Ribuan mahasiswa turun ke jalan hari ini. Demo 20 Oktober 2026 yang digelar Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Sadar) bertepatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka — dan kali ini ada yang berbeda: mahasiswa sengaja melepas almamaternya.
Aksi digelar dalam dua rangkaian. Pagi pukul 09.00 WIB, aksi simbolik berlangsung di Tugu Proklamasi, Menteng. Siangnya pukul 15.00 WIB, aksi massa dilanjutkan di Tugu Tani, Jakarta Pusat.
Aliansinya lintas kampus: BEM Universitas Indonesia, Keluarga Mahasiswa ITB, mahasiswa Universitas Padjadjaran, BEM Universitas Diponegoro, BEM Universitas Negeri Semarang, Sema UGM, BEM UPN Veteran Yogyakarta, BEM Universitas Airlangga, dan Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya.
Melepas Almamater: Simbol Inklusivitas
Momen yang paling mencuri perhatian justru keputusan mahasiswa untuk tidak mengenakan jas almamater. Koordinator Sosial dan Politik BEM UI, Hafidz Hernanda, menyebut langkah itu disengaja agar aksi lebih inklusif — mahasiswa ingin membaur dengan masyarakat sipil tanpa menjadikan identitas kampus sebagai pembeda.
"Kali ini kawan-kawan dari BEM UI akan mengadakan aksi tidak menggunakan almamater sama sekali bersama dengan teman-teman mahasiswa agar kita bisa lebih inklusif dan bisa lebih membaur dengan masyarakat sipil," ujar Hafidz di Tugu Proklamasi.
Ia menegaskan penyampaian aspirasi tidak seharusnya menjadi tanggung jawab mahasiswa semata. Masyarakat luas, katanya, juga punya peran menyuarakan persoalan yang mereka hadapi.
Panitia memperkirakan 500 hingga 700 orang mengikuti aksi, termasuk perwakilan mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dari Kalimantan Selatan. Mereka sengaja diundang sebagai saksi hidup dampak karhutla. "Merekalah sebenarnya perwakilan dari Kalimantan yang merasakan sesaknya napas akibat karhutla," tutur Hafidz.
Lima Tuntutan Komite Sadar
Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan (Athof) menyebut aksi ini lahir dari kekecewaan mendalam, bukan sekadar evaluasi rutin. Tuntutannya disusun berdasarkan survei terhadap 560 responden dari Sumatra hingga Papua, yang hasilnya: 78,8 persen menilai pemerintahan Prabowo-Gibran gagal.
Berikut lima tuntutan utama Komite Sadar:
- Tetapkan karhutla dan banjir sebagai bencana nasional — sertai pemulihan kesehatan warga terdampak, penindakan terhadap korporasi yang bertanggung jawab, dan pencabutan izin perusahaan terkait.
- Perbaiki tata kelola kebijakan ekonomi — dan pulihkan kepercayaan pasar yang sempat terguncang.
- Hentikan pembatasan kebebasan berpendapat — jaminan demokrasi bagi seluruh warga.
- Berantas korupsi, kolusi, dan nepotisme — perkuat pemberantasan korupsi dan penindakan penyalahgunaan kekuasaan.
- Turunkan biaya pendidikan, kesehatan, dan layanan publik — dengan akses yang lebih merata bagi masyarakat.
Angka-angka surveinya menarik. Isu deforestasi dan kebakaran hutan mendapat perhatian terbesar: 83,5 persen. Sembako mahal 71,1 persen, korupsi 70,6 persen, biaya pendidikan 67,4 persen, pembatasan kebebasan berpendapat 62,7 persen, dan perbaikan sektor ekonomi-keuangan 41,6 persen.
Hafidz juga menegaskan mereka menyerahkan surat pemberitahuan kepada kepolisian — bukan permohonan izin. "Karena aksi dan demonstrasi itu merupakan hak kita sebagai rakyat Indonesia," tegasnya.
Rekayasa Lalu Lintas dan Agenda Berikutnya
Polda Metro Jaya menerapkan rekayasa lalu lintas situasional di sejumlah ruas: Medan Merdeka Selatan, Sudirman (ruas Bundaran HI–Dukuh Atas), dan Gatot Subroto depan Gedung MPR/DPR. Pengguna jalan diminta menghindari kawasan aksi bila tidak mendesak. Kelompok buruh KSPSI dan KBPBI memastikan tidak ikut turun hari ini.
Yang perlu dicatat: aksi 20 Oktober ini bukan puncaknya. Hafidz menyebut Komite Sadar menyiapkan aksi lanjutan dengan skala lebih besar pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda.
"Untuk tanggal 28 itu tepat kepada Sumpah Pemuda. Jadi kita menyerukan juga suara-suara generasi muda yang memang saat ini merasa sudah tertindas dan sudah cukup," tutupnya.
Baca juga: Survei SMRC: Kepuasan Publik terhadap Prabowo 44 Persen dan Rapat Kabinet Prabowo di Istana Bogor.
FAQ
Siapa yang menggelar demo 20 Oktober 2026?
Komite Selamatkan Daulat Rakyat (Sadar) — aliansi mahasiswa dari UI, ITB, Unpad, Undip, UNNES, UGM, UPN Veteran Yogyakarta, Unair, dan Universitas Brawijaya, dipimpin BEM UI.
Apa saja lima tuntutannya?
Menetapkan karhutla dan banjir sebagai bencana nasional; memperbaiki tata kelola ekonomi; menghentikan pembatasan kebebasan berpendapat; memberantas KKN; menurunkan biaya pendidikan, kesehatan, dan layanan publik.
Di mana dan kapan aksi berlangsung?
Aksi simbolik pukul 09.00 WIB di Tugu Proklamasi, dilanjutkan aksi massa pukul 15.00 WIB di Tugu Tani, Jakarta Pusat.
Apakah akan ada aksi lanjutan?
Ya. Komite Sadar menjadwalkan aksi berskala lebih besar pada 28 Oktober 2026 bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.
Sumber
- Berita Menit — Mahasiswa Gelar Aksi Dua Tahun Prabowo-Gibran di Tugu Proklamasi dan Tugu Tani, Ini 5 Tuntutannya (20/10/2026)
- MercuSwara — Demo Mahasiswa Dua Tahun Prabowo-Gibran Digelar Hari Ini di Tugu Proklamasi dan Tugu Tani (20/10/2026)
- Harian Basis — BEM UI Lepas Almamater Saat Demo Dua Tahun Prabowo-Gibran (20/10/2026)
- Kebaruan — Demo Hari Ini di Jakarta: Lokasi, Tuntutan, dan Rute Alternatif (20/10/2026)
- Viv.co.id — BEM UI Demo Dua Tahun Prabowo Gibran Soroti Sembako Mahal (20/10/2026)




