkan penjualan atau pekerja yang memakainya untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Aktivitas ekonomi digital di kota Asia Tenggara

Di sisi kebijakan, laporan ini juga menyoroti ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA), perjanjian perdagangan digital kawasan yang dijadwalkan rampung pada November 2026 dan disebut sebagai pakta perdagangan digital regional pertama di dunia. Jika terealisasi, kerangka ini bisa mempermudah arus perdagangan digital lintas negara di kawasan.

Sebagai catatan, laporan ini juga mencatat 62 persen pengguna di Asia Tenggara merasa lebih percaya terhadap AI dibanding tahun sebelumnya. Kepercayaan tumbuh, adopsi melesat, tetapi kedalaman pemakaian masih tertinggal. Di situlah letak pekerjaan rumah kawasan ini, termasuk Indonesia, untuk beberapa tahun ke depan. Pembaca yang ingin melihat arah kebijakan AI di dalam negeri bisa membaca artikel Klik Fakta tentang prioritas sovereign AI Indonesia.

FAQ

Apa itu laporan e-Conomy SEA?

Laporan tahunan tentang ekonomi digital Asia Tenggara yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company. Edisi 2026 adalah edisi ke-11 dan dirilis pada 21 Oktober 2026.

Berapa nilai ekonomi digital Asia Tenggara pada 2026?

Diproyeksikan US$368 miliar dalam GMV, naik 17 persen dibanding 2025, dengan jalur menuju US$1 triliun pada 2035. Aktivitas ekonomi digital di kota Asia Tenggara

Berapa banyak orang Asia Tenggara yang memakai AI generatif?

Sebanyak 243 juta orang di enam pasar terbesar, setara 58 persen populasi pekerja di kawasan.

Mengapa laporan menyebut pemakaian AI masih tertinggal?

Karena pemakaian per kapita, diukur dalam token, baru sekitar sepersepuluh level Amerika Serikat, dan hanya 1-2 persen pengguna yang membayar layanan AI.

Sumber: TNGlobal; CRN Asia; IDNFinancials. Diakses 2 November 2026.